Maafkan Aku, Istriku (III)

Cerpen ini sudah dibukukan dalam kumpulan cerpen “Lelaki dan …” dengan judul lain, yaitu “Lelaki dan Bidadari”.

******

sambungan dari cerita sebelumnya di sini.

*

*

*

“…
Ya Allah, sungguh hamba telah berbuat kesalahan yang mengakibatkan kerugian bagi diri hamba dan keluarga, berilah hamba jalan keluar yang terbaik dari semua permasalahan ini.
Ya Allah, ampunilah diri hamba. Sungguh hamba telah berbuat zalim kepada diri hamba dan keluarga, jika engkau tidak mengampuni dan mengasihi hamba, pasti hamba akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.
Ya Allah, Sungguh kami yakin, bahwa Engkau tak mungkin membebani ujian kepada setiap hamba-Mu di luar kemampuannya. Namun kami sadar, kami hanyalah hamba-Mu yang lemah. Berilah hamba kekuatan untuk mengatasi permasalahan yang sedang kami hadapi ini.

Aamiin.
…”

Dengan suara bergetar dan berat kupanjatkan doa kepada Zat yang menguasai diri ini dan alam semesta. Sungguh sebuah doa yang mungkin paling khusyu’ dari semua doa yang pernah kuucapkan. Sementara Haisa senantiasa mengaimini setiap kalimat permintaan di dalam doaku.

Selesai berdoa, kubalikkan badanku menghadap Haisa. Haisa mendekat, lalu menggenggam tangan kananku dan mengecupnya. Kubalas segera dengan mencium keningnya. Kulihat dia kembali tersenyum. Sementara aku, dengan segala gejolak di dada dan di pikiranku, masih merasa berat untuk melukiskan sebuah senyuman balasan.

“Pah, jangan terlalu khawatir. Insya Allah doa yang baru saja Papah panjatkan pasti akan terkabul,” suara lembutnya memecah kesunyian ruang kamar.

Aku hanya bisa menghela nafas.

“Bagaimana bisa, Mah? Apa jalan keluarnya?” tanyaku penasaran.

“Papah masih ingat surat dan ayat yang tadi Mamah baca selepas sholat Maghrib?” tanyanya lagi.

Mungkin karena pikiranku dipenuhi dengan permasalahan yang ada sehingga tak kuasa aku mengingatnya lagi. Aku pun hanya menggeleng. Kembali Haisa tersenyum.

“Ayat yang tadi Mamah baca itu menceritakan tentang janji Allah kepada hamba-hambaNya yang bertakwa. Janji Allah itu di antaranya berupa memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang dihadapi dan mendatangkan rezeki dari jalan yang tidak terduga sama sekali. Papah yakin dengan janji Allah tersebut?” kembali ia bertanya.

“Ya. Papah yakin sekali,” jawabku mantap.

“Atas kehendak dan izin Allah, saat ini juga Mamah sudah punya jawaban dari permasalahan yang kita hadapi.”

“Apa, Mah? Apa solusinya, Mah?” tanyaku dengan penasaran.

Haisa hanya tersenyum. Kemudian dia bangkit dari duduknya, merapikan mukena dan sajadahnya. Aku pun merapikan sajadahku sambil memandangnya tanpa mengerti kalimat yang baru saja diucapkannya. Lalu mengikutinya ke mana dia melangkah.

Haisa melangkah menuju lemari pakaian. Dia buka salah satu pintunya, membuka satu laci di dalamnya, lalu mengeluakan sebuah kotak yang dilapisi kain beludru berwarna biru. Aku mengenail kotak itu. Ya, benar. Itu adalah kotak perhiasan yang kujadikan mahar ketika aku menikahi Haisa. Dia lalu menuju tempat tidur dan duduk di pinggir salah satu sisinya. Aku masih mengikuti di belakangnya dan duduk di sampingnya.

“Pah, di sini semua ada jawabannya,” ucapnya yang tentu saja membuatku kembali bingung.

“Apa ini, Mah?”

“Coba saja Papah periksa dan lihat sendiri,” pintanya sambil menyerahkan kotak tersebut kepadaku.

Masih dengan diliputi kebingungan, kuterima kotak tersebut. Kugoyang-goyangkan karena penasaran. Terdengar seperti suara beberapa keping uang logam di dalamnya. Segera kubuka kotak tersebut. Kotak pun terbuka dan isinya pun terlihat.

“Subhanallah! Ini milik siapa, Mah?”

Terkejut aku melihat benda bebentuk batangan berwarna kuning. Emas. Ya, itu adalah emas batangan. Setidaknya ada delapan batang dengan tulisan angka dua puluh lima gram tercetak di atasnya. Juga terdapat satu set perhiasan yang kujadikan mahar pernikahan kami. Di bawah emas tersebut terdapat sebuah buku tabungan dan beberapa lembar kertas yang setelah kuteliti ternyata itu adalah sebuah deposito.

“Milik Mamah, dong. Tapi sumbernya dari Papah,” jawabnya.

“Maksud Mamah?” tanyaku kembali.

“Papah ingat enggak? Dulu di awal bulan pertama setelah kita menikah, ketika Papah menyerahkan gaji pertama kali ke Mamah, Papah bilang apa?” Haisa malah balik bertanya.

Kucoba mengingat-ingat peristiwa tersebut yang terjadi sekitar delapan tahun yang lalu.

“Kalau tidak salah, Papah bilang mengangkat Mamah jadi manajer keuangan yah?”

“Ya, betul sekali. papah mengangkat Mamah yang tidak bekerja ini sebagai manajer keuangan rumah tangga kita. Terus, apa yang Papah lakukan ketika mengatakan hal itu apa?”

“Hm…. Papah menyerahkan gaji Papah dalam dua buah amplop dan bilang ke Mamah kalau isi amplop yang pertama silahkan Mamah gunakan sebaik-baiknya untuk keperluan rumah tangga, sedangkan amplop satunya lagi silahkan Mamah pergunakan untuk segala keperluan Mamah pribadi. Begitu kan?”

“Ya, betul sekali.”

“Jadi… semua ini…?”

“Iya, Pah. Semua benda-benda itu adalah uang yang Papah berikan setiap bulannya yang Papah bilang untuk keperluan pribadi Mamah sejak kita menikah sampai awal bulan kemarin. Meskipun Papah tidak lagi menyerahkan gaji dalam bentuk amplop, tapi melalui transfer, Mamah tetap memperlakukan gaji Papah tersebut sesuai permintaan Papah pertama kali itu. Untung Mamah terima aja waktu itu ya, Pah. Padahal Mamah mau nolak karena aneh aja pake dipisah-pisah gitu, Cuma karena itu permintaan dan mungkin perintah suami, dan bukan perintah untuk maksiat, ya Mamah terima aja.”

Saya menyimak cerita Haisa dengan mata yang berkaca-kaca.

“Karena keperluan Mamah tidak banyak dan sudah terpenuhi dengan uang yang memang dikhususkan untuk keperluan rumah tangga, jadinya Mamah tabung. Setelah mencapai jumlah tertentu Mamah pindahkan ke deposito atau Mamah belikan emas batangan seperti yang ada di dalam kotak itu,” sambungnya kembali.

Tak sanggup lagi aku menahan air mata untuk tidak mengalir ke pipi.

“Sudah, Pah. papah jangan menangis lagi. Seharusnya Papah gembira karena kebingungan Papah sudah terjawab. Masalah biaya persalinan dan biaya sehari-hari, insya Allah sudah tidak jadi masalah lagi. Sisanya, kita bisa gunakan untuk modal usaha. Gimana, setuju kan, Pah?” kembali Haisa menghapua air mataku yang membasahi pipiku dengan jari-jari lembutnya.

Lidahku membeku, tak bisa berkata apa-apa. Sementara hatiku mengucap puji dan syukur tak henti-henti.

“Izinkan Mamah untuk berbuat kebaikan bagi keluarga kita ya. Pah. Karena selama sekian tahu Papah sudah menanam benih-benih kebaika yang begitu banyak untuk keluarga ini.”

Aku masih tak bisa berkata-kata. Yang bisa kulakukan adalah memeluknya. Erat. Cukup lama aku memeluknya. Hingga kurasakan air mataku sudah lagi tak mengalir dan lidahku tak lagi membeku. Kulepaskan pelukanku, lalu kukecup keningnya.

“Terima kasih ya, Mah. Entah apa yang akan terjadi jika tidak ada Mamah di samping Papah,” ucapku.

Dia kembali tersenyum.

Sepertinya, di luar sana, hujan sudah reda seiring kebingunganku yang juga telah sirna.

“Pah, Mamah ngantuk. Mau tidur yah. Tolong kotaknya dimasukkan lagi ke dalam laci ya, Pah,” pintanya sambil menyerahkan kotak kayu tersebut.

Kuterima kotak kayu tersebut. Kubawa dan kumaskkan kembali ke laci di mana tadi Haisa mengambilnya. Lalu kembali ke tempat tidur. Haisa sudah terbaring. Kuselimuti tubuhnya agar hangat. Kududuk dekat kakinya. Kupijat-pijat telapak kakinya yang sering dia keluhkan terasa pegal seiring dengan kehamilannya yang semakin besar. Kunyanyikan sebuah lagu kegemarannya meski dengan suara yang pas-pasan dan nada yang sering kurang pas.

——ooooo00000ooooo——

The End