Dear Nyah

Hi Nyah!

Apa kabar? Lagi ngapain? Sudah makan belum?

Ups, maaf. Sepertinya kalimat pertanyaan di atas salah template. Kalimat tersebut biasanya kutulis di bagian awal surat untuk anak lelakiku. Selain untuknya, terakhir aku menulis surat untuk perempuan yang saat itu sedang kudekati dan sekarang sudah resmi menjadi istriku. Jadi kamu adalah perempuan pertama setelah istriku yang pernah kukirimkan surat. Tapi jangan dulu merasa GR. Aku menulis surat ini bukan berarti ada rasa. Kamu bukanlah perempuan tipeku. Kamu tidaklah secantik Desy Ratnasari yang konon adalah gambaran perempuan cantik asli Indonesia. Kamu juga tidak lagi semuda Alyssa Soebandono yang baru saja melepaskan masa lajangnya. Kamu tidak terima jika dibandingkan dengan mereka berdua? Maaf. Memang kejujuran itu kadang sangat menyakitkan.

Dear Nyah!

Awalnya, ketika membuka “Catatan Si Nyonya”, aku berpikir penampakanmu itu seperti karikatur seorang perempuan berbadan besar dan mengenakan kaca mata. Ternyata aku salah. Penampilanmu saat berpose untuk jurnal “I’m In” telah mengubah penilaianku. Kamu memang mengenakan kaca mata hitam, tetapi posturmu tidaklah sebesar perempuan di karikatur tersebut. Atau jangan-jangan dulunya kamu memang bertubuh besar lalu melakukan program diet dengan mengambil kelas aerobic seminggu 3 kali, lari setiap pagi selama 15-20 menit, mengonsumsi buah-buahan lebih banyak, mengurangi porsi makan di malam hari, mengonsumsi sayuran lebih banyak meski kamu tidak suka, tidur cukup, dan tidak stress. Sebenarnya itu tak masalah jika dilakukan dengan ikhlas dan bukan untuk membantah sebuah teori yang menyatakan bahwa perempuan akan lebih berisi setelah menikah. Toh itu akan membuatmu lebih sehat dan menjadi langkah awal untuk memenuhi keinginan si nona kecil yang minta adik.

Dear Nyah!

Catatanmu penuh dengan aneka rasa. Adakalanya menggugah selera ketika kau bercerita tentang makanan hasil olahanmu seperti puding tahu sutra, semur ayam tahu, dan pannacotta. Adakalanya juga membuatku tertawa karena pengalaman konyolmu seperti saat ditelpon oleh dosen, saat ditertawakan oleh tukang parkir karena salah mobil, atau ketika menunggu pengunjung lain yang berjumlah ganjil ketika mengunjungi Ice World di Taman Remaja Surabaya demi menghemat uang sebesar dua puluh lima ribu rupiah. Terkadang ceritamu membawaku ke dalam sebuah kontemplasi mendalam ketika tulisanmu mengingatkan tentang lamanya waktu hidup di dunia ini yang tak ada seorang pun tahu dengan pasti dan setiap kita bisa tiba-tiba pergi meninggalkan rumah sementara ini. Mungkin kamu duluan dan aku belakangan atau bisa juga aku belakangan dan kamu duluan. Siapa yang tahu? Dan ada pula coretanmu yang tidak bisa kumengerti dengan baik, yaitu ketika kau memposting video klip sebuah lagu dan kau tulis ulang lirik-liriknya yang berbahasa Inggris. Jelas aku bingung, aku tidak begitu mahir berbahasa Inggris dan jarang sekali menonton video klip lagu apalagi jika penyanyinya dari luar negeri.

Dear Nyah!

Sebagai penutup, di delapan tahun usia pernikahanmu dengan Tuan Besar, kudoakan semoga kalian selalu berada di dalam limpahan rahmat dan lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Semoga sukses pula dengan dengan Give Away dalam rangka tiga tahun ngeblog ini. Semoga sukses pula untuk dunia dan akhiratmu. Dan aku akan sangat berterima kasih jika dijadikan sebagai pemenang give away ini.

Pisssss!

 *****

 “Postingan ini diikutkan dalam Nyonya Besar Give Away”

fotos


Tulisan Terkait Lainnya :