Antrian Panjang Tanpa Nomor

antrianKemarin siang saya mendapatkan cerita tentang disiplin dalam antrian dari seorang penceramah dalam acara hahal bihalal yang diacakan oleh kantor tempat saya bekerja.

Cerita pertama dialami beliau ketika berada di London. Beliau bersama istri sedang menaiki tangga dari stasiun kereta api bawah tanah. Tangga tersebut tidaklah lebar jika tidak boleh dibilang sempit. Di tengah-tengah tangga, tiba-tiba tali sepatu istri beliau terlepas. Sang istri pun membetulkan tali sepatunya. Cukup lama. Hingga membuat beliau nyaris hilang kesabaran. Apalagi ketika beliau menoleh ke belakang di mana antrian orang sudah mengular.

Satu hal yang menari perhatian beliau adalah, orang-orang yang berdiri di belakang beliau dan istri tidak ada yang mengeluarkan suara macam-macam. Di antara mereka ada yang asyik dengan gadgetnya. Ada pula yang asyik dengan bukunya. Ada pula yang sedang berbicara melalui handphone. Semuanya menunggu dengan disiplin. Sabar.

Mungkin, bila kejadian tersebut terjadi di lingkungan kita, maka akan segera terdengar suara-suara macam-macam dari orang-orang di belakang antrian. Ada yang marah-mara sendiri. Ada yang teriak-teriak tidak jelas. Ada yang meminta agar orang di hadapan mereka segera berjalan. Bahkan ada pula mungkin yang saling dorong-dorongan.

Hampir setiap hari saya termasuk di dalam antrian pengguna jalan raya bersama para pengendara mobil dan seperda motor lainnya. Tak jarang saya mendengar lengkingan suara klakson dari kendaraan yang meminta kendaraan di depan agar segera maju. Padahal kendaraan yang paling depan tersebut berada dalam keadaan yang tidak bisa bergerak maju karena terhalang kendaraan lain.

Di lain tempat dan lain waktu, saya sedang mengantri untuk membeli pecel untuk makan siang. Para pembeli yang cukup banyak berdiri dalam dua barisan antrian. Tertib. Tiba-tiba, datang seseorang dari arah samping barisan yang kemudian mendekat ke arah penjual pecel. Tindakan orang tersebut kemudian diikuti oleh orang-orang di belakangnya. Akhirnya, barisan antrian tidak lagi tertib. Antrian yang tadinya membentuk dua barisan langsung berubah menjadi begerombol. Jika demikian, yang datang lebih dahulu belum tentu dilayani lebih awal.

Mungkin antrian yang terihat tertib adalah ketika mengantri di bank atau mungkin di kantor pelayanan pajak. Ketika seseorang akan menabung, menarik uang, atau pun membayar pajak di bank (harap diingat, membayar pajak bukan di kantor pelayanan pajak), maka dirinya harus mengantri sesuai dengan nomor antrian yang diberikan oleh satpam atau melalui mesin nomor antrian. Demikian pula halnya ketika seorang Wajib Pajak akan melaporkan SPT ke kantor pelayanan pajak (harap diingat, melaporkan SPT, bukan membayar pajak) pasti akan mendapatkan nomor antrian. Siapa yang datang lebih awal akan dilayani terlebih dahulu. Suasana tertib pun akan terlihat.

Jika kondisi demikian yang tercipta, maka tak akan muncul rasa khawatir seseorang akan menyerobot nomor antrian milik orang lain. Semuanya pasti akan menunggu nomor antrian yang sudah ada ditangan dipanggil oleh petugas. Para pengantri pun bebas melakukan apa saja sambil menunggu. Mungkin, jika ada orang yang mendapat nomor antrian masih sangat lama, ia akan keluar ruangan untuk mengisi perutnya yang keroncongan, sementara yang lain mungkin ada yang membaca buku, koran, atau majalah. Jika ada seseorang yang nomor antriannya akan segera dipanggil, maka tak mungkin orang tersebut akan meninggalkan ruangan. Tentunya dia akan bersiap-siap.

Semalam, sebelum pulang saya berniat untuk mengisi bahan bakar sepeda motor. Saya pun menuju sebuah pom bensin. Begitu melihat antrian yang panjang, saya akhirnya membatalkan mengisi bensin karena tak ingin berlama-lama di dalam antrian. Saya akan mengisi besok pagi saja, begitu yang ada di pikiran saya.

Pagi tadi, sebelum berangkat ke kantor, saya sempatkan untuk mengisi bahan bakar di pom bensin. Alhamdulillah, antriannya tidak sepanjang semalam. Setelah beberapa sepeda motor selesai, tiba giliran sepeda motor saya untuk diisi. Selanjutnya saya meluncur ke kantor.

Antrian di pom bensin baik semalam ataupun tadi juga terlihat tertib. Tak ada pengendara yang menyerobot pengendara lainnya yang sudah datang lebih awal. Meski tanpa nomor antrian, semuanya tertib dan teratur. Jika tidak ingin berlama-lama di dalam barisan antrian, kita bisa memilih antrian di tempat lain atau di waktu lain.

Jika mau melihat lebih luas lagi, maka dunia ini penuh dengan antrian. Setiap anak manusia, meskipun tidak menyadarinya, sedang berada di dalam barisan antrian yang panjang. Sayangnya, antrian yang paling tertib tersebut tidak memiliki nomor. Tak ada seorang pun yang memegang nomor antrian. Tetapi mereka yakin bahwa mereka akan mendapat panggilan jika tiba gilirannya. Sistem antrian tersebut tidak memanggil terlebih dahulu orang-orang yang datang di waktu awal. Sistem tersebut juga tidak memastikan bahwa yang hadir belakangan akan dipanggil di waktu-waktu akhir. Semuanya mendapat giliran di waktu-waktu yang tak bisa dipastikan.

Antrian itu adalah kematian.

Semua yang terlahir akan melewati pintu kematian. Tidak seperti antrian di tempat yang disebutkan di atas, tak ada rumusan bahwa yang lahir lebih awal akan meninggal lebih dahulu dan yang lahir belakangan akan meninggal juga belakangan. Nyatanya tidak demikin. Yang tua mungkin bisa lebih dahulu melewati pintu tersebut, namun tidak ada jaminan bahwa yang lebih muda akan menyusul belakangan.

Kita juga tidak bisa untuk menghindar dari antrian yang satu ini. Tidak bisa seperti apa yang saya lakukan ketika mengantri di pom bensin. Karena setiap detik, kita selalu berada di dalam antrian tersebut.

Tak ada nomor antrian sehingga tak ada seorang pun yang bisa memperkirakan kapan dirinya akan kembali kepada pencipta-Nya.

Ya Allah bihaa…

Ya Allah bihaa..

Ya Allah bihusnil khaatimah…

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :