Aku dan Secangkir Kopi

“Hati-hati, kalau minum kopi!”

“Kenapa?”

“Bisa nggak bisa tidur!”

“Masa?”

“Iya. Kalau bisa tidur, kopinya bakal tumpah!”

Kira-kira seperti itulah obrolan yang pernah hadir ketika beberapa anggot keluarga seperti ayah, ibu, dan encing (sebutan untuk Om dan Tante di Betawi) sedang berkumpul. Orbolan yang kemudian berujung tawa yang menambah kehangatan sebuah kebersamaan. Kehangatan yang kian bertambah dengan adanya beberapa cangkir kopi hangat.

Ibu, ayah, dan beberapa encing saya menyukai kopi. Khususnya kopi tubruk. Sementara saya sendiri tidak terlalu suka. Jika saya ditanya apakah mau minum kopi, maka saya akan menolak. Namun jika seseorang langsung mengahdirkan secangkir kopi di hadapan saya tanpa bertanya lebih dahulu apakah saya mau atau tidak, maka saya akan meminumnya. Yang namanya rezeki pantang ditolak. Jangan pula secangkir kopi itu menjadi mubazir.

Indra perasa yang ada di lidah saya mungkin tidak sama jumlah atau ukurannya dengan indra perasa yang dimiliki oleh lidah para penikmat kopi. Bagi saya, semua kopi tubruk hampir sama rasanya. Namun bagi para penikmat kopi, bisa jadi, kopi yang berasal dari daerah atau merek yang berbeda akan memiliki rasa yang juga berbeda. Sebab masing-masing kopi memiliki ciri khas.

Setidaknya hal tersebut pernah saya alami ketika saya mendapatkan tugas dari kantor ke sebuah kota di Provinsi Aceh, Meulaboh. Sebuah kota di mana masyarakatnya sangat menggemari minum kopi.

Di Meulaboh, saya melihat beberapa kedai kopi di pinggir jalan. Bangunannya sederhana. Sebagian kursi dan mejanya berada di ruang terbuka. Yang menjadi daya tarik dari kedai kopi tersebut adalah ketersediaan akses wifi gratis bagi para pengunjung serta tayangan siaran langsung pertandingan sepak bola jika kebetulan ada pertandangingan. Pengunjung bisa menyaksikan tayangan tersebut melalui sebuah layar lebar dengan tata suara yang cukup bagus.

Di salah satu kedai kopi, saya dan beberapa orang teman mencicipi kopi di gelas masing-masing. Selanjutnya, masing-masing berkomentar dengan membandingkan kopi yang mereka nikmati saat itu dengan kopi yang sudah mereka nikmati sebelum-sebelumnya.

Sementara saya sendiri tidak bisa membandingkan berbagai macam rasa kopi dari jenis ataupun daerah yang berbeda. Lidah saya hanya bisa membandingkannya dengan kopi instan yang pernah saya minum ketika mengikuti sebuah kegiatan pendidikan dan pelatihan. Kopi instan yang jika ingin meminumnya cukup dengan menekan salah satu tombol di coffee machine yang disediakan di luar ruang kelas. Saat itu, saya mencicipi beberapa jenis kopi instan seperti Kopi Susu, Moccacino, ataupun Kopi 3 in 1.“Kopi instan rasanya lebih enak!” begitu komentar yang saya berikan.

Tentu saja, komentar tersebut ditertawakan oleh teman-teman saya yang lain. Tapi memang seperti itulah yang saya rasakan. Lidah ini tidak akan menipu. Saya lebih menyukai kopi instan dibanding kopi tubruk. Selain rasanya yang pas di lidah saya, penyajiannya juga praktis, dan seluruh kopi bisa saya habiskan hingga tandas sebab tidak meninggalkan ampas di dasar cangkir.

Kopi tubruk dan kopi instan memang memiliki cita rasa yang berbeda. Begitu pula halnya selera setiap orang yang berbeda-beda. Yang pasti, bubuk kopi tersebut sudah mengalami sebuah proses yang tidak sebentar hingga pada akhirnya secangkir kopi tubruk atau kopi instan hadir di hadapan setiap orang dan siap untuk dinikmati. Begitu pula kiranya yang harus dijalani oleh setiap orang untuk mendapatkan sebuah kesuksesan, sebuah kebahagiaan hidup, ataupun cita-cita dan harapan.

Ketika seseorang merasa berada dalam sebuah titik terendah di dalam hidupnya, secangkir kopi hangat mungkin bisa memberikan semangat baru. Bukan hanya melalui nikmatnya kopi yang dirasakan melalui lidahnya, juga mealui akal dan jiwanya ketika ia berpikir dan merenungi perjalanan panjang yang sudah ditempuh oleh secangkir kopi di hadapannya tersebut.

—oOo—

Twitter : @rifki_jampang
Facebook : rifki jampang


Tulisan Terkait Lainnya :