Smart Berkendara di Jalan, Smart Mengarungi Kehidupan

Narsis Dengan Latar Cover Buku JJYT
Narsis Dengan Latar Cover Buku JJYT

“smart” adalah cerdas. Itulah yang pertama kali terlintas dalam benak saya ketika mendengar atau membaca kata tersebut. Untuk meyakinkan diri, saya membuka google translate dan mengetikkan kata “smart” untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesi. Dua kata teratas yang menjadi padanan kata “smart” dalam Bahasa Indonesia adalah cerdas dan pintar.

Saya lalu membuka kamus Bahasa Indonesia online untuk mencari tahu arti dari kata cerdas dan pintar. Hasilnya adalah sebagai berikut :

Cerdas, memiliki arti sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb), tajam pikiran.

Pintar, memiliki arti pandai, cakap, cerdik, banyak akal, mahir.

Jika demikian, maka smart itu tidak identik dengan penampilan luar seperti cara berpakaian. Padahal, sering muncul anggapan bahwa seseorang yang berkacamata itu identik dengan smart, cerdas, atau pintar.

Merujuk pengertian di atas, saya beranggapan bahwa seseorang dikatakan smart jika seseorang itu mampu menggunakan akal budinya dengan baik untuk berpikir, mengerti, dan memahami segala situasi dan kondisi di sekelilingnya, kemudian dengan kepandaian, kecakapan, kecerdikan, dan kemahirannya, merespon dengan sebuah tindakan yang baik pula bagi dirinya dan lingkungannya.

Seorang pengendara sepeda motor, misalnya. Menurut saya pribadi, seorang pengendara motor bisa dikatakan smart, jika memenuhi beberapa kretiteria.

Pertama, pengendara motor harus memiliki kemampuan untuk mengendarai sepeda motor dengan baik. Sudah mahir. Sebab jika belum, kemudian memaksakan berkendaraan di jalan, bisa membahayakan dirinya dan pengguna jalan yang lain. Misalnya berkendaraan dengan laju pelan tetapi selalu berada di tengah-tengah jalan. Ketika kendaraan di belakang membunyikan klakson dengan suara yang cukup keras, si pengendara kaget, hilang keseimbangan, lalu jatuh.

Selain itu, si pengendara motor juga harus sudah mengenal dan memahami fungsi kelengkapan pengendara maupun kendaraannya, helm, jaket, kaca spion, lampu sign, dan sebagainya. Semuanya itu memiliki fungsi masing-masing dan saling menunjang satu sama lain.

Kedua, pengendara motor harus bisa membaca situasi dan kondisi jalan raya yang dilaluinya. Marka jalan dan lampu pengatur lalu-lintas adalah dua di antaranya. Keduanya dibuat dan dipasang bertujuan untuk melancarkan arus lalu-linatas. Tujuan itu hanya bisa tercapai jika para pengendara mau membaca dan mematuhinya. Hanya membaca tanpa mau mematuhi, mustahil kelancaran akan terjadi.

Ketiga, pengendara motor juga harus bisa mengambil langkah yang lebih bermanfaat ketika berada dalam posisi yang tak diinginkan. Macet, misalnya. Membunyikan klakson, menggeber suara motor, menggerutu dan kesal sendiri ketika berada di dalam kemacetan adalah hal yang percuma alias sia-sia. Sebab ketiganya tidak akan membuat arus lalu-lintas menjadi lebih lancar atau tingkat kemacetan akan berkurang.

Menikmati kemacetan mungkin akan memberikan efek yang lebih baik untuk diri sendiri dibandingkan melakukan hal-hal seperti di atas. Bagaimana menikmatinya? Setiap pengendara motor mungkin punya cara masing-masing. Mulai dari melihat-lihat keadaan sekeliling atau mendengarkan lagu melalui handphone, adalah dua pilihan di antaranya. Berdzikir dengan melantunkan pelan surat-surat pendek atau shalawat, mungkin bisa dijadikan pilihan yang terbaik.

Keempat, pengendara motor harus mengetahui beberapa rute perjalanan yang bisa ditempuh untuk sampai tujuan dengan selamat dan cepat. Punya plan A dan plan B. Jika jalur yang biasa dilalui dalam keadaan macet, maka di satu titik dirinya bisa berbelok atau memutar untuk menempuh jalur lain dan terhindar dari kemacetan.

Mungkin lebih jauh jarak tempuhnya, tetapi bisa jadi itu adalah harga yang lebih murah dibandingkan waktu yang dihabiskan hanya untuk menggerutu di tengah kemacetan yang tak berkesudahan.

Saya menggunakan contoh pengendara motor sebab saya adalah salah satunya. Selama kurang lebih sepuluh tahun, saya menggunakan sepeda motor sebagai tunggangan menuju kantor. Saya berpikir, ada beberapa hal yang bisa dianalogikan antara seorang pengendara motor di jalan dengan seseorang menjalani hidup dan kehidupannya di dunia ini.

Ketika seseorang terlahir ke dunia, dirinya belum mengerti dan belum bisa melakukan apa-apa. Namun Allah Sang Maha Pencipta, telah memberikan bekal berupa akal untuk belajar dan mencari tahu tentang apa saja. Di kemudian hari, dengan pengetahuan yang didapat, dirinya bisa memilih mana yang lebih baik dan lebih berguna untuk dirinya maupun orang lain.

Jika seseorang itu smart, maka dirinya akan membaca, memahami, dan mematuhi aturan dan kaidah berkehidupan, baik tertulis maupun tidak tertulis. Sebab akalnya menemukan alasan di balik penetapan aturan dan kaidah itu.

Ada beberapa pembelajaran yang bisa ditemukan pada sebuah sepeda motor dan mungkin juga kendaraan bermotor lainnya.

Kaca spion, misalnya. Sebagai pengendara motor, saya akan melihat kaca spion bila ingin belok, memutar, atau mendahului kendaraan lain. Setelah saya pastikan kondisi aman di belakang, barulah saya mengambil ancang-ancang untuk belok, memutar, dan mendahului. Terkadang, saya pun akan menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi benar-benar aman, karena merasa tak cukup jika hanya melihat melalui kaca spion.

Dalam kehidupan, mungkin adakalanya seseorang harus menengok ke belakang sejenak. Mengingat-ingat kembali apa yang telah menjadi masa lalu. Bukan untuk menyesali apa yang sudah terjadi, melainkan untuk mengambil pelajaran untuk melangkah ke depan. Karena terkadang, kita sering jatuh untuk kesekian kali di tempat yang sama karena kita belum mampu mengambil pelajaran dari sebuah pengalaman. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik?

Kemacetan di jalan raya mungkin ibarat musibah terjadi di dalam kehidupan. Saat musibah menimpa, meratapi nasib tidak akan merubah keadaan. Marah kepada keadaan juga tidak berpengaruh apa-apa. Merenung dan mencari pelajaran berharga atas apa yang terjadi mungkin akan jauh lebih baik. Untuk kemudian bangkit dan melakukan sesuatu yang lebih berarti.

Jalan yang lancar akan disukai para pengendara. Namun, sebuah kesenangan kadang melenakan. Jalan yang lengang bisa membuat pengendara menjadi lengah dan hilang konsentrasi. Lalu kecelakaan pun bisa terjadi.

Kesenangan hidup yang semula adalah nikmat, bisa jadi berubah menjadi bencana bila tak pandai disyukuri. Rasa bangga bisa menjadi bumerang. Kesombongan bisa menjadi batu kerikil yang membuat seseorang tersandung dan terjatuh. Karenanya, berhati-hati di dalam setiap episode kehidupan itu perlu. Penting.

Membuat tulisan ini, bukan berarti bahwa saya adalah pengendara sepeda motor yang smart di jalan atau anak manusia yang smart di dalam mengarungi lautan kehidupan. Namun ada satu hal yang mungkin bisa menjadi indikasi bahwa saya adalah orang yang smart. Indikasi itu adalah saya bisa membuat tulisan seperti yang anda baca ini.

Ada yang protes? Ada yang ngomong bahwa siapa pun juga bisa membuat tulisan seperti di atas? Jika ada, silahkan buat tulisan seperti di atas. Dengan senang hati, saya akan menuliskan kalimat berikut di dalam kolom komentar tulisan anda : “Kita sama-sama smart!”

semangat


Tulisan Terkait Lainnya :