Sepiring Spaghetti

spagheti

“Aku tidak bisa masak!”

Aku hanya tersenyum mendengar jawabanmu saat itu. Sebuah jawaban yang mengisyaratkan keraguan di hatimu sesaat setelah aku memintamu untuk menjadi pendampingku.

“Aku tidak mensyaratkan pendampingku kelak harus pandai memasak. Sekarang sudah banyak warung nasi, kamu bisa membeli lauk-pauk dari warung nasi sebelah rumah. Itu sudah cukup bagiku. Sekali-sekali mungkin nanti bisa makan di luar. Lagi pula, selera makanku tidak macam-macam. Apa yang ada, akan aku makan. Kecuali satu, telur balado,” jawabku saat itu.

Tiga paragraf di atas ada penggalan di bagian awal dari sebuah coretan saya yang berjudul “Lelaki dan Semangkuk Mi Rebus”  Hanya sebuah cerita fiksi hasil dari sebuah imajinasi. Beberapa waktu kemudian, mungkin sekitar setahun lebih beberapa bulan sejak saya membuat coretan tersebut, kalimat dan obrolan yang rada mirip dengan penggalan cerita itu terjadi pula di awal perkenalan saya dengan Minyu. Kebetulan? Saya pikir bukan. Sebab di dunia ini tidak ada yang namanya sebuah kebetulan. Apa yang terjadi sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur (Ar-Rabb).

Di suatu sore, Minyu menghampiri saya yang sedang duduk menunggu di atas sepeda motor dengan membawa sebuah kantong lastik yang saya belum tahu isinya apa. Saya tawarkan kepada Minyu untuk menyimpan bungkusan tersebut di dalam tas saya yang kebetulan kosong. Minyu setuju.

“Isinya apa?” Tanya saya ketika kantong plastik tersebut berpindah tangan. Saya pun menyempatkan diri untuk melihat isi kantong plastik tersebut.

“Nanti mau bikin spaghetti.” Jawab Minyu.

Di dalam kantong plastik saya melihat sekotak spaghetti, sosis, dan sebungkus bumbu. Segera saya masukkan ke dalam tas lalu memacu sepeda motor untuk pulang ke rumah.

Beberapa  hari kemudian, Minyu melaksanakan niatnya. Saya melihat Minyu memotong-motong bawang bombay, mengaduk-aduk spaghetti di tas penggorengan, dan kemudian memberikan saya sepiring spaghetti yang sudah tercampur dengan bumbunya serta irisan sosis. Saya pun segera melahap spaghetti tersebut hingga ludes tak bersisa.

Kembali lagi kepada coretan berjudul “Lelaki dan Semangkuk Mi Rebus”, di bagian akhir cerita tersebut, saya menutup dengan beberapa paragraf berikut :

“Alhamdulillah!” Aku sudah menghabiskan semangkuk mi buatanmu.

“Sayang, masakanmu hari ini nikmat sekali.”

Kukirimkan pesan singkat tersebut ke nomormu. Aku sudah bisa membayangkan reaksimu nanti ketika membacanya. Sebuah senyuman pasti terlahir di bibirmu yang menambah manis wajahmu.

Ah, rupanya aku masih belum bisa mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu langsung di hadapanmu. Aku belum punya keberanian untuk itu. Maafkan aku.

Terhadap coretan saya tersebut, ada komentar yang bingung dengan ending ceritanya. Ada pula komentar yang ‘meledek’ karena beraninya memuji lewat SMS bukan memuji langsung.

Saya memang orang yang jarang memberikan pujian. Namun komentar atas cerita tersebut setidaknya memberikan masukan  kepada saya untuk berani memberikan pujian langsung. Mungkin itu lebih baik. Dan saya melakukannya di depan Minyu.

Beberapa saat kemudian, saya membanding-bandingkan rasa antara semangkuk mi rebus dengan sepiring spaghetti. Dan jawabannya adalah lebih enak spaghetti. Mungkin karena rasa dari semangkuk mi rebus itu adalah fiksi, sementara rasa dari sepiring spaghetti itu sangat nyata di lidah dan mengenyangkan di perut. Bukankah kenyataan lebih terasa dibandingkan sebuah imajinasi? Bukankah sesuatu yang nyata bisa jadi berawal dari sebuah imajinasi? Sepertinya, saya harus berimajinasi yang baik-baik. Jika imajinasi tersebut menjadi sebuah kenyataan, maka kenyataan tersebut adalah sesuautu yang baik pula. Mungkin seperti itu pula kiranya diri ini dalam berprasangka.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :