Buta Mata, Melek Hati

masjid vector - 3Beberapa menit sebelum waktu isya menjelang, saya sudah memasuki masjid dengan ukuran yang tidak begitu besar itu. Saya melihat beberapa orang sudah hadir di di dalam masjid. Mungkin mereka adalah jama’ah sholat Maghrib yang tetap berada di masjid dan tidak pulang ke rumah selepas melaksanakan shalat maghrib, pikir saya.

Saya duduk di bagian paling belakang. Dari tempat saya duduk itu, saya bisa melihat dan memperhatikan orang-orang yang duduk dengan jarak beberapa baris di depan saya. Satu orang duduk dekat dengan posisi imam. Posisi duduknya agak miring ke kiri. Saya menangkap sesuatu yang lain dari orang tersebut. Di sebelah kiri agak ke belakang dari orang tadi, terdapat tiga orang sedang asyik ngobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, saya tak bisa mendengar. Namun, saya menangkap sesuatu yang tak biasa terhadap orang yang duduk di tengah-tengah, terapit oleh dua orang lainnya. Ketidaklaziman yang sama denga apa yang saya tangkap dari orang pertama tadi.

Adzan Isya berkumandang. Sholat sunnah rawatib pun dilaksanakan. Tak lama kemudian, iqamah pun dilantunkan. Semua jama’ah berdiri dan bergerak  mengisi shaf.

Saat itulah terjawab tentang apa yang saya tangkap mengenai sesuatu yang lain dari kedua orang tersebut. Keduanya dibantu untuk berdiri, menghadap kiblat, dan meluruskan shaf. Ternyata keduanya buta.

Selepas sholat, salah seorang dari keduanya berdiri dan berjalan keluar tanpa bantuan orang lain. Ia melangkah dengan ‘enaknya’ melewati jama’ah lain yang masih duduk.

Matanya memang buta, namun Allah memberikan kelebihan lain kepadanya yang tidak diberikan kepada manusia lain. Matanya memang tak melihat, tapi hatinya mampu menangkap sinar iman yang terkadang orang ‘melek’ pun tak mampu melihatnya. Ni’mat penglihatan yang tidak lagi dirasakannya ternyata tetap bisa membawanya untuk tetap hadir di masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah.

Sementara saya, tidak selalu menjawab panggilan itu.


Dari Abu Hurairoh berkata : “Telah datang kepada Nabi saw seorang laki-laki buta (Abdullah Ibnu Ummi Maktum) dan berkata, ”Wahai Rosulullah sesungguhnya aku tidak memilki seorang penuntun pun yang bisa mengajakku ke masjid.’ Dan dia meminta kepada Rasulullah saw agar memberikannya rukhshoh (keringanan) agar dirinya sholat di rumah maka kemudian Rasulullah pun memberikan rukhshoh kepadanya. Namun ketika orang itu membalikkan badannya Rasulullah saw memanggilnya dan berkata,”Apakah engkau mendengar panggilan (adzan) untuk sholat? dia menjawab,’ya’, Beliau saw berkata,’Sambutlah”. (HR. Muslim)

Tulisan Terkait Lainnya :