#BahagiadiRumah : Sebab Rumahku Bukan Rumah Siput

“Binatang apa yang paling kaya?”
“Enggak tahu.”
“Siput.”
“Siput? Kok bisa jadi binatang paling kaya?”
“Sebab sejak kecil sudah punya rumah sendiri!”

— sebuah teka-teki di masa kecil —

*****

rumah siput
Bahagia. Bahagia adalah pilihan. Mau atau tidak. Sekarang atau nanti. Jika mau bahagia, maka sekarang adalah saatnya. Tanpa ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Sebab jika mau bahagia jika sudah begini dan begitu atau kalau sudah memiliki ini dan itu, maka belum ada kebahagiaan di dalam diri saat ini.

Cara untuk bisa merasakan kebahagiaan adalah dengan bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini. Bagi saya, salah satu langkah untuk bisa bersyukur adalah dengan membandingkan beberapa kondisi saya saat ini yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi saya sebelum-sebelumnya. Bisa juga dengan membandingkan kondisi saya saat ini yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi orang-orang atau kondisi lingkungan di sekitar saya.

Untuk bisa merasakan #BahagiadiRumah, saya harus mensyukuri rumah yang saat ini sudah saya miliki. Bagaimana caranya? Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, saya akan membandingkan rumah saya dengan rumah yang lain. Kali ini saya akan membandingkan rumah saya dengan rumah yang dimiliki oleh siput yang mendapat julukan binatang paling kaya menurut teman-teman saya di masa kecil.

..:: Rumah yang dibawa-bawa dan rumah yang dapat ditinggal

Saya tak bisa membayangkan betapa beratnya beban sebuah rumah yang selalu dibawa-bawa oleh siput ke manapun dirinya pergi. Mungkin karena beratnya rumah tersebut, gerakan siput menjadi lambat dan tak bisa bergerak dengan cepat. Jika siput memaksanakan diri untuk meninggalkan rumahnya, hal tersebut akan menyebabkan dirinya mengalami kehilangan. Ia bisa kehilangan nyawanya atau kehilangan rumahnya.

Sedangkan rumah saya, tak perlu saya membawanya ke mana-mana. Saya bisa tenang meninggalkan rumah untuk bekerja dan beraktifitas di luar rumah tanpa perlu takut kehilangan. Saya tak perlu kahwatir rumah saya akan diambil orang atau saya akan celaka ketika meninggalkan rumah.

Perbandingan di atas menjadikan saya lebih bahagia dibandingkan siput.

..:: Rumah yang diberi dan rumah yang dibeli

Siput mungkin tak pernah mengalami kondisi di mana dirinya tidak memiliki rumah. Atau mungkin pernah, namun waktunya tak pernah lama. Sementara saya, butuh waktu sangat lama untuk memiliki sebuah rumah. Apalagi harga rumah akan selalu naik dari waktu ke waktu. Untuk mendapatkannya saya harus menabung dahulu atau membelinya dengan mencicil.

Saya pernah membangun sebuah rumah. Namuan di suatu masa, saya menghadapi sebuah kondisi yang menyebabkan rumah tersebut harus dijual. Saya tak lagi memiliki rumah. Alhamdulillah, beberapa tahun kemudian, saya bisa memiliki sebuah rumah kembali. Tentu saja, pembayarannya tidak bisa sekaligus. Saya mencicilnya selama beberapa tahun. Dan ketika hutang itu lunas, rasanya sungguh luar biasa.

Apa yang saya rasakan tak pernah dirasakan siput. Karenanya, saya merasa lebih #BahagiadiRumah yang saya dapatkan dengan usah dan keringat saya sendiri.

..:: Tinggal sendirian dan tinggal dalam kebersamaan

Siput tinggal seorang diri di dalam rumahnya. Tak ada teman yang dapat diajak bicara. Tak ada pula kawan yang bisa diajak diskusi. Tak ada istri dan tak ada pula anak yang diajak bercanda dan bercengkerama. Tak ada pula tawa yang terdengar di dalamnya. Sepi. Sunyi.

Sementara di rumah yang saya miliki, saya tinggal bersama orang-orang yang saya sayangi dan menyayangi saya. Ada istri dan anak yang bisa menjadi kawan bicara dan teman diskusi. Ada canda dan tawa yang mengghiasi rumah sehingga suasana menjadi ceria dan penuh kehangatan.

Kebersamaan bersama istri dan anak menjadikan saya lebih #BahagiadiRumah dibandingkan siput yang tinggal dalam kesendirian di rumahnya.

..:: Yang tak diantar dan tak disambut dengan yang diantar dan yang disambut

Siput tak pernah meninggalkan rumahnya dan tinggal sendiri. Karenanya, ia tak pernah merasakan bagaimana diantar dan disambut dengan hangat oleh keluarganya. Sementara saya, merasakan itu semua.

Di pagi hari, ketika saya akan berangkat kerja, istri dan anak saya akan mengantar hingga ke pintu pagar. Kami saling mendoakan melalui salam. Saya mendoakan keselamatan bagi istri dan anak yang saya tinggal di rumah. Sementara istri dan anak saya mendoakan keselamatan bagi saya dalam perjalanan ke kantor, selama bekerja di kantor, dan perjalanan pulang kembali ke rumah.

Di sore hari, ketika saya pulang, istri dan anak saya menyambut hangat. Sambutan yang menjadi obat penawar lelah setelah seharian bekerja.

Jika demikian halnya, maka wajarlah jika saya lebih lebih #BahagiadiRumah dibandingkan siput.

..:: Yang rapi dan yang berantakan

Kondisi rumah siput mungkin tak pernah berantakan. Tak ada benda-benda yang letaknya berserakan di dalamnya. Tetapi kondisi di rumah saya sering berantakan. Ketika pulang kerja, saya sering menemukan barang-barang yang tergeletak di lantai atau diletakkan bukan pada tempat yang seharusnya.

Namun kondisi itu tidak membuat saya marah. Saya justru merasakan sesuatu yang membahagiakan dan menyenangkan. Rumah yang berantakan menandakan bahwa anak saya sehat dan aktif bermain.

Kondisi seperti itulah yang terkadang memunculkan rasa #BahagiadiRumah di hati dan pikiran saya.

Saya berharap, saya tetap memiliki rumah yang ada di tangan saya saat ini. Seandainya di suatu masa rumah tersebut harus berpindah tangan, semoga saja hal tersebut sebagai jalan pembuka bagi saya untuk mendapatkan rumah yang lebih baik. Yang pasti, saya memiliki rumah yang dapat berfungsi sebagai tempat berlindung yang kuat, sebagai tempat berkumpul yang hangat, sebagai tempat menjalin cinta dan kasih sayang agar semakin erat di antara sesama penghuninya. Yang terpenting lagi, saya dan keluarga kecil saya dapat tinggal dan hidup #BahagiaDiRumah dan menjadikannya sebagai surga kecil di dunia ini. Baytii jannatii. Rumahku surgaku.

 


Tulisan Terkait Lainnya :

18 thoughts on “#BahagiadiRumah : Sebab Rumahku Bukan Rumah Siput

  1. titintitan Mei 3, 2016 / 21:59

    Ini terakhir kpn mas? Lupa pdhl udh nyiriin mau nulis😀

    • jampang Mei 3, 2016 / 22:00

      Tanggal 31 mei mbak. Ayo ikutan😀

  2. titintitan Mei 3, 2016 / 22:11

    Sm yg tanggal tua tea mas, udh ikutan blm? Asa blm

      • titintitan Mei 4, 2016 / 06:28

        Ayo mamaak ikutaaan. Sekalikali lah ikut gepewei.😀

      • rayamakyus Mei 4, 2016 / 07:50

        saya beloom poenyah rumah T-T

      • titintitan Mei 4, 2016 / 08:05

        Ah, mamak gitu.

        Jgnkan rumah, yg mau diajak patungan beli jg blm terbit sayah. Ntah hilalnya bs ditemui dimna kapan T.T

    • jampang Mei 4, 2016 / 09:16

      tanggal tua sepertinya lebih edkat deadlinenya, mbak…. tanggal 21 kalau nggak salah

  3. ayanapunya Mei 3, 2016 / 22:39

    Kirain cuma buat perempuan lombanya😀

    • jampang Mei 4, 2016 / 09:15

      apa iya yah? saya nggak baca keterangan gender seh di persyaratan…. atau jangan2 terlewat?😀

  4. zilko Mei 4, 2016 / 04:21

    Good luck buat kontesnya ya!😀

  5. rayamakyus Mei 4, 2016 / 05:56

    huhuhuhuhu.. bahagianya memiliki rumah sendiri.

    • jampang Mei 4, 2016 / 09:14

      apa yang ada sekarang tetaplah harus disyukuri…. agar bisa bahagia. sebab bahagia tak harus menunggu punya rumah dulu😀

    • jampang Mei 4, 2016 / 10:00

      Rumahku… Istanaku… Surgaku😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s