Lelaki dan Luka

“Apanya yang bagaimana?” Tanya lelaki itu dengan nada malas.

“Ya prosesnya. Sudah ada lampu hijau nih!” Ucap sang kawan dengan wajah ceria.

Lelaki tersebut hanya menarik napas panjang.

“Keinginan untuk ke arah sana masih ada. Tapi, masih ada sesuatu yang mengganjal. Dan karena sesuatu itu, jiwa, pikiran, dan emosiku masih labil. Aku juga khawatir jika jalur yang kupilih sama seperti dulu, akan muncul lagi bayang-bayang kegagalan.”

“Lantas?” Tanya sang kawan.

“Sepertinya aku harus menunggu hingga kondisi jiwa dan pikiran, dan emosiku pulih dari luka yang pernah kuderita.”

“Sampai kapan?”

“Entahlah!”