Ketika Kejujuran Tidak Dikandung Badan

lebahBerikut ini adalah sebuah coretan lama yang bercerita tentang masa-masa saya sekolah di SMP. Coretan pernah saya buat dan saya publikasikan di MP pada tanggal 26 Januari 2007. Karena coretan ini tidak saya temukan di wordpress, maka saya mempublikasikan ulang.

********

Senin pagi, sekitar pukul tujuh lewat sekian menit, saya dan beberapa teman sedang berada di masjid samping sekolah. Karena terlambat untuk melaksanakan upacara bendera dan tidak mau dihukum, kami berdiam di masjid tersebut selama upacara berlangsung. Rencananya, bersamaan dengan bubarnya upacara, kami akan masuk ke ruang kelas.

Selama penantian tersebut, kami merasa tidak tenang. Gelisah. Kedua telinga kami buka lebar-lebar untuk mencari tahu sampai mana pelaksanaan upacara berlangsung. Ketika kami mengetahui bahwa pembacaan doa sudah selesai, kami pun bersiap-siap untuk berbaur dengan teman-teman kami yang akan bubar dari barisan upacara dan masuk ke kelas.

Kami pun berhasil masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Namun kami belum bisa lega dan tenang. Entah kenapa.

Beberapa saat kemudian, kami dipanggil oleh salah seorang pembina OSIS. Ternyata kecurangan kami tercium. Kami pun mendapat ‘hadiah’ pagi itu, sebelum kami diizinkan masuk ke kelas kembali.

Versi lengkap dari cerita di atas bisa dibaca pada tulisan berjudul “Nggak Jujur ya Nggak┬áMujur”.

********

Di bis Kopaja P-18 jurusan Cipulir – Tanah Abang, saya berdiri berdesakan bersama penumpang lainnya. Kopaja P-18 merupakan angkutan favorit saya dan teman-teman saat itu. Kami rela berlama-lama menunggu kedatangannya, padahal bila saya mau banyak mikrolet yang rutenya sama yang bisa saya naiki agar tiba di sekolah lebih cepat, tentunya dengan bayaran yang sedikit lebih mahal.

Setelah beberapa lama, kenek kopaja tersebut meminta ongkos kepada para penumpang, termasuk kepada saya. Ketika kenek tersebut meminta ongkos kepada saya, entah kenapa, saya berkata kepadanya bahwa saya sudah membayar ongkos. Kenek itu mungkin tahu bahwa saya belum membayar ongkos, dia pun ngotot. Tapi, sekali lagi entah kenapa, saya juga ikut ngotot. Akhirnya kenek tersebut tidak lagi menagih.

Setelah kejadian tersebut, jantung saya berdebar kencang. Pikiran saya berkecamuk dan bertanya-tanya sendiri, kenapa saya bisa berbuat demikian. Di sepanjang hari, kejadian tersebut terus terbayang-bayang. Tidak tenang.

Beberapa hari kemudian, ketika saya kembali berada di dalam kopaja P-18, entah mobil yang sama atau berbeda, saya menyisipkan uang kertas di salah satu kursi penumpang. Harapan saya semoga sang kenek, entah kenek kemarin atau bukan, akan menemukan uang tersebut sebagai ganti atas kebohongan yang saya lakukan sebelumnya. Sekaligus untuk memberikan ketenangan di hati saya.

********

Di ruang kelas, Pak Jamhari mulai membagikan soal ulangan. Persiapan saya yang kurang untuk menghadapi ulangan hari itu membuat saya kebingungan. Terpikir sebuah rencana untuk mendapatkan nilai yang bagus, mencontek.

Akhirnya rencana mencontek pun saya jalankan. Saya letakkan buku pelajaran di bawah meja. Untuk membaca tulisan di buku tersebut, saya manfaatkan lubang kecil di meja namun cukup untuk mengintip kalimat-kalimat yang tertulis di buku yang saya letakkan di ruang di bawah meja.

Ketika menemukan pertanyaan yang sulit, tangan saya mulai sibuk membolak-balik halaman buku di bawah meja. Mata saya pun mengintip dari lubang meja, sekaligus mengawasi gerak-gerik Pak Jamhari agar tidak ketahuan mencontek.

Tidak tenang, itulah apa yang saya rasakan ketika mengerjakan soal ulangan hari itu. Selain takut ketahun, ternyata saya juga kesulitan menemukan jawaban di buku pelajaran yang saya contek, karena saya tidak tahu di halaman berapa pembahasan dari dari soal-soal ulangan hari itu.

Seminggu kemudian, hasil ulangan dibagikan. Ternyata nilai saya pun jauh dari memuaskan. Sudah mencontek, nilai jelek pula.

********

Nawwas bin Sim’an ra. berkata, Nabi SAW bersabda : “Kebajikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu serta engkau tidak suka apabila perkara itu diketahui orang lain.” (HR. Muslim)

Wabishah bin Ma’bad ra, ia berkata, aku mendatangi Rasulullah SAW, beliau bertanya : Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan? Aku menjawab, “Ya, benar”. Beliau bersabda : Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebaikan adalah perkara yang membuat jiwamu tenang dan hatimu tenteram, sedangkan dosa adalah perkara yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meski telah berulang kali manusia memberi fatwa kepadamu”. (ini adalah hadits yang kami riwayatkan dari dua imam, Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan)


Tulisan Terkait Lainnya :