Puisi Cinta – I

Cerita sebelumnya bisa dibaca DI SINI.

—oOo—

puisi cinta

Rupanya tak mudah bagi Zul untuk menghilangkan ingatan pertemuan kembali dengan Sali beberapa waktu yang lalu. Buktinya, ketika dirinya mendapatkan tugas dari perusahaan tempatnya bekerja untuk mengikuti sebuah pelatihan di Kota Bandung selama beberapa hari, selama itu pula bayang-bayang perempuan berjilbab kuning itu selalu hadir di dalam pikirannya, termasuk ketika dirinya mengikuti pelatihan.

Di hari pertama pelatihan, pikiran Zul sudah tidak bisa konsentrasi seratus persen terhadap materi yang disampaikan oleh para pengajar. Di sela-sela proses pelatihan, pikirannya menangkap sosok Sali yang sedang duduk di halte sambil asyik membaca sebuah buku. Selama beberapa saat, Zul melamun. Pikirannya masuk ke dalam dunia khayalan. Untuk sementara waktu, pikiran di otaknya dikuasai oleh perasaan di hatinya.

Zul mulai tersadar kembali dari lamunannya ketika suara pengajar meninggi tiba-tiba. Mungkin itu salah satu trik pengajar untuk mengembalikan konsentrasi para peserta pelatihan. Meski tak disadari oleh pengajar dan peserta lain, terlihat Zul salah tingkah sendiri.

Zul membutuhkan sesuatu untuk mencurahkan isi hatinya. Bercerita kepada sesama peserta, bukan pilihan terbaik menurutnya. Mereka adalah orang-orang yang baru dikenal. Belum tentu mereka bisa dipercaya. Bukan bermaksud untuk curiga, tapi sikap waspada memang harus tetap dijaga. Begitu pikir Zul.

Akhirnya, buku agenda yang diberikan panitia di awal pelaksanaan pelatihan menjadi sarana yang dipilih Zul untuk mengunggkap perasaan yang sedang berkecamuk di hatinya. Zul mencoba merangkai kata dan menulisnya di halaman buku agenda tersebut. Terciptalah beberapa bait puisi.

wajahnya terbayang
suaranya terngiang
andai hati ini belum pernah terbang
dan hinggap di jiwa yang kerontang
mungkin aku kan segera datang
menjemputnya
ada keinginan yang membara
di dada
berselimut keraguan yang meronta
dalam rasa
entah mana yang berjaya
hanya masa yang mampu menjawabnya

ah…

harusnya tak ada sesal
karena hanya membuat bebal
padahal
semuanya bisa jadi bekal
melangkah tak terjungkal
berlari tak terpental
menjejak cita sejengkal demi sejengkal
hingga cinta itu terpintal
dalam ikatan kekal

Selepas menyelesaikan bait-bait pusi itu, pikiran dan hati Zul terasa lega dan lapang. Dirinya bisa berkonsentrasi penuh dengan materi-materi selanjutnya pada hari itu. Zul bisa menempatkan pikiran di otaknya di atas perasaan di hatinya. Untuk sementara waktu.

Pelatihan di hari pertama yang berlangsung sejak pukul delapan pagi hingga pukul lima sore itu membuat tubuh dan pikiran Zul lelah. Selepas Shalat Isya dan makan malam, Zul kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Dia berharap semoga tenaga dan pikirannya kembali segar untuk mengikuti pelatihan esok hari.

 —–ooo0ooo—–

 Harapan Zul meleset. Apa yang terjadi di hari pertama pelatihan kembali terulang di hari kedua. Menjelang tengah hari, konsentrasi Zul mulai pecah. Tulisan dan informasi yang terpampang di layar putih melaui slide terlihat mulai pudar lalu menghilang, berganti dengan wajah Sali. Kalimat-kalimat yang diucapkan dengan lantang oleh pengajar mulai terdengar samar lalu lenyap, berganti dengan suara Sali yang sedang berbicara.

Hingga tak terasa, pelatihan sesi pertama hari itu selesai bertepatan dengan waktu Zhuhur. Zul tersadar dari dunia lain dan kembali menapak di dunia nyata.

Setelah istirahat, shalat, dan makan siang, Zul dan para peserta lain kembali memasuki ruang kelas. Di sela-sela penyampaian materi yang dilakukan oleh seorang pengajar, pikiran Zul kembali berkelana. Zul teringat bahwa apa yang sedang dirasakannya saat ini, pernah dia rasakan pula sebelumnya. Lima tahun yang lalu. Benar, lima tahun yang lalu ketika Zul mengalami jatuh cinta kepada seorang perempuan untuk kali yang pertama.

“Apakah Aku sedang jatuh cinta lagi?” Zul bertanya kepada dirinya sendiri.

….. bersambung …..


Baca Juga Episode Lain dari Pernikahan Kedua :