Masjid Jami’ Al-Anwar : Tempatku Bermain dan Belajar

Masjid Jami Al-Anwar (sumber : googlemap)
Masjid Jami Al-Anwar (sumber : googlemap)

Setiap kota atau daerah pasti mempunyai masjid agung atau masjid utama yang menjadi ikon kota tersebut. Di kota tempat saya lahir dan dibesarkan, Jakarta, masjid yang paling besar adalah Masjid Istqlal. Ada pula masjid-masjid lain yang memiliki nilai sejarah seiring perkembangan kota yang sudah beberapa kali mengalami belasan kali pergantian nama, mulai dari Sunda Kelapa hingga DKI Jakarta. Namun, saya tidak menceritkan masjid-masjid tersebut. Saya hanya akan menceritakan sebuah masjid yang begitu dekat dengan perjalanan hidup saya. Masjid Jami’ Al-Anwar namanya.

Sebelum saya tinggal di Kelurahan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, saya dan kedua orang tua saya pernah tinggal di kelurahan sebelahnya, yaitu Sukabumi Utara. Di kelurahan tersebut, ada sebuah masjid yang bisa dikatakan sebagai masjid tertua dan terbesar di kelurahan tersebut. Mungkin karena alasan itulah, jalan lurus yang berada di depan masjid tersebut diubah namanya dari Jalan Berdikari menjadi Jalan Masjid Jami’ Al-Anwar.

Dahulu, bangunan Masjid Jami’ Al-Anwar belumlah seperti foto di atas. Selama beberapa kali pergantian kepengurusan, maka sebanyak itu pula Masjid Jami’ Al-Anwar melakukan renovasi sehingga menjadi megah seperti foto di atas.

Di masa kecil, saya sering bermain di pelataran Masjid Jami’ Al-Anwar baik di depan atau di samping bangunan masjid.

Saya dan teman-teman sepermainan menjadikan pelataran depan masjid sebagai tempat untuk bermain sepak bola atau bentengan. Jika kami bermain sepak bola, maka cukuplah bermodal sebuah bola plastik serta sandal jepit kami yang berfungsi sebagai tiang gawang. Jika kami bermain bentengan, kami memanfaatkan tiang-tiang yang ada sebagai benteng yang perlu kami pertahankan.

Sementara di pelataran samping masjid, kami menjadikan tempat bermain kelereng. Tembok yang memagari masjid kami jadikan sebagai tempat untuk memantulkan kelereng kami dalam permainan “tek-tok”.

Jika sebelum dikhitan, saya hanya berani berada di pelataran masjid, maka setelah dikhitan, saya sudah berani memasuki bangunan masjid. Di dalam masjid, saya dan teman-teman masih bisa bermain, belajar mengaji dan membaca shalawat. Namun hal terbesar bagi saya adalah, di masjid Masjid Jami’ Al-Anwar itulah saya mulai belajar untuk melaksanakan shalat wajib berjama’ah yang efeknya masih terus terasa hingga sekarang.

Masjid Jami Al-Anwar (sumber : googlemap)
Masjid Jami Al-Anwar (sumber : googlemap)

Seperti terlihat pada foto di atas yang saya ambil dari google map, bangunan Masjid Jami’ Al-Anwar saat ini sudah mengalami banyak perubahan dan bertambah megah dibandingkan masa-masa sebelumnya. Dengan demikian, jumlah jama’ah yang ditampung pun bertambah banyak.

Fasilitas di Masjid Jami’ Al-Anwar cukup lengkap.Di ruang utama masjid tersedia banyak kipas angin yang tergantung di atap. Ruang untuk mengambil air wudhu serta tempat buang air tersedia di sisi kanan dan kiri masjid. Jika sebelumnya tidak ada tempat wudhu dan shalat khusus wanita, sekarang sudah tersedia. Untuk keamanan dan kenyamanan, tersedia tempat penitipan sandal atau sepatu jama’ah.

Mungkin yang menjadi kekurangan masjid ini adalah tempat parkir yang kurang luas untuk kendaraan roda empat namun lebih dari cukup untuk kendaraan roda dua.

Seperti sudah disinggung sedikit di atas, Masjid Jami’ Al-Anwar berada di Jalan Masjid Jami’ Al-Anwar. Letaknya sangat strategis dan berada di tengah-tengah pemukiman penduduk. Berada di perempatan jalan yang bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kendaraan umum atau angkot yang melewati depan Masjid Jami’ Al-Anwar adalah Mikrolet M-45 yang melayani jalur Terminal Grogol – Joglo. Selain angkot, ojek sepeda motor bisa juga menjadi alat transportasi alternatif.

Jalan raya yang yang tak jauh dari lokasi Masjid Jami’ Al-Anwar di antaranya adalah Jalan Raya Kebayoran Lama, Jalan Raya Pos Pengumben, dan Jalan Panjang.

Karena terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk, maka tak ada Mall atau pusat perbelanjaan yang lokasinya dekat dengan masjid. Namun demikian, terdapat cukup banyak penjual makanan di sekeliling masjid dan jalan-jalan di sekitarnya. Jika ada yang menggemari tauco, di samping masjid terdapat rumah pembuat tauco yang sudah sangat terkenal karena kwalitas dan rasanya yang mantap.

Bagaimana dengan masjid di sekitar tempat Anda?

—oOo—

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Perjalananku dan masjid #HijrahMenujuIslamKaaffah


Baca Juga Cerita Tentang Masjid Lainnya :