[Berani Cerita #42] Suatu Senja di Bawah Pohon Rindang

CREDIT

Kedua mataku memandang lurus ke depan di mana kutemukan sebuah pohon dengan batang yang sangat besar besar berdiri dengan gagahnya di tepi danau. Hanya tempat itu yang belum sempat aku selidiki.

Masih ada satu lagi  yang tersisa. Jika berhasil kutemukan, maka selesailah tugasku ini. Aku bergegas mendekati pohon tersebut dengan memperpanjang langkah kedua kakiku.

Angin sepoi menerpa wajahku ketika aku sudah berdiri tepat di bawah pohon. Mataku terpejam beberapa saat merasakan sapaanya  yang lembut.

Jika saja tidak ada sesuatu yang harus kulakukan, ingin rasanya aku berlama-lama di tempat ini.

Kutengadahkan wajahku ke atas pohon. Kutatap setiap dahannya dengan ranting-ranting berdaun lebat dan berwarna merah muda hingga merah tua. Aku tak tahu apa nama pohon yang indah ini. Kedua mataku tak berkedip seakan tak ingin kehilangan pemandangan tersebut sedetik pun.

Setelah puas memandang keindahan pohon tersebut, kuturunkan pandanganku lurus ke depan. Ke arah danau. Permukaan danau yang tenang dan jernih memantulkan bayangan benda-benda di atasnya dengan sangat sempurna. Mulai dari ranting-ranting pohon yang tumbuh memanjang hingga melewati tepi danau, awan di langit, dan matahari yang hampir terbenam.

Sudah sore! Pekikku dalam hati, tersadar akan tugasku yang belum tuntas.

“Nina! Di mana kamu?” Teriakku.

Pertanyaan bodoh. Mana mungkin dia memberitahukan tempat persembunyiannya. Gerutuku dalam hati.

Krek!

Tiba-tiba terdengar suara seperti ranting yang patah terinjak. Kupastikan bawah suara tersebut berasal dari balik batang pohon besar itu.

Aku melangkah ke balik pohon. Perlahan agar tak menimbulkan suara. Kulihat sepasang kaki mengenakan sandal berwarna merah jambu.

Akhirnya aku bisa menemukanmu, Nina.

Segera aku melompat ke hadapannya.

“Ke… Awwwww!”

Aku berteriak kesakitan.

“Ibu sudah bilang kalau main jangan jauh-jauh. Ayo pulang!” Teriak Ibuku sambil menjewer telinga kananku.

“Sakit, Bu. Iya. Iya.”

Aku terpaksa mengikuti langkah Ibuku. Sementara Nina hanya memandangku sambil tertawa terbahak-bahak.


Berani Cerita Lainnya :