Sabtu Bersama Bapak di Kampung Tumaritis

sabtu bersama bapak di kampung tumaritis

Sabtu Bersama Bapak adalah judul sebuah novel karya Aditya Mulya. Saya sudah membacanya beberapa waktu yang lalu. Novel tersebut saya peroleh karena coretan saya yang bertemakan surat untuk bapak terpilih menjadi salah satu pemenang yang berhak mendapatakan novel tersebut. Sementara Kampung Tumaritis adalah nama sebuah kampung yang saya kenal sejak membaca komik karya Tatang S dengan nama-nama Petruk, Gareng, Bagong, dan Semar sebagai tokohnya.

Jadi, judul coretan ini terdiri dari dua hal yang berbeda dan tidak ada kaitannya satu sama lain. Saya menyatukan kedua hal tersebut terkait dengan giveaway yang diadakan oleh Ade, pemilik blog limaunipes,  yang mengangkat tema buku yang pertama kali dibaca selain buku pelajaran dan kitab suci serta merekomendasikan minimal satu judul buku yang wajib dibaca oleh si empunya blog.

Baiklah, saya akan memulai dengan buku yang saya rekomendasikan yang layak atau bahkan wajib dibaca bagi penyelenggara GA ini meskipun keterangan di pengumumannya mendahulukan buku yang pertama kali dibaca. Tak apalah. Hal ini bisa jadi sebuah blunder yang saya lakukan, tapi bisa juga menjadi nilai lebih karena akan membedakan saya dengan peserta GA yang lain 😀

Sebenarnya ada dua buah buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca. Masing-masing berjudul “1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Luar Biasa” karya Helvy Tiana Rosa dan novel “Sabtu Bersama Bapak” karya Aditya Mulya yang saya jadikan judul coretan ini.

1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Luar Biasa” merupakan non fiksi yang berisi kisah-kisah yang mungkin pernah terjadi di sekeliling kita atau bahkan kita alami sendiri.

Salah satu kisah yang masih saya ingat meskipun bisa jadi saya tidak mengingatnya secara pasti adalah tentang seorang pelajar yang sering memeriksa kotak konsumsi yang tertinggal di ruang kelas atau rapat. Jika dia menemukan sepotong kue yang tersisa, dia akan mengumpulkannya untuk dibawa pulang.

Suatu ketika, apa yang dilakukan oleh pelajar tersebut dilihat oleh temannya. Sang teman bertanya apa yang sedang dia lakukan dan untuk apa. Pelajar tersebut menjawab dirinya sedang mengumpulkan kue sisa di dalam kotak untuk dibawanya pulang dan diberikan kepada adiknya yang belum makan. Sebuah jawaban yang membuat temannya tersebut menangis.

Terkadang, kita menganggap sepele terhadap makanan yang sudah kita ambil dan sudah berada di hadapan kita. Karena merasa itu adalah milik dan hak kita, kita memperlakukan sekehendak diri kita, baik memakan semuanya, atau memakan sebagian dan membuang sisanya. Bukankah ini sering terjadi di dalam resepsi pernikahan. Betapa sering kita melihat banyak sisa makanan yang terbuang karena tidak dihabiskan oleh para tamu yang mengambil tanpa memikirkan daya tampung perut mereka dan kesesuaian dengan indra perasa di lidah mereka.

Masih banyak lagi kisah yang berisikan pembelajaran yang bisa diambil dari buku tersebut. Sayangnya, buku “1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Luar Biasa” terbit sekian tahun yang lalu dan mungkin sudah tidak ada lagi di toko buku. Wallaahu a’lam.

Buku kedua yang saya rekomendasikan adalah novel “Sabtu Bersama Bapak”. Mungkin ini adalah novel yang selalu mengundang rasa penasaran sehingga saya selalu ingin tahu bagaimana kelanjutan dari ceritanya. Saya bisa menyelesaikan novel ini dalam waktu yang cukup singkat. Tentunya singkat menurut ukuran waktu versi saya yang kurang bisa menyelesaikan satu buku dalam waktu singkat.

Cerita di novel ini penuh warna-warni. Ada cerita yang mengharukan, ada kisah romantis, bahkan ada pula peristiwa yang mengundang gelak tawa. Isinya bisa dibilang lengkap, menurut saya.

Terlepas soal jalinan kasih dalam bentuk pacaran yang menjadi bagian dalam alur ceritanya (wajar karena novel ini bukan novel Islami), novel ini memberikan pelajaran dan juga pengingat bagi para pembacanya, baik yang saat ini menjadi seorang anak atau sebagai orang tua yang sudah mempunyai anak.

Jika kita adalah seorang anak, novel ini mengingatkan agar selalu mengingat pelajaran apa saja yang telah kedua orang tua kita sampaikan sejak diri ini masih kecil hingga saat ini. Apa yang orang tua berikan dan lakukan, mereka tujukan untuk kebahagiaan anak. Mengingat-ingat pesan dan nasihat kedua orang tua kita di saat kita dirundung masalah mungkin bisa menjadi salah satu pelita yang akan memberikan cahaya menuju pintu solusi.

Mungkin tidak semua nasihan dan pesan kedua orang tua kita baik dan tepat untuk dilakukan di masa yang berbeda. Pikiran dan perasaan kitalah yang akan mempertimbangkan semua itu. Memilih yang baik dan meninggalkan yang kurang baik.

Jika kita adalah orang tua yang sudah memiliki anak, novel ini mengingatkan agar kita harus mampu memberikan bekal yang cukup untuk kehidupan anak kita kelak. Sisa usia kita bisa jadi habis di tengah perjalanan mendampingi hidup anak-anak kita. Pelajaran hidup yang kita berikan kepada mereka bisa menjadi bekal yang kekal bagi mereka dalam mengarungi kehidupan tanpa pendampingan kita sebagai orang tua.

Islam mengajarkan bahwa pantang bagi para orang tua untuk meninggalkan anak-anak mereka dalam kondisi yang lemah. Lemah ekonomi, lemah ilmu, terlebih lagi lemah iman.

Berikutnya saya akan bercerita tentang buku yang pertama kali saya baca. Ketika saya mengingat-ingat, buku yang pertama kali saya baca selain buku pelajaran dan kita suci adalah komik. Saya ragu apakah komik bisa dimasukkan ke dalam kategori buku. Setelah bertanya kepada Ade melalui komentar, saya mendapat jawaban bahwa komik bisa dikategorikan sebagai buku.

Saya mengenal komik pertama kali ketika saya duduk di bangku sekolah dasar melalui komik karya Tatang Suhenra yang lebih dikenal dengan sebutan Tatang S sebagaimana yang selalu tertulis di setiap komik yang saya baca. Komik tersebut diterbitkan oleh Gultom Agency. Komik yang mengangkat tokoh pewayangan seperti Petruk, Gareng, Bagong, dan Semar dengan mengambil setting di sebuah desa bernama Tumaritis.

Komik karya Tatang S ini cukup tipis. Tebalnya 32 halaman yang terkadang terdiri dari dua buah cerita. Ceritanya berkisah tentang kejadian umum yang terjadi di masyarakat. Mulai dari kisah percintaan, horor, bahkan super hero.

Super hero yang diangkat oleh Tatang S adalah super hero yang terkenal di luar negeri. Seperti Superman, Batman, bahkan Robocop. Entah dari mana datangnya kemampuan luar biasa tersebut, yang pasti Petruk, Gareng, dan Bagong bisa menjelma menjadi super hero dan menjaga kemanan dan ketenangan Desa Tumaritis dari para pengganggu.

Seringnya saya membaca dan membeli komik tersebut di saat bulan puasa. Saat itu harga satu buah komik Rp. 150. Jika saya ingin membaca komik dengan harga yang lebih murah, saya bisa datang ke tempat penyewaan komik. Untuk satu komik saya membayar Rp. 25 sebagai uang sewanya.

Begitulah cerita pengalaman saya tentang buku yang pertama kali saya baca. Bagaimana dengan pengalaman anda?


Tulisan Terkait Lainnya :