Ikatan

Dari cerita sebelumnya di sini.

Sore itu, Zul merasakan kebahagian yang luar biasa di hatinya.

“Alhamdulillah!” Kalimat pujian itu beberapa kali terlontar dari mulutnya.

Zul memacu sepeda motornya untuk segera tiba di rumahnya. Tak sabar dirinya untuk menyampaikan kabar gembira yang baru di dapatnya kepada kedua orang tuanya, terutama sang ibu. Kabar bahwa kedua orang tua Sali merestui hubungan mereka.

—ooo0ooo—

ikatan
P
agi itu sangat cerah. Matahari yang baru setinggi tombak membagi sinarnya yang lembut kepada bumi. Kecerahan itu pula yang terpancar di wajah Zul yang sedang berjalan bersama Zul kecil di antara ayah dan ibunya, serta beberapa sanak saudara yang lain. Mereka berjalan menyusuri gang sempit menuju dua buah mobil yang sudah menunggu di ujung jalan. Pagi itu, Zul diantar oleh keluarganya untuk melamar Sali sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.

Setelah semua anggota keluarga masuk ke dalam mobil, perjalanan menuju rumah Sali pun dimulai bertepatan dengan jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit.

Arus lalu-lintas yang tidak begitu ramai saat itu, menjadikan perjalanan tersebut lancar tanpa ada hambatan apa pun. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, rombongan keluarga Zul sudah tiba di rumah Sali.

Sali beserta keluarga menyambut kedatangan Zul beserta keluarga dengan sambutan yang sangat hangat. Semua keluarga Zul dipersilahkan masuk ke dalam ruang tamu di mana telah tersedia aneka jamuan, mulai dari kue, buah, hingga minuman.

“Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,” salam Pak Rizal sebelum kalam yang langsung dijawab serempak oleh para hadirin.

“Selamat datang dan terima kasih kami ucapkan kepada Zul beserta keluarga yang telah bersedia untuk mendatangi gubuk kami ini. Sebelumnya, saya perkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Rizal. Saya adalah paman dari Sali,” lanjut Pak Rizal.

Kemudian, Pak Rizal memperkenalkan satu per satu angota keluarga yang hadir dalam acara tersebut. Setelah selesai, Pak Rizal mempersilahkan kepada keluarga Zul untuk memperkenalkan anggota keluarga yang datang pada hari itu serta mempersilahkan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh keluarga Sali, keluarga Zul juga diwakilkan oleh salah seorang paman Zul yang bernama Pak Zainal. Sama seperti yang dilakukan oleh Pak Rizal, Pak Zainal pun memperkenalkan satu per satu anggota keluarga Zul yang ikut dalam rombongan. Selanjutnya, Pak Zainal mengutarakan apa yang menjadi maksud dan tujuan kedatangan keluarga Zul ke rumah Sali.

“Kedatangan kami, keluarga Zul, ke rumah ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, adalah untuk menyambung tali ukhuwah, karena bagaimana pun juga, kita sebagai sesama muslim adalah bersaudara satu sama lain. Besar harapan kami, kedatangan ini merupakan awal dari hubungan persahabatan, persaudaraan,  bahkan menjadi hubungan keluarga jika tujuan kedua kami diterima oleh keluarga Sali.” Papar Pak Zainal.

“Tujuan kedatangan kami yang kedua, tak lain dan tak bukan adalah untuk melakukan proses khitbah atau lamaran. Di mana saya, dalam hal ini mewakili keponakan saya, Zul, bermaksud untuk mengkhitbah atau melamar perempuan pilihannya, yaitu Sali, Putri dari Bapak Syarif dan Ibu Nurul,” sambung Pak Zainal.

“Bagaimana tanggapan atau penerimaan dari Bapak Syarif dan Ibu Nurul atas lamaran yang kami tersebut?” Tanya Pak Zainal.

Sebagai juru bicara dari keluarga Sali, Pak Rizal langsung angkat bicara. “Kami sangat senang sekali mendapat kunjungan dari keluarga Zul. Karenanya, sebisa mungkin kami berusaha memberikan sambutan yang terbaik. Namun, jika sekiranya sambutan yang kami berikan kurang berkenan di hati bapak-bapak dan ibu-ibu, kami mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya.”

“Mengenai lamaran yang ditujukan kepada putri kami, Sali, pada prinsipnya, sebagai orang tua kami tidak keberatan, mengingat bahwa Zul dan Sali sudah saling kenal bahkan pernah satu skolah semasa SMA dulu. Namun demikian, keputusan apakah lamaran Zul diterima atau ditolak, kami serahkan sepenuhnya kepada Sali. Bagaimana pun juga, Sali mempunyai hak untuk menerima atau pun menolak lamaran tersebut.”

Pak Rizal menghentikan kalimatnya. Pandangan beliau tertuju kepada Sali yang duduk tak jauh dari tempat duduknya.

“Sali, bagaimana? Diterima?” Tanya Pak Rizal.

Sali tak berani mengangkat wajahnya. Hanya sebuah anggukan kecil sebagai jawaban atas pertanyaan yang daijukan oleh pamannya.

“Alhamdulillah,” ucap Pak Rizal yang kemudian diikuti oleh yang lain secara serempak.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, seperti yang sudah kita lihat bersama-sama apa jawaban dari Sali. Apa yang menjadi keputusan Sali, maka itulah keputusan kami. Saya mewakili keluarga Sali memberikan jawaban bahwa lamaran Zul, diterima.”

*****

 jika kau bertanya, tentang bunga yang harus ada di taman jiwa
maka kujawab beserta doa, agar kelak terwujud nyata

bunga taqwa, yang menghiasi cinta dengan menghamba
kepada Zat Yang Mencipta alam semesta

bunga setia, yang mengamankan rasa percaya
di dada kala kita berpisah jarak dan masa

bunga kata, yang menyatukan asa dan cita
sehingga kita tetap melangkah bersama

bunga perhatian, agar kita tak pernah berada dalam kesepian
meski keadaan kadang memisahkan

bunga kejujuran, jangan ada dusta yang disembunyikan
jika ingin selalu bergandeng tangan

bunga keterbukaan, apa yang dimau segera katakan
karena kita takkan pernah bisa membaca pikiran

…BERSAMBUNG…


Baca Bab Lainnya :

8 thoughts on “Ikatan

  1. ysalma Juli 21, 2016 / 11:28

    Semoga lancar ke tahap selanjutnya🙂

  2. winnymarlina Juli 21, 2016 / 16:19

    semoga gk ada halangan sampai tahap berikutnya ya kak

  3. kang nur Juli 21, 2016 / 18:40

    Masih bersambung ya… Jadi igat masa masa 16 tahun yang lalu

    • jampang Juli 22, 2016 / 08:58

      iya, masih bersambung. kan belum nikah. baru lamaran😀

  4. Akhmad Muhaimin Azzet Juli 22, 2016 / 07:52

    Anggukan kecil dari Sali adalah adalah awal dari sebuah keputusan yang besar🙂

    • jampang Juli 22, 2016 / 08:55

      iya, pak. bahkan diamnya pun tanda setuju😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s