Wejangan Ayah

lampu_lalu_lintas
Ayah saya termasuk orang yang tak banyak bicara. Karenanya tak banyak nasihat yang keluar dari lisan beliau dan sampai ke kedua telinga saya. Mungkin nasihat beliau hadir dalam diam. Bisa jadi. Saya tak pernah mendengar beliau mengeluh. Mungkin diamnya beliau merupakan salah bentuk syukur beliau. Sekali lagi, bisa jadi seperti itu.

Namun demikian, ada sebuah nasihat yang pernah terlontar dari lisan beliau dan masih teringat sampai sekarang. Nasihat tersebut sampai ke telinga saya sesaat setelah kejadian yang mungkin akan mengakibatkan kami kami mengalami kecelakaan.

Saat itu, saya baru memiliki sepeda motor. Ketika hari masih pagi dan matahari belum menampakkan wujudnya, Ayah saya meminta saya untuk mengantarkan beliau ke suatu tempat. Saya lalu mengantarkan ayah ke tempat tujuan.

Kami melewati perempatan jalan di mana terdapat lampu lalu-lintas terpasang untuk mengatur kelancaran arus lalu-lintas. Saat itu saya tak memperhatikan lampu lalu-lintas, karena melihat situasi jalan yang sepi. Saya langsung memacu sepeda motor saya melintasi perempatan tersebut.

Tiba-tiba ada seorang pengendara sepeda motor dari arah kiri yang melaju dengan cepat. Pengendara sepeda motor tersebut langsung membunyikan klakson dengan nada yang panjang.

Sudah dipastikan saya yang salah, karena tetap melaju ketika lampu lalu-lintas warna merah menyala.

Setelah melewati perempatan tersebut, di atas sepeda motor, ayah saya langsung menasihati untuk selalu mentaati rambu-rambu lalu-lintas demi keselamatan diri saya dan juga orang lain.

Mungkin dari kejadian itulah, saya lebih patuh terhadap lampu lalu-lintas dibanding marka jalan yang lain. 😀

NB : coretan blogpost ini berawal dari komentar saya di blog lain yang sedang mengadakan give away yang mengangkat tema “Wejangan dari Bapak yang Paling Berkesan”. Saya edit sedikit. Alhamdulillah, komentar saya terpilih menjadi salah satu yang mendapatkan pulsa Rp. 10.000.


Tulisan Terkait Lainnya :