Fasilitas Tambahan [?]

fasilitas tambahanBaru beberapa langkah meninggalkan kasir, saya dihampiri oleh seorang perempuan yang mengenakan pakaian seragam dengan logo pusat perbelanjaan tempat saya dan Minyu belanja.

“Boleh lihat struk belanjanya, Pak?”

“Ada apa yah?”

“Kalau Bapak belanja di atas seratus ribu rupiah, Bapak akan mendapatkan fasilitas tambahan dari kami.”

Kira-kira seperti itulah awal percakapan yang terjadi antara saya dan Mbak Mega, sebut saja demikian, bukan nama sebenarnya.

Saya yang sedang mendorong troli langsung memanggil Minyu yang berjalan beberapa langkah di depan saya sambil menggendong Sabiq yang tertidur. Sebab stru belanja dipegang Minyu.

“Iya, di atas seratus ribu. Silahkan ikut saya, Pak,” begitu ucap Mbak Mega setelah melihat struk belanja yang saya serahkan.

Saya dan Minyu langsung mengikutinya.

Dapat apa yah? Saya bertanya-tanya sendiri. Apakah saya mendapatkan pulsa gratis seperti beberapa waktu yang lalu? Atau mungkin bonus berupa barang tertentu? Atau….?

Tiba di sebuah tempat di mana terdapat meja dan beberapa kursi, kami duduk. Lalu, Mbak Mega menjelaskan apa yang dimaksud fasilitas tambahan yang akan kami dapatkan. Ternyata, sebuah program asuransi.

Mbak Mega menjelaskan kelebihan asuransi yang bisa saya dan Minyu dapatkan. Asuransi yang ditawarkan bebas uang atau premi bulanan selama setahun penuh. Mbak Mega menyontohkan seandainya Minyu mendapatkan kecelakaan, atau sakit dan harus menginap di rumah sakit, bahkan keseleo dan diurut ke tukang urut atau dukun patah tulang, pihak asuransi yang akan membayarnya dengan sistem reimburse (nulisnya bener nggak yah?).

Cara mengklaimnya cukup mudah. Bisa datang ke setiap pusat perbelanjaan yang di dalamnya ada counter asuransi dengab membawa fotokopi KTP, kwitansi, dan dokumen lain yang saya tidak ingat.

Fasilitas tersebut bisa saya dapatkan dengan cukup melakukan register sekali saja dengan biaya sekitar tiga ratus tujuh puluh ribuan.

Hm, kalau ada biaya lagi, namanya bukan fasilitas tambahan dong yah? 😀

“Kalau selama satu tahu tidak ada kejadian, uang saya yang tiga ratus tujuh puluh ribu itu kembali nggak?” tanya saya.

“Oh, nggak, Pak!”

“Saya rugi dong!”

“Tapi itu tidak seberapa dibandingkan besarnya manfaat yang akan diterima jika ibu mengalami kecelakaan.”

“Jadi Mbak doain istri saya mengalami kecelakaan?”

“Bukan begitu, Pak.”

“Kalau uang saya nggak kembali, itu sama saja judi namanya.”

“Maksud, Bapak?”

“Saya menyerahkan sejumlah uang. Lalu saya akan mendapatkan keuntungan lebih besar dalam tanda kutip jika istri saya mengalami kecelakaan. Kalau tidak mengalami kecelakaan, uang saya hilang,” jawab saya.

Bukankah judi koprok atau taruhan pertandingan sepak bola seperti itu?

Dalam judi koprok, saya menaru uang di atas angka tertentu. Jika mata dadu yang dikocok oleh bandar menunjukkan angka yang saya pasang, saya mendapatkan uang sejumlah dua kali lipat atau lebih dari yang saya pasang. Namun jika angka yang saya pasang tidak sama dengan jumlah mata dadu hasil kocokan bandar, maka uang saya hilang percuma.

Begitu juga dalam judi bola. Saya akan mendapatkan uang berkali-kali lipat dari uang yang saya pertaruhkan untuk tim jagoan saya yang kemudian menang. Sebaliknya, jika tim jagoan saya kalah, maka uang yang saya pertaruhkan hilang tak bersisa.

Setelah memberikan kepastian bahwa saya tidak akan mengambil fasilitas tambahan tersebut, saya, Minyu, dan Sabiq pergi meninggalkan tempat tersebut. Lagian kalau harus pakai bayar, namanya bukan fasilitas tambahan dong! 😀


Tulisan Terkait Lainnya :