Sampah

sampah
“Bang, sampah yang di dapur belum dikeluarin?” tanya Minyu sesaat setelah mendengar suara petugas pengangkut sampah melintas di depan rumah.

Di rumah, ada tiga tempat penampungan sampah. Yang pertama berupa tempat sampah kecil yang diletakkan di dalam kamar. Sampah yang disimpan sementara di dalamnya hanya berupa bekas tissu, cutton bud, dan sampah-sampah kecil lainnya. Yang kedua berupa keranjang sampah yang diletakkan di ruang keluarga. Sebagian besar sampah rumah tangga saya disimpan di dalamnya. Sedangkan yang terakhir hanya berupa kantong plastik yang digantungkan Minyu di dapur. Sampah-sampah di dalamnya berupa sampah dapur dari kegiatan memasak yang Minyu lakukan.

Pagi itu, saya lupa untuk mengeluarkan kantong sampah yang ada di dapur. Saya hanya mengeluarkan sampah di ruang keluarga dan menggantungkannya di pagar agar petugas pengangkut sampah mengambilnya ketika lewat depan rumah sesuai jadwal. Biasanya di pagi hari. Antara pukul lima sampai enam pagi.

“Ya udah, Abang keluarin aja sekarang!” jawab saya dengan enteng. Saya pikir akan lebih baik jika sampah itu diletakkan di luar rumah daripada masih tersimpan di dapur.

Namun, jawaban sekaligus usulan saya tersebut tidak disetujui oleh Minyu.

“Jangan sekarang! Nanti aja!” begitu ucap Minyu.

Kenapa? Apa salah jika meletakkan sampah di luar rumah seperti yang saya lakukan sebelumnya?

Saya tak mengatakan kalimat pertanyaan tersebut kepada Minyu. Tetapi, kalimat Minyu berikutnya seolah-olah memberikan jawaban dan penjelasan atas pertanyaan tersebut.

“Nggak enak sama tukang sampahnya. Nanti dikira ngerjain. Dia sudah mengambil sampah yang ada di depan rumah, tapi nanti lihat lagi ternyata masih ada.”

Sepertinya saya tidak sampai berpikiran seperti itu. Dan ternyata pemikiran seperti itu ada benarnya juga. Bisa jadi jika ada pengurus RT yang berkeliling dan mengawasi pekerjaan petugas pengangkut sampah dan mendapati masih ada sampah di rumah warga padahal sebelumnya sudah diangkat sesuai dengan jadwal, si petugas pengangkut sampah bisa kena semprot. Dianggap tidak mengerjakan tugasnya dengan baik.

Mungkin kondisi yang serupa ketika saya menginjak lantai yang baru saja dibersihkan oleh cleaning service dan yang bersangkutan masih bekerja di hadapan kita. Bisa jadi tidak ada keluhan atau umpatan yang keluar dari mulut cleaning service, tetapi di hatinya tak ada yang tahu. Mungkin akan lebih baik jika kita permisi kepada cleaning service sambil meminta maaf karena terpaksa harus mengotori lantai yang baru saja dibersihkannya. Bukan begitu?

 


Tulisan Terkait Lainnya :

10 thoughts on “Sampah

  1. titintitan Juni 14, 2016 / 09:37

    di kosan itu yg menjadi salah satu masalah adalah ngeluarin sampah 😀
    kalo dibiarin bisa berharihari didiemin aja

      • titintitan Juni 15, 2016 / 05:33

        Iya, kadang. Kdg sampah kering jg isinya jd g tll bau.

      • jampang Juni 15, 2016 / 06:12

        Kalau sisa makanan… Lama-lama jijik juga kalau ada makhluk hidup barunya 😀

  2. ira nuraini Juni 14, 2016 / 10:29

    di rumah saya tukang sampahnya malah angin2an…ga tau deh brp hari sekali ambil sampahnya.. blm lagi kl kita abis beres2 rumah yang bakalan sampahnya lbh bnyk dr biasanya, kadang ga skalian diangkut kecuali dikasih tmbhan duit baru deh diangkut smua… 😦

    • jampang Juni 15, 2016 / 05:11

      Kalau jumlah sampahnya nggak normal, bisa begitu juga mbak. Nggak mau ngangkut kecuali ngasih uang lagi

  3. zilko Juni 14, 2016 / 13:49

    Hehe, iya ya. Disini petugas pengangkut sampah datang seminggu sekali. Kalau suatu minggu aku kelupaan mengeluarkan sampah, ya mau nggak mau mesti nunggu sampai minggu selanjutnya deh…

    • jampang Juni 15, 2016 / 05:10

      Waduh… Lama banget kalau seminggu sekali

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s