Early Dinner, Film, dan Adab Menyembelih Hewan


Abu Ya’la Syaddad bin Aus menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda :Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan (ihsan) atas segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh (dalam peperangan), lakukanlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka lakukanlah dengan baik, hendaklah setiap kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya. (HR. Muslim)

*****

“Kemaren itu masuk kategori dinner bukan yah?” Tanya saya kepada Minyu melalui pesan Whatsapp di hari senin.

“Kalau itu namanya early dinner. Kalau  jam sembilanan namanya late dinner.” Jawab Minyu.

Ah, saya baru tahu ada perbedaan istilah dinner yang terlalu cepat dan dinner yang terlambat. Hari minggu kemarin, kami makan di luar.

Itu adalah makan malam saya dan Minyu pertama kali di luar rumah. Tepatnya di sebuah restoran steak yang terletak di sisi Jalan  raya kebayoran lama. Kami tiba di lokasi sekitar pukul tujuh belas lewat beberap menit.

Setelah mengisi menu, kami menunggu. Tak lama kemudian, datang seorang pelayan yang mengabarkan bahwa  menu yang saya pesan tidak tersedia. Habis. Menu lain pun jadi pilihan berikutnya.

Selang beberapa waktu kemudian, semua menu tersaji lengkap di meja dan segera kami santap.

“Banyak ototnya!” Ucap Minyu ketika mencicipi sepotong steak dari piring saya. Sepertinya, Minyu kurang beruntung. Mungkin saya juga demikian. Namun kondisi itu tidak mengurangi nafsu makan kami berdua. Kami habiskan semua makanan dan minuman yang kami pesan agar tidak mubazir.

Di saat menikmati menu yang tersedia, saya teringat dengan sebuah  film korea yang mengisahkan tentang perlombaan para koki. Saya lupa judulnya. Kepada Minyu, saya  menceritakan salah satu adegan di film tersebut.

Di salah satu babak, para juri akan menilai kwalitas daging yang berasal dari sapi hidup yang dipilih oleh dua orang koki yang tersisa. Koki jagoan dan koki musuh.

Penilaian juri memenangkan koki musuh. Namun beberapa saat setelah pengumuman, ada anggota juri yang melihat sesuatu di dalam daging sapi milik koki musuh.  Sesuatu itu merupakan zat yang bisa menyebabkan menurunnya kwalitas daging sapi. Akhirnya, dewan juri meralat keputusan mereka dan memenangkan sang koki jagoan.

Ternyata, penyebab munculnya zat tersebut adalah karena pada saat akan dipotong, sapi milik koki musuh tersebut sempat ditarik dengan paksa bahkan dipukul atau dipecut. Sementara koki jagoan membawa sapi miliknya dengan lemah lembut.

Lantas, benarkah ada hubungan erat  antara kwalitas daging sapi, kerbau, atau kambing dengan cara penyembelihan atau pemotongan di dunia nyata? Saya tidak tahu. Yang saya tahu hanyalah hadits di atas di mana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk menggunakan cara-cara yang baik ketika akan menyembelih hewan. Menajamkan pisau atau golok yang akan digunakan untuk menyembelih adalah salah satu di antaranya.

Cara-cara lain yang bisa merupakan bentuk kebaikan saat menyembelih hewan adalah :

Melakukan penyembelihan dengan kasih sayang

Dari Qurrah bin Iyyas Al-Muzani, bahwa ada seorang lelaki berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mengasihi kambing jika aku menyembelihnya”. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Jika engkau mengasihinya maka Allah merahmatinya”. (Shahih)

Menjauh Dari Penglihatan Kambing Ketika Menajamkan Parang

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamati seorang lelaki yang meletakkan kakinya di atas pipi (sisi) kambing dalam keadaan ia mengasah perangnya sedangkan kambing tersebut memandang kepadanya, maka beliau mengatakan: “Tidaklah diterima hal ini. Apakah engkau ingin benar-benar mematikannya. (dalam riwayat lain : Apakah engkau ingin mematikannya dengan beberapa kematian).” (Shahih)

Menggiring Kambing Ke Tempat Penyembelihan Dengan Baik

Ibnu Sirin mengatakan bahwa Umar Radhiyallahu anhu melihat seseorang menyeret kambing untuk disembelih lalu ia memukulnya dengan pecut, maka Umar berkata dengan mencelanya : Giring hewan ini kepada kematian dengan baik. (ada kelemahan di dalam sanadnya)

Membaringkan Hewan Yang Akan Disembelih

Aisyah Radhiyallahu ‘anha menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk dibawakan kibas, lalu beliau mengambil kibas itu dan membaringkannya kemudian beliau Shallallahu alaihi wa sallam menyembelihnya.

NB : Hadits-hadits di atas dapat dilihat secara lebih lengkap di sini.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :