Winner

winnerDengan menulis, seseorang bisa memiliki sebuah dunia sendiri. Di dunianya itu, dia bisa menjadi apa saja yang dia kehendaki.

Jika di dunia nyata seseorang tersebut memiliki keinginan dan kemampuan di mana keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Jika keinginan yang dimiliki seseorang tidak terbatas, sebaliknya kemampuan yang dimiliki seseorang sangat terbatas. Maka tak heran jika banyak orang yang tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Setidaknya dalam waktu dekat. Maka di dunia yang diciptakan oleh seseorang ketika menulis, hukum tersebut tidak berlaku.

Saya pernah mencobanya. Saya ciptakan dunia saya sendiri sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Saya pernah menjadi Zam Minara. Seorang pemuda gagah yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Dengan kemampuan tersebut, saya dipercaya oleh Raja Ahkam dari Kerajaan Sembilan Cahaya untuk menolong sahabatnya, Raja Saghra dari Kerjaan Lantana yang sedang diserang oleh Raja Zulma yang kejam dan jahat. Saya pun berhasil menjalankan misi tersebut. Kerajaan Lantana dapat diselamatkan. Raja Zulma pun ditangkap dan ditahan. Lalu saya dipertemukan dengan seorang putri cantik bernama Ayna Kanajma.

Saya pernah menjadi seorang ayah yang berjuang mendapatkan uang demi biaya operasi anak saya yang sakit parah dengan rela menjadi kurir pembawa barang bukti berupa sebuah kaset rekaman tindak kejahatan seorang koruptor kelas kakap. Meski nyawa taruhannya. Dan memang, akhirnya saya terluka parah. Namun saya berhasil menyelesaikan pekerjaan dan mendapatkan imbalan uang yang cukup untuk dijadikan biaya operasi anak saya.

Saya pernah menjadi seorang lelaki sekaligus suami yang beruntung karena memiliki seorang istri yang sholehah. Ketika ada dugaan korupsi uang perusahaan yang ditujukan kepada saya, lalu untuk sementara waktu, perusahaan menghentikan semua fasilitas yang selama ini saya terima sebagai karyawan, sementara saya membutuhkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit untuk proses kelahiran anak kedua, istri saya memberikan sebuah solusi yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Itu adalah dunia yang bisa saya ciptakan sesuai dengan keinginan sendiri. Dengan menuliskannya. Dengan menulis, saya bisa menjadi apa saja dan siapa saja. Termasuk memberikan titel sebagai juara bagi diri saya sendiri dalam sebuah tantangan yang saya lakukan pada tulisan kali ini.

Beberapa waktu lalu saya menginformasikan bahwa saya akan mengikuti tantangan 30 hari ngeblog non stop. Awalnya cukup lancar di mana saya sudah memiliki stock tulisan untuk dua hari. Misalnya, di hari pertama, di tangan saya sudah ada tulisan untuk hari pertama dan kedua. Begitu seterusnya selama beberapa hari. Namun kemudian kondisi berubah. Saya hanya punya stock tulisan untuk hari itu saja. Bahkan, di hari-hari berikutnya saya baru menulis atau mempublikasikan tulisan di malam hari, bukan di pagi hari atau siang hari.

Di pertengahan periode lomba, di hari kelima belas, saya merasa berada di persimpangan pilihan. Ada hal yang membuat saya membuat semangat saya menurun untuk melanjutkan lomba. Namun ada pula yang membangkitkan semangat saya.

Ibarat sebuah perjalanan cukup jauh, Adakalanya, semangat yang menggebu di awal perjalanan hilang di separuh jalan. Mungkin karena membayangkan bahwa jarak yang harus ditempuh untuk sampai di tujuan masih cukup jauh. Mungkin juga karena sisi kiri dan kanan jalan yang dilalui tidaklah seindah yang pernah dibayangkan sebelumnya. Hal seperti itulah yang menyurutkan semangat saya.

Saya memang berhasil membuat satu postingan setiap harinya. Namun belum ada satu pun di antara tulisan saya tersebut yang bisa bercokol di headline. Kondisi wajar, menurut saya. Sebab blog dengan flatform yang disyaratkan penyelenggara lomba (selanjutnya saya sebut dengan blog lomba) bukanlah blog utama yang saya kelola. Blog utama saya ada di sini di mana saya sering melakukan blogwalking secara rutin. Saling berkunjung dan memberi komentar satu sama lain pun aktif terjadi. Sementara di blog lomba, tidaklah demikian.

Jika kejadian di atas tergolong wajar bagi saya, tetapi tidak dengan kejadian ketika saya tidak menemukan postingan saya baik di postingan baru maupun index blog di setiap tanggal. Apakah saya terlewat sehingga tidak menemukan postingan saya di tempat yang maksud? Mungkin saja. Tetapi saya sudah mengecek beberapa kali dan hasilnya sama.

Apakah ada sesuatu yang belum saya ketahui mengenai hal ini? Mungkin.

Di samping dua kondisi di atas yang sempat menyurutkan semangat, ada juga hal yang membangkitkan semangat saya untuk melanjutkan lomba tersebut. Yaitu semakin naiknya rangking blog lomba menurut alexa rank dari hari ke hari.

Ketika pertama kali memposting tulisan untuk mengikuti ajang tantangan tersebut, jika saya membuka blog lomba, maka pada alexa toolbar di komputer yang saya gunakan menampilkan tulisan berupa kata no rank. Mungkin itu artinya blog lomba milik saya tersebut sama sekali tidak diperhitungkan oleh alexa.

Namun setelah beberapa hari melakukan posting secara rutin, alexa toolbar menampilkan angka, bukan tulisan no rank lagi. Awalnya muncul angka di atas sepuluh jutaan. Beberapa hari kemudian turun di kisaran delapan jutaan. Lalu turun lagi menjadi angka di lima jutaan. Dan pagi ini, rangking blog ini bertengger di peringkat empat jutaan. Saat saya memposting tulisan ini, rangking blog lomba tersebut berada di kisaran tiga jutaan. [Bagi yang ingin mengetahui rangking alexa dari blog anda, bisa klik di sini atau mengklik gambar pada widget alexa rank di sisi kiri postingan ini kemudian ganti link alamat blog pada URL yang muncul di bagian adress dengan alamat blog anda. Sedangkan yang ingin memasang widget alexa rank di wordpress anda bisa membaca langkah-langkah pemasangannya di sini.]

Apa kondisi tersebut bermasalah? Tentu bermasalah bagi yang ingin mempermasalahkannya. Tapi tidak akan menjadi maslaah bagi orang yang tak ingin mempermasalahkannya. Orang-orang atau para blogger dengan tipe yang terakhir tersebut akan tetap menulis dan terus menulis meskipun blognya jarang dikomentari bahkan jika blognnya jarang dikunjungi sekalipun.

Beberapa hari kemudian, saya menemukan sebuah komentar yang senada dengan yang saya alami seperti saya sebutkan di atas, di mana tulisan saya di blog lomba tidak masuk daftar postingan terbaru atau semacam reader di wordpress. Ternyata apa yang saya alami juga dialami oleh orang lain.

Kejadian tersebut mengingatkan saya akan pelajaran yang saya terima di masa sekolah dahulu bahwa yang namanya manusia itu adalah makhluk sosial. Makhluk yang tak dapat hidup seorang diri. Makhluk yang dalam menjalani kehidupannya akan memiliki banyak ketergantungan kepada yang lain. Tak hanya ketergantungan kepada sesama manusia, tetapi juga ketergantungan kepada makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Bahkan, manusia tak akan bisa hidup tanpa keberadaan makhluk tak hidup yang berada di sekitarnya seperti air, udara, angin, sinar matahari, dan sebagainya.

Karenanya, tak ada yang namanya kesendirian.

Ketika seseorang mengalami suatu kesedihan atau musibah. Maka dirinya harus menyadari bahwa yang pernah merasakan kesedihan atau tertimpa musibah bukanlah dirinya seorang. Banyak orang-orang yang dikenalnya atau yang tak dikenalnya, yang juga mengalami peristiwa serupa. Bahkan mungkin bisa jadi apa yang menimpa orang-orang tersebut jauh lebih parah daripada yang menimpa dirinya. Karenanya, tak selayaknya jika seseorang tersebut meratapi kesedihannya dan menganggap bahwa dirinyalah orang paling malang di dunia. Sebab dirinya tidaklah seorang diri.

Ketika seseorang mengalami suatu kebahagiaan atau kesenangan. Maka dirinya harus menyadari bahwa yang berhak merasakan kebahagiaan dan kesenangan dalam kehidupan di dunia ini bukanlah hanya dirinya seorang. Banyak orang-orang yang dikenalnya atau yang tak dikenalnya, yang juga ingin merasakan kebahagiaan dan kesenengan serupa. Karenanya, tak sepantasnya jika seseorang tersebut menyombongkan kebahagiannya dan kesenangan yang diraihnya tanpa memperdulikan orang lain. Sebab dirinya tidaklah seorang diri.

Itulah yang saya alami ketika mengikuti ajang tantangan 30 hari ngeblog. Ternyata, bukan saya saja yang mengalami kejadian di mana postingan saya tidak masuk daftar postingan terbaru. Ada blogger lain yang juga mengalami hal serupa. Saya mengetahuinya setelah membaca pengumuman yang berisi daftar blogger yang postinganya masuk ke dalam headline. Di bawah pengumuman tersebut saya membaca sebuah komentar seorang blogger yang bernasib kurang lebih sama seperti saya.

Bagaimana bisa masuk headline, masuk daftar postingan terbaru saja tidak!

Kira-kira seperti itulah komentarnya yang bernada protes. Ah, ternyata tak hanya saya seorang yang mengalaminya.

Lantas bagaimana dengan hasil ajang tantangan 30 hari ngeblog itu? Apa saya jadi pemenangnya?

Hingga hari ketiga puluh yang merupakan hari terakhir ajang tantangan, saya berhasil melakukan posting tulisan sebanyak 30 kali. Artinya saya berhasil memposting satu tulisan dalam satu hari. Namun demikian, jumlah postingan saya yang diakui hanya 27 tulisan. Penyebabnya adalah karena saya tidak mengirimkan email dengan subjek yang benar sebanyak tiga kali. Tiga kali adalah jumlah kesalahan maksimal yang masih ditolerir oleh panitia penyelenggaranya. Karenanya saya termasuk blogger yang lulus tantangan.

Penilaian selanjutnya adalah siapa blogger yang tulisannya paling banyak masuk headline. Nah, tak ada satupun tulisan saya pernah masuk headline. Artinya, saya bukanlah pemenang ajang tantangan tersebut. Tapi saya bisa menobatkan diri saya sebagai pemenang. Kenapa? Karena saya yang membuat tulisan ini dan saya bisa menjadikan diri saya siapa saja seperti yang saya sebutkan di bagian awal postingan ini, termasuk menjadi seorang pemenang.

Yup, saya adalah pemenang. Bagi diri saya sendiri tentunya. Para peserta lainnya juga adalah para pemenang bagi diri masing-masing. Sebab, saya dan para peserta lainnya telah berhasil mengalahkan kemalasan menulis, kebuntuan ide di dalam diri masing-masing, dan juga mengalahkan lemotnya koneksi internet. Satu tulisan yang berhasil dibuat setiap harinya di ajang tantangan ini adalah buktinya. Tiga puluh tulisan yang sudah dihasilkan dalam ajang tantangan ini adalah saksinya.

Terlepas dari siapa pemenang ajang tantangan tersebut dan mendapatkan hadiah, itu adalah hal yang berbeda. Itu adalah penilaian dari sisi panitia saja. Penilaian panitia atau juri bisa saja dikatakan adil oleh sebagian peserta atau tidak adil bagi peserta lainnya. Wajar. Keputusan panitia atau juri tidak dapat digugat. Sebagaimana panitia dan juri juga tidak bisa menggugat atas predikat yang saya dan peserta lain berikan untuk diri masing-masing sebagai pemenang.

Panitia dan juri hanya menilai dari apa yang dihasilkan oleh para peserta. Sementara apa yang dihadapi oleh saya  dan para peserta lainnya, luput dari penglihatan panitia dan juri. Hanya para peserta tantangan yang tahu apa yang dihadapi setiap harinya.

Ide dan kreatifitas untuk terus tetap menulis tidak boleh berakhir. Menulis adalah karya kita. Berkarya tidak boleh berhenti karena berakhirnya sebuah lomba. Halaman-halaman jurnal di blog masih banyak yang kosong dan perlu diisi dengan aksara yang kita tata, dengan kata yang kita rangkai, dengan kalimat yang kita susun menjadi sebuah cerita. Cerita yang menjadi penghapus kegundahan dan kegalauan hati. Cerita yang menjadi sumber energi dan inspirasi. Cerita yang menjadi bahan renungan dan kontemplasi. Cerita yang akan menjadi kenangan dan pengingat diri. Baik bagi pribadi maupun orang-orang yang membacanya.

Seorang pemenang pantang menyerah untuk terus berkarya dan berbagi. Seorang blogger sejati tak mengenal lelah untuk terus menulis dalam berbagai suasana. Saya pun akan berusaha demikian. Tetap menulis. Di sini. Sementara tulisan di blog lomba sudah saya pindahkan ke blog ini. Jika akhir-akhir ini ada yang membaca postingan saya dengan judul yang menggunakan bahasa inggris, itu adalah postingan saya dalam ajang lomba yang saya ubah judulnya dan isinya sedikit, lalu saya posting di sini 😀


Tulisan Terkait Lainnya :