Menjelajah Waktu, Memperbaiki Masa Lalu

time - waktuBerkhayal. Mungkin apa yang dikatakan oleh seorang teman saya benar adanya bahwa saya tidak terlalu pandai berkhayal. Daya imajinasi saya kurang kuat. Kesimpulan tersebut teman saya dapatkan ketika mengajukan pertanyaan yang kalau saya tidak salah ingat tentang apa yang mungkin ada di balik sebuah tembok tinggi dan panjang yang berada di sebuah hutan. Jawaban saya saat itu adalah ya mungkin hutan juga, minimal sebuah desa atau kampung. Padahal pilihan jawaban yang tersedia selain hutan atau kampung adalah kota atau pemukiman yang padat penduduknya.Namun demikian bukan berarti saya tidak pernah berkhayal. Saya pernah berkhayal. Hanya saja khayalan saya mungkin tidak terlalu keren. Biasanya khayalan tersebut muncul setelah menonton film di masa kecil.

Mungkin pernah terlintas ketika dahulu saya melihat film dan ingin menjadi seperti tokoh jagoan di dalam film tersebut. Misalnya, saya ingin memiliki otak encer seperti McGyver, memiliki mobil keren layaknya Michael Knight dalam Knight Rider, menaiki helikopter super canggih seperti di Air Wolf.

credit

credit

Namun film seri yang sukses membuat saya mengkhayal dari dulu dan terkadang masih juga terjadi sekarang adalah Voyagers. Sebuah film yang menceritakan seorang pemuda bernama Phineas Bogg dan seorang anak laki-laki berumur 12 tahun bernama Jeffrey yang melakukan perjalanan waktu dari masa ke masa.

“We travel through time. We help history along. Give a push were needed. When alarm is red, it’s mean its history wrong. Our job is get everything  back on track.”

Kalimat di atas selalu terdengar di setiap awal film seri Voyagers yang kalau saya tidak salah ingat ditayangkan di sore hari.

Mesin waktu yang dimiliki oleh Bogg dan Jeffrey  berupa jam saku terbuat emas yang disebut “omni”  yang memungkinkan keduanya berpindah waktu dan lokasi serta dapat menunjukkan di mana lokasi serta tahun berapa keduanya berada. Jika alarm omni berbunyi dan berwarna merah, maka itu pertanda bahwa di waktu dan lokasi keduanya berada terjadi kesalahan sejarah. Tugas keduanya adalah memperbaiki kesalahan tersebut. Sekecil apa pun.

Jika tugas mereka berhasil, alarm omni akan menyala hijau. Lalu mereka akan pindah ke lain masa dan lain tempat untuk memperbaiki kesalahan sejarah yang lain.

Saya berkhayal, seandainya saya memiliki alat tersebut maka saya bisa kembali ke masa lalu. Saya akan memperbaiki pilihan-pilihan yang  telah saya ambil secara kurang tepat. Saya akan memperbaiki usaha-usaha yang pernah saya lakukan namun belum maksimal. Saya akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan di masa lalu. Tentunya demi masa sekarang yang lebih baik lagi.

Tamanni. Demikianlah kaidah bahasa arab menyebutkan khayalan atau harapan yang saya miliki seperti di atas. Sebuah harapan atau keinginan yang tak mungkin bisa tercapai. Sebuah khayalan yang tak mungkin diraih. Sebab, mengubah jalan cerita saya di masa lalu akan mengakibatkan banyak perubahan pada jalan cerita milik orang-orang yang bersinggungan dengan saya saat itu.

Khayalan yang saya miliki tersebut mungkin mirip dengan khayalan sekelompok orang yang di akhirat kelak di masukkan ke dalam neraka dan mendapatkan siksa yang teramat pedih lalu mereka berharap dengan berucap “yaa laytanii kuntu thuraabaa,” andai saja dahulu aku menjadi tanah. (QS. An-naba : 40). Mereka berharap jika pada saat di dunia mereka hanya berupa tanah. Dengan demikian.mereka tidak akan mendapatkan siksa seperti yang merek jalani. Sebuah harapan yang tak mungkin terwujud sama sekali.

Senada dengan kondisi tersebut, saya teringat dengan salah satu pertanyaan orang bijak kepada para muridnya, “Apakah sesuatu yang paling jauh?” Para murid menjawab dengan menyebut nama tempat atau kota. Orang bijak tersebut membenarkan jawaban para muridnya sambil menambahkan, “yang paling jauh itu adalah masa lalu.”

Masa lalu tak akan pernah kembali. Karenanya tak akan pernah bisa diperbaiki. Dan mungkin sudah waktunya bagi saya untuk berhenti berkhayal seperti itu dan mengganti dengan khayalan atau harapan yang masih memungkinkan untuk dicapai dan diraih. Dalam kaidah basaha arab disebut dengan istilah tarajji. Biasanya, di dalam Al-quran, ayat yang mengandung harapan tipe ini mengandung kata “la’alla” seperti “la’allaku tuflihuun” (agar kalian menjadi orang yang beruntung) dan “la’allakum tattaquun” (agar kalian menjadi orang yang bertakwa).

Dan yang pasti, melakukan yang terbaik di masa sekarang, akan lebih berguna untuk masa depan.


Tulisan Terkait Lainnya :