The Banker and Maghrib

Begitu masuk ke dalam rumah, sepulang dari kantor kemarin sore, saya melihat sebuah bungkusan berwarna coklat di atas lemari kecil yang berada di ruang tengah. Saya menebak bahwa bingkisan itu adalah novel The Banker yang dikirim oleh penulisnya langsung, Mbak Ranny Afandi, untuk saya. Dan ternyata memang benar.

Saya baru membaca halaman depan dan halaman belakang dari novel tersebut. Jadi saya belum tahu seperti apa ceritanya. Kalau dari judul dan tulisan di covernya sepertinya bercerita tentang bagaimana profesi seorang banker. Barangkali. Itu hanya tebakan saya aja. Di saat saya mau melengkapi coretan ini dengan sedikit mengambil sedikit kutipan dari novel tersebut, ternyata novelnya tertinggal di meja kantor. Saya lupa memasukkannya kembali ke dalam tas setelah saya keluarkan saat berada di ruang kerja dan masih tertinggal di atas meja kerja saya.

Saya mendapatkan novel tersebut karena memenangkan giveaway yang diadakan oleh penulis di blognya, http://www.hujanpelangi.com/, beberapa waktu yang lalu dengan cara memberikan jawaban di kolom komentar atas dua buah pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan tersebut adalah :

Pernakah kalian mengalami kejadian yang mengenakkan dan gak mengenakkan yang berhubungan dengan bank?

Apa pertimbangan kalian memilih sebuah bank entah itu untuk nabung, KPR, deposit, kredit?

Jawaban yang saya berikan adalah sebagai berikut :

โ€”โ€“ Pengalaman Menyenangkan โ€”โ€“

Di tahun 2005, saya menabung di sebuah bank di mana salah satu cutomer servicenya adalah seorang gadis yang manis. Tentu saja tidak setiap waktu saya bica bicara dengan Mbak CS tersebut, sebab kalau menabung cukup dengan teller saja. Namun setiap saya ke bank tersebut saya sempatkan mencuri-curi pandang ke arah Mbak CS.

Suatu ketika, saya mencari cara untuk mengetahui jati dirinya. Saya bertanya-tanya tentang produk bank yang mungkin bagus bagi saya. Dari obrolan tersebut saya coba mengungkap status Mbak CS itu, apakah sudah menikah atau belum. Taktik saya berhasil, saya bisa mengetahui bahwa statusnya belum menikah. ๐Ÿ˜€

Perkenalan singkat pun berlanjut dan di bulan Desember 2005, saya menikahi Mbak CS tersebut.

Namun bahtera rumah tangga kami tidak berjalan lancar. Karena satu dan lain hal, akhirnya kami berpisah setelah lima tahun bersama.

Tambahan : Alhamdulillah, kini sudah ada penggantinya yang insya Allah lebih baik.

โ€”โ€“ Pengalaman Tidak Menyenangkan โ€”โ€“

Di awal tahun 2014, saya bermaksud mencairkan deposito di bank yang sama seperti pengalaman saya di atas, cuma cabangnya saja yang berbeda. Deposito yang saya cairkan belum jatuh tempo meskipun sudah melewati satu periode jangka deposito. Deposito saya itu jangka waktunya 6 bulan dan proses pencairan terjadi di bulan keempat atau kelima. Saya lupa tepatnya.

Mbak CS menyampaikan kabar bahwa sejak berlakunya kebijakan baru yang entah kapan mulainya, deposito yang dicairkan bukan pada tanggal jatuh tempo tidak akan mendapatkan bagi hasil.

โ€œMeskipun sudah enam bulan?โ€ saya bertanya dengan nada protes, sebab menurut informasi yang saya dapatkan ketika membuka deposito, jika saya mencairkan sebelum tanggal jatuh tempo saya hanya dikenakan pinalti sebesar tiga pulu atau lima puluh ribu. Saya masih bisa terima jika saya tidak mendapatkan bagi hasil dari deposito untuk periode kedua yang masih berjalan. Sementara saya merasa dirugikan jika bagi hasil dari periode pertama juga ikut hangus, padahal itu sudah menjadi hak saya sebagai nasabah.

Pelayanan kali itu terasa lama sekali, tidak seperti mencairkan deposito sebelumnya. Belakangan saya tahu kalau Mbak CS sedang berkonsultasi dengan pihak manajemen untuk memutuskan apakah saya berhak atas bagi hasil di enam bulan pertama atau tidak.

Kenyataanya, saya tidak mendapatkan bagi hasil selama atas deposito untuk enam bulan pertama tersebut. Karenauang tersebut memang saya butuhkan, akhirnya saya pasrah. Deposito tetap dicairkan. Saya kena pinalti dan tanpa bagi hasil.

Ketika proses pencairan, saya dipanggil oleh Mbak Teller.

โ€œBapak, rekening bapak ini dormant, jadi transaksinya tidak bisa langsung diproses.โ€ Ucap Mbak Teller.

โ€œMaksudnya, mbak?โ€ Saya bingung. Saya nggak ngerti apa itu domant. Mikirnya doorman, penjaga pintu ๐Ÿ˜€

โ€œBapak sudah enam bulan tidak melakukan transaksi. Rekening Bapak ditutup sementara. Bapak membuka rekeningnya bukan di sini, kalau minta diaktifkan dari sana akan lama. Sebaiknya Bapak melakukan transaksi. Lima puluh ribu saja juga bisa.โ€ Jawab Mbak Teller.

Haduuuuuh!

Akhirnya saya setor uang dulu baru kemudian deposito bisa dicairkan ke rekening saya.

Hiks!!!!!!

Tambahan : Cerita di atas sudah pernah saya posting di blog ini dengan judul : Bukan Sutra Ungu

โ€”โ€“ Pertimbangan Ketika Memilih Bank โ€”โ€“

Yang pertama jelas saya memilih bank berbasis Syariah. Sebisa mungkin saya menghindari bank dengan sistem konvensional dengan sistem bunga. Namun demikian, saya tidak terlepas dari bank konvensional. Sebab gaji saya ditransfer ke rekening bank konvensional oleh kantor. Untuk itu, biasanya saya langsung mentransfer gaji dari rekening gaji ke rekening bank syariah ๐Ÿ˜€

Selain faktor di atas, saya juga mempertimbangkan lokasi bank yang tidak jauh dan mudah dijangkau serta di dukung mesin ATM yang banyak sehingga bisa tarik tunai di mana saja.

Alhamdulillah, jawaban saya di atas kemudian terpilih menjadi salah satu pemenang.

—o0o—

Ketika saya mengetahui bahwa saya menjadi salah satu pemenang, The Banker mengingatkan saya akan sebuah konsep ekonomi syariah yang menjadi pembeda antara tranksaksi yang sesuai syariah alias halal dengan yang tidak sesuai syariah alias haram. Sebuah transaksi ekonomi dikatakan sesuai syariah atau halal jika terbebas dari unsur-unsur MAGHRIB.

Apa itu MAGHRIB? MAGHRIB merupakan sebuah singkatan untuk tiga buah unsur yang menyebabkan sebuah transaksi ekonomi menjadi tidak halal alias haram. Ketiga unsur itu adalah Maysir, Gharar, dan RIBa.

Maysir

Secara bahasa, maysir memiliki arti gampang atau mudah. Sedangkan menurut istilah, maysir berarti memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja keras. Maysir juga diartikan dengan perjudian. Sebab dalam praktik perjudian, seseorang dapat memperoleh keuntungan dengan cara mudah dan tanpa perlu kerja keras. Di dalam perjudian pula, seseorang bisa mendapatkan kerugian dengan mudah.

Gharar

Menurut bahasa gharar berarti pertaruhan. Menurut istilah gharar berarti seuatu yang mengandung ketidakjelasan. Setiap transaksi yang masih belum dapat dipastikan dengan jelas kondisi barang atau jasa yang diperjualbelikan. Contoh transaksi yang mengandung unsur gharar di antaranya membeli burung di udara, membeli ikan dalam air, atau membeli ternak yang masih dalam kandungan induknya.

Riba

Riba dari segi bahasa berarti tambahan. Sementara menurut istilah, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok (modal) secara bathil. Contoh mudahnya, ketika A meminjam uang kepada B sebesar Rp. 1.000.000 selama kurun waktu 6 bulan, maka jumlah yang harus dikembalikan oleh A di masa akhir peminjaman baik dicicil atau dibayar sekaligus harus sejumlah Rp. 1.000.000. Jika B meminta dibayar lebih, maka kelebihan uang tersebut adalah riba.

Semoga kita terhindar dari transaksi yang mengandung unsur-unsur di atas agar keberkahan selalu mengiringi. Aamiin.


Tulisan Terkait Lainnya :