Ingin Bahagia? Jangan Ditunda

bahagia-happyJika ada sebuah pertanyaan kepada Anda wahai para pelajar atau mahasiswa, “Kapankah Anda akan merasa bahagia?”

Tolong jangan dijawab, “Nanti ketika aku sudah lulus sekolah atau lulus kuliah dan sudah merasakan bagaimana rasanya ikut wisuda. Ditambah lagi jika langsung dapat kerja dan berpengahasilan tinggi. Bisa beli ini dan itu pakai uang sendiri.”

Jika jawaban anda demikian, maka artinya saat ini Anda belum bahagia.

Jika ada sebuah pertanyaan kepada Anda wahai para jomblowan dan jomblowati, “Kapankah Anda akan merasa bahagia?”

Tolong jangan dijawab, “Nanti kalau aku sudah menemukan tambatan hati yang akan menerima diriku apa adanya lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kumiliki, sehingga aku tidak lagi merasa sepi dan sendiri di dunia ini.”

Jika jawaban anda demikian, maka artinya saat ini Anda belum bahagia.

Jika ada sebuah pertanyaan kepada Anda wahai para pasangan suami istri, “Kapankah Anda akan merasa bahagia?”

Tolong jangan dijawab, “Nanti jika kami telah dikarunia anak yang lucu-lucu sehingga suasana rumah kami tidak akan sepi lagi. Ada hiasan tawa dan tangis mereka. Kami pun bisa bermain-main dengan mereka di waktu senggang kami.”

Jika jawaban anda demikian, maka artinya saat ini Anda belum bahagia.

Jika ada sebuah pertanyaan kepada Anda wahai para bapak dan ibu, “Kapankah Anda akan merasa bahagia?”

Tolong jangan dijawab, “Nanti di saat anak kami sudah besar-besar dan mandiri, sehingga kami tinggal memetik buah dari hasil jerih payah kami membesarkan mereka.”

Jika jawaban anda demikian, maka artinya saat ini Anda belum bahagia.

Jika ada sebuah pertanyaan kepada Anda wahai para pekerja dan pegawai, “Kapankah Anda akan merasa bahagia?”

Tolong jangan dijawab, “Nanti kalau ada kenaikan gaji sehingga kami dapat menutupi semua kebutuhan hidup kami yang semakin hari harganya semakin naik.”

Jika jawaban anda demikian, maka artinya saat ini Anda belum bahagia.

Jika ada sebuah pertanyaan kepada Anda wahai para kontraktor (yang masih tinggal di rumah kontrakan atau kos), “Kapankah Anda akan merasa bahagia?”

Tolong jangan dijawab, “Nanti kalau sudah punya rumah sendiri meskipun kecil, sehingga kami tidak lagi dibebani dengan biaya bulanan yang sering dinaikkan secara sepihak oleh pemilik.”

Jika jawaban anda demikian, maka artinya saat ini Anda belum bahagia.

Jika ada sebuah pertanyaan kepada Anda wahai para pemilik hutang di bank, “Kapankah Anda akan merasa bahagia?”

Tolong jangan dijawab, “Nanti kalau hutang kami sudah lunas dan kami tidak lagi terbebani dengan cicilan bulanan dan rumah sudah menjadi sepenuhnya milik kami.”

Jika jawaban anda demikian, maka artinya saat ini Anda belum bahagia.

Cobalah Anda bandingkan diri Anda dengan mereka yang putus sekolah karena keterbatasan biaya, dengan mereka sedang merasakan sakitnya hati karena ditinggal atau dikhianati orang yang mereka cintai, dengan mereka yang masih sendiri, dengan mereka yang telah divonis bahwa tidak akan bisa memiliki keturunan, dengan mereka yang masih menganggur karena sulitnya mendapatkan pekerjaan, dan dengan mereka yang hanya bisa tinggal di bawah jembatan.

Kemudian, jika ada pertanyaan berikutnya, “Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mewujudkan kondisi atau keadaan yang dapat manjadikan bahagia tersebut? Tiga tahun lagi? Lima tahun lagi? Sepuluh atau mungkin tiga puluh tahun lagi?”

Maka selama masa itu pula lah Anda tidak akan merasa bahagia.

Lantas jika ada pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana jika apa yang ada telah Anda rencanakan dengan begitu rapi dari setiap langkah di setiap waktu dalam upaya meraih kondisi yang menjadikan Anda akan bahagia tersebut ternyata meleset?”

Jawabannya sudah pasti, kebahagiaan Anda akan tertunda.

*****

jika ingin bahagia
tak perlu rasanya menunda hingga nanti
karena siapa pun bisa bahagia
mulai hari ini

jika ingin bahagia
tak perlu rasanya menunda hingga memiliki
karena siapa pun bisa bahagia
dengan ada yang di hadapannya hari ini

jika ingin bahagia
tak perlu rasanya mengikuti orang lain di segala kondisi
karena siapa pun bisa bahagia
dengan menjadi dirinya sendiri

jika ingin bahagia
tak perlu rasanya mengharap yang belum pasti
karena siapa pun bisa bahagia
dengan syukur di hati

postingan terkait :

– happy is my right