Jangan Kalian Tepati Janji Itu, Kawan!

Kawan. Mungkin sebutan itu yang akan aku gunakan untuk menyapa kalian yang telah mengucapkan janji beberapa waktu yang lalu. Aku berpikir, sapaan itu lebih cocok dan pas. Sebab kita belum pernah bertatap muka. Karena kita belum pernah berbicara meski sepatah kata. Lantaran hanya aku saja yang mengetahui tentang diri kalian, tentang janji-janji yang terucap dari lidah-lidah kalian. Sementara di lain sisi, aku yakin, kalian tidak mengetahui tentang siapa aku. Sedikit pun.

Melalui rangkaian aksara ini, aku hanya ingin berpesan kepada kalian. Melalui susunan kalimat-kalimat ini, aku hanya ingin mengingatkan kalian. Melalui tulisan ini, aku hanya ingin menyeru kalian. Jangan kalian tepati janji itu!

Aku meyakini bahwa kalian pasti sudah mengerti tentang apa itu janji. Kalimat yang kalian ucap secara lisan atau yang kalian susun dalam tulisan yang menyatakan bahwa kalian bersedia melakukan sesuatu perbuatan di masa depan, itulah yang namanya janji. Konsekuensinya, setiap janji yang sudah terlontar, haruslah ditepati. Jika tidak ditepati, maka ada indikasi bahwa salah satu ciri dari orang munafik bersemayam di dalam diri kalian.

Biasanya, aku akan menagih dan mengingatkan seseorang yang telah mengucapkan sebuah janji. Namun kali ini, kepada kalian, aku tidak akan menagih janji itu. Bahkan jika ada banyak orang yang menagih janji kalian, aku tidak berada di antara mereka. Aku akan meminta kalian agar tidak memenuhi janji kalian tersebut.

Jika kalian memiliki keyakinan yang sama dengan diriku, kalian akan mengakui bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan, sekecil apa pun, akan dicatat oleh para malaikat. Itu tugas yang mudah bagi mereka. Bahkan lebih mudah daripada sekedar mengabadikan janji yang kalian tulisankan melalui status atau kicauan kalian di dunia maya dalam bentuk file gambar seperti yang telah dilakukan oleh teman atau kontak kalian.

Mengenai sebuah janji, sekali lagi aku tegaskan, bahwa janji adalah hutang yang harus dibayar. Dilunasi.

Namun demikian, mungkin ada hal yang terlewat olehku. Ada hal yang tidak kalian sadari. Ada sesuatu yang belum mereka mengerti. Bahwa, tidak setiap janji harus dilaksanakan. Contohnya adalah janji yang pernah kalian tuliskan. Janji kalian terkait dengan pemilihan presiden yang baru saja diputuskan hasilnya. Janji kalian bahwa kalian akan melakukan sesuatu jika calon presiden yang kalian dukung kalah atau jika calon presiden yang tidak kalian dukung menang.

Di antara kalian ada yang berjanji akan memotong alat vital kalian. Di antara kalian ada yang berjanji akan berlari-lari tanpa busana. Di antara kalian ada yang berjanji akan gantung diri. Di antara kalian ada yang berjanji melakukan hal yang tidak sopan di tempat umum. Di antara kalian ada yang berjanji untuk pindah kewarganegaraan. Bahkan di antara kalian ada yang berjanji untuk pindah agama.

Sejatinya, mengingkari janji terhadap siapapun tidaklah dibenarkan. Namun, dengan janji-janji seperti di atas, ada sebuah pengecualian. Maka janganlah kalian menepati janji-janji tersebut.

Sebab janji yang kalian ucapkan itu bukanlah janji untuk melakukan perbuatan yang akan mendatangkan kebaikan, baik bagi kalian sendiri, apalagi bagi orang lain di sekeliling kalian. Janji tersebut hanya akan menimbulkan kerugian bagi kalian sendiri. Maka, menepati janji pada perkara-perkara seperti di atas bukanlah sifat orang-orang yang beriman, dan wajib untuk tidak menunaikannya.

Cobalah kalian resapi hadit berikut ini :

Tidak boleh menepati nadzar dalam maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahihul Jami’ no. 7574)

Kawan, cobalah perhatikan kembali janji atau sumpah kalian itu. Manakah yang lebih baik menurut kalian? Melakukannya atau meninggalkannya karena ada sesuatu yang lebih baik yang bisa kalian lakukan?

Jika kalian melihat dan mendapatkan jawaban bahwa lebih baik membatalkan janji atau sumpah tersebut, maka batalkanlah. Tinggalkanlah dan bayarlah dendanya. Aku kutipkan dalil yang bisa menjadi pegangan kalian.

“Jika engkau bersumpah, kemudian engkau melihat sesuatu yang lebih baik dari sumpah tersebut, maka batalkanlah sumpahmu (dengan membayar denda) dan kerjakanlah sesuatu yang lebih baik dari sumpahmu itu”. [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang disengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu”. [Al-Ma’idah : 89]

Sebagai penutup, sekali lagi aku mengingatkan, janganlah kalian melaksanakan janji-janji seperti di atas. Jika sutau saat kalian berjanji untuk melakukan kebaikan-kebaikan, maka janji tersebut haruslah kalian tepati. Dan hati-hatilah ketika kalian mengucapkan sebuah janji atau sumpah. Jangan pernah berjanji jika kalian merasa tidak sanggup untuk menapatinya.


Baca Juga Surat Lainnya :