Di Antara 2 Cinta

di antara 2 cinta (1ms.net)
di antara 2 cinta (1ms.net)


apa yang ada jarang disyukuri

apa yang tiada sering dirisaukan
nikmat yang dikecap baru kan terasa bila hilang
apa yang diburu timbul rasa jemu
bila sudah di dalam genggaman

Sal, entah kenapa beberapa hari ini aku sering kali mendendangkan lirik di atas. Lirik yang biasa kudengar sekian tahun silam. Hampir setiap pagi aku mendengarkannya bergantian dengan beberapa lirik lainnya. Maka tak heran jika sampai sekarang aku masih mengingat beberapa kalimat dan nadanya.

Hm, mungkin karena beberapa hari yang lalu aku mendengar seorang ustadz yang memberikan ceramah di masjid kantorku. Salah satu pokok bahasannya adalah tentang ujian.

“Ujian yang terberat itu bukan kemiskinan. Melainkan kekayaan.” Kira-kira seperti itulah salah satu kalimat yang beliau ucapkan ketika berceramah.

Sal. Beliau juga menyebutkan bahwa kekayaan adalah satu hal yang ditawarkan oleh Kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad Shallaallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau menghentikan kegiatan dakwahnya. Dua hal lainnya adalah tahta dan wanita.

Di dalam konteks berumah tangga, sang ustadz memberikan sebuah gambaran tentang bagaimana pasangan suami-istri yang berhasil melalui ujian kemiskinan dan kesusahan namun keduanya gagal ketika kekayaan dan kemewahan berada di dalam genggaman.

Ketika keduanya berada dalam kesusahan, makanan apa pun yang tersaji di meja makan yang mungkin hanya sepiring nasi dengan telor mata sapi, terasa nikmat di lidah mereka. Keduanya bisa tertawa-tawa sambil mencuci pakaian kotor dengan tangan-tangan mereka. Teh manis dan pisang goreng terasa begitu mewah tatkala menemani keduanya ngobrol sambil dudu-duduk di lantai beralas tikar. Keduanya sangat menikmati hidup. Apa yang ada di hadapan mereka, terasa cukup.

Namun, ketika usaha dan kerja keras mereka mulai membuahkan hasil, perubahan mulai terjadi. Taraf hidup keduanya yang meningkat membuat hidup mereka terasa banyak kekurangan. Sepiring nasi dan telor mata sapi yang dahulunya terasa nikmat kini mulai terasa hambar di lidah mereka. Tak ada kegiatan mencuci baju bersama lagi. Sebuah mesin cuci super canggih sudah menggantikan tenaga keduanya. Ketika mesin cuci tersebut bekerja, mereka larut dalam dunia masing-masing.

Obrolan di antara keduanya bukan lagi hal-hal yang ringan, melainkan sudah berubah menjadi keinginan untuk membeli ini dan itu seperti yang dimiliki oleh para di tetangga di kanan, kiri, depan, dan belakang. Apa yang sudah ada di dalam genggaman tangan keduanya terasa masih saja kurang dan kurang.

Dan ketika semua yang mereka inginkan sudah berhasil mereka wujudkan, topik obrolan pun berubah lagi menjadi bagaimana caranya untuk menghemat pengeluaran agar bisa menutupi semua tagihan-tagihan cicilan setiap bulannya. Tak jarang, obrolan tersebut berujung dengan perselisihan pendapat dan pertengkaran.

dunia ibarat air laut
diminum hanya menambah haus
nafsu bagaikan fatamorgana
di padang pasir

panas yang membahang disangka air
dunia dan nafsu bagai bayang-bayang
dilihat ada ditangkap hilang

Sal, aku tak ingin rumah tangga kita menjadi seperti itu. Kuharap, kita bisa saling mengingatkan satu sama lain tujuan kita membina rumah tangga. Membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Mendapatkan kebahagiaan dunia untuk mendukung kebahagian di akhirat dan mengejar akhirat untuk menambah kebahagiaan di dunia.

Insya Allah, dengan usaha bersama dan doa bersama, kita bisa. Aamiin.

Tuhan.. leraikanlah dunia
yang mendiam di dalam hatiku
kerana di situ tidak ku mampu
mengumpul dua cinta
hanya cintaMu ku harap tumbuh
dibajai bangkai dunia yang kubunuh


Seri Samara Lainnya: