Engkoan

engkoan vs arisan

Sama seperti coretan berjudul “Pengili” yang saya buat di bulan Januari lalu, judul coretan ini pun saya ambil dari kosa kata Bahasa Betawi. Saya mengenal kata engkoan ini di masa kecil saya. Saat itu, engkoan adalah salah satu kegiatan yang pernah diikuti oleh ibu saya dan paman saya.

Prinsip dari kegiatan engkoan ini hampir mirip dengan kegiatan arisan di jaman sekarang. Sama-sama mengumpulkan uang dari beberapa orang kemudian masing-masing dari mereka akan mendapatkan total uang yang dikumpulkan secara bergiliran secara berkala hingga semuanya mendapatkan jumlah yang sama.

Namun demikian, ada juga titik perbedaan antara engkoan dengan arisan. Setidaknya perbedaan tersebut saya dapatkan berdasarkan apa yang saya amati ketika saya melihat ibu dan paman saya ketika mengikuti engkoan dan fenomena arisan di jaman sekarang ini.

Pertama, dalam kegiatan engkoan tidak ada kegiatan mengocok nomor atau nama anggota. Nomor urut atau giliran mendapatkan uang yang dari para anggota ditentukan di awal oleh penanggung jawab. Penanggung jawab kemudian menawarkan nomor yang diinginkan kepada para anggota sesuai dengan perkiraan kapan mereka membutuhkan uang dalam jumlah yang lumayan besar. Sehingga tidak ada rasa deg-degan yang akan dialami oleh setiap anggota.

Sementara di dalam kegiatan arisan, pengocokan nomor atau nama anggota dilakukan secara berkala di setiap pertemuan. Sehingga tidak ada seorang anggota pun yang tahu kapan mereka akan mendapatkan giliran dan menerima uang hasil arisan. Akibatnya, ada rasa deg-degan yang dialami oleh para anggota arisan.

Kedua, dalam kegiatan engkoan, tidak ada yang namanya acara kumpul-kumpul para anggota di saat penyerahan uang engkoan kepada anggota yang mendapatkannya. Di hari dan tanggal yang sudah dijadwalkan, penanggung jawab akan mengantarkan uang engkoan kepada peserta yang berhak mendapatkannya saat itu atau si peserta yang mengambilnya di rumah penanggung jawab. Jadi unsur silaturahimnya berkurang.

Sementara di dalam kegiatan arisan, pasti diadakan acara kumpul-kumpul para anggota di saat yang bersamaan dengan pengocokan nama atau nomor anggota yang berhak mendapatkan uang arisan saat itu. Dengan demikian, ada unsur silaturahimnya.

Belakangan, terdapat pula nilai minus dari kegiatan arisan. Misalnya, ketika ada acara kumpul-kumpul, si tuan rumah harus menjamu para anggota lain dengan menyediakan makanan atau minuman yang terkadang biayanya melebihi jumlah uang arisan yang didapat. Yang seperti itu mungkin faktor ekonomi bisa diabaikan jika kegiatan arisan lebih mementingkan unsur silaturahim.

Selain itu, arisan juga bisa dijadikan ajang “fashion show” bagi para anggotanya jika tidak pandai-pandai menjaga hati dan pikirannya.

Saat ini, mungkin engkoan sudah tergusur dan diganti dengan arisan. Saya dan ibu saya saat ini mengikuti arisan keluarga besar uyut saya dari garis ibu. Acaranya sebulan sekali secara bergantian dari rumah ke rumah. Di dalamnya ada acara makan-makan, dzikir, shalawat, dan siraman rohani.

Besar uang yang harus dikeluarkan oleh setiap anggota dibagi dua. Sebagian untuk konsumsi dan sebagian lagi untuk uang arisan. Sehingga, para anggota yang menjadi tuan rumah tidak diberatkan biaya untuk menjamu para anggota keluarga yang datang karena ditanggung bersama oleh seluruh anggota. Namun, bila tuan rumah ingin memberikan jamuan yang nilainya melebih jumlah uang konsumsi yang ditanggung, tidak mengapa. Mungkin sang tuan rumah ingin berbagi rezeki.

Bagaimana dengan Anda, ikut arisan juga?


Tulisan Terkait Lainnya :