Pakaian : Penutup Aurat dan Perisai dari Api Neraka

buku-jilbab

“Kenapa Kak Rifki memilih Minyu untuk dijadikan istri?”

Minyu pernah bertanya demikian kepada saya pada proses perkenalan kami. Saat itu, Minyu masih memanggil saya dengan sebutan “Kak”. Sebutan tersebut kemudian berubah menjadi “Abang” untuk membedakan panggilan kepada kedua kakak lelakinya.

“Karena Minyu sudah mengenakan jilbab.”

Seperti itulah kira-kira kalimat yang mengawali jawaban saya. Saya berpikir, seorang perempuan yang sudah mengenakan jilbab mengindikasikan bahwa dirinya sudah mengetahui apa yang menjadi salah satu kewajibannya sebagai seorang muslimah, yaitu menutup aurat. Sebuah kondisi, yang lagi-lagi menurut pendapat saya pribadi, akan memudahkan bagi dirinya untuk memgetahui dan menunaikan kewajiban lainnya jika kelak menjadi seorang istri dan seorang ibu.

“Jilbab Minyu menutupi dada!”

Saya lanjutkan jawaban saya. Sependek pengetahuan saya, yang namanya mengenakan jilbab bukan hanya menutupi rambut, telinga, atau leher saja agar tidak terlihat oleh orang lain yang bukan mahram, tetapi juga harus dijulurkan hingga menutupi dada. Seperti itulah yang termaktub di dalam Al-quran Surat An-Nur ayat 31 :

“… Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka …”

“Baju yang Minyu kenakan juga nggak ketat!”

Saya tambahkan lagi jawaban atas pertanyaan Minyu.

Sepertinya, syarat menutupi dada dan tidak ketat yang agak diabaikan oleh sebagian desainer baju muslimah dan juga para hijabers.

Dari apa yang saya lihat dalam keseharian, cukup banyak model pakaian yang dikenakan muslimah dengan bentuk kerudung atau jilbab yang tidak menutupi dada, melainkan diikat sedemikian rupa sehingga tidak menutupi dada atau ukuran panjangnya yang memang tidak sampai menutupi dada.

Demikian juga ada sebagian muslimah yang sudah mengenakan jilbab namun baju, rok, atau celana yang dikenakan mereka seperti menempel pada kulit sehingga memperlihatkan lekuk tubuh mereka. Cara berpakaian yang demikian belumlah termasuk kategori sempurna dalam pandangan Islam.

Semoga Allah Subhanahu Ta’ala memberikan taufik dan hidayah kepada mereka sehingga cara mereka berpakaian menjadi lebih baik lagi. Begitu pula kepada para desainer pakaian muslimah agar bisa menciptakan model pakaian muslimah yang lebih baik lagi sehingga mampu menghasilkan fashion muslim yang sesuai dengan ketentuan syariat. Aamiin.

Alhamdulillah, saya tak menemukan kedua hal itu pada cara berpakaian Minyu. Maka mantaplah saya memilihnya untuk saya jadikan pendamping hidup saya.

Satu hal lagi yang saya lihat dengan cara berpakaian Minyu yang membuat hati saya bertambah mantap memilihnya adalah model pakaian yang dikenakannya sederhana. Simple. Bukankah simple is beauty? Sederhana itu cantik.

Jika saya ingin membelikan baju keluarga terutama untuk Minyu dan anak perempuan saya, jika saya diamanahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka beberapa hal di atas harus terpenuhi. Model jilbab yang dikenakan harus menutupi dada, tidak ketat, dan penampilannya sederhana. Tentu saja ada ketentuan tambahan selain ketiga hal tersebut, yaitu bahannya yang tidak tipis apalagi transparan. Saya ingin menjadikan pakaian yang dikenakan oleh anggota keluarga saya agar benar-benar berfungsi sebagai penutup aurat dan menjadi perisai yang melindungi kami sekeluarga dari api neraka.

Bagaimana dengan soal harga? Tentu saja masalah harga juga termasuk hal yang penting. Sebuah baju untuk saya, Minyu, atau Sabiq akan saya beli jika harga masih tergolong wajar. Mahal dan murah bisa tergantung situasi dan kondisi keuangan. Yang jelas “ada rupa ada harga”. Baju keluarga dengan kwalitas yang bagus tentu saja harganya akan lebih tinggi. Dan yang terpenting adalah, harga baju tersebut masih terjangkau oleh isi dompet saya.

Berdasarkan baju yang saya dan Minyu beli selama ini baik secara online atau offline, saya bisa pastikan bahwa model baju perempuan jauh lebih variatif dibanding baju laki-laki. Baju perempuan banyak model sehingga banyak pilihan. Sementara baju laki-laki tak banyak perbedaan antara satu dengan yang lain. Mungkin hanya beda di bagian kerah, kantong, dan corak atau warnanya.

Model baju bagi perempuan yang sangat variatif tersebut tentu saja adalah hasil karya dari para desainer handal. Mereka membuat model baju tersebut mungkin untuk mengikuti trend fashion muslim sesuai masanyaTak masalah dengan model baju perempuan yang beraneka ragam tersebut. Sebab Islam tidak mematok satu model pakaian saja. Yang mutlak harus diperhatikan oleh para desainer tersebut adalah keriteria pakaian yang sudah dipatok oleh syariat seperti yang sudah disebutkan di atas, yaitu jilbab yang menutupi dada, tidak ketat, dan bahannya tidak transparan.

Nah, bicara soal model baju, menjelang lebaran kemarin, ada keinginan saya untuk membeli baju keluarga dengan model sarimbit untuk saya, Minyu, dan juga Sabiq. Bukan karena ingin ikut-ikutan trend fashion muslim, melainkan karena dalam pandangan saya, baju sarimbit yang dikenakan oleh seluruh anggota keluarga melambangkan kekompakkan sebuah kelurga sebab corak dan warna pakaiannya sama dan serupa. Selain itu, di mata saya, sebuah keluarga yang seluruh anggotanya mengenakan baju sarimbit memberikan sebuah kesan sebagai keluarga yang bahagia lagi romantis. A happy family.

Sayangnya, saya tak menemukan model baju keluarga yang saya inginkan tersebut. Mungkin di lain waktu saya bisa membeli baju keluarga model sarimbit untuk saya, Minyu, dan Sabiq dan mengenakannya di momen-momen spesial kami.

 


Tulisan Terkait Lainnya :