Maka Nikmat Tuhan Kamu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?

ilustrasi : http://shutterstock.com/

Sekitar pukul setengah enam pagi atau lebih sedikit, ruang tengah rumah sudah diisi dengan lantunan nasyid. Sumbernya adalah sebuah radio tape yang sedang memutar sebuah kaset di dalamnya. Hampir setiap pagi beberapa album nasyid itu diputar secara bergantian. Tergantung album yang mana yang ingin saya dengar.

Jika tidak salah ingatan,  saya mengenal nasyid ketika duduk di bangku SMA. Sambil mempersiapkan diri sebelum berangkat ke sekolah, saya sempatkan untuk menyetel salah satu album naysid yang menjadi koleksi saya. Kadang sampai selesai satu album. Kadang cuma beberapa lagu saja. Jika tidak salah ingatan lagi, kebiasaan tersebut saya lakukan hingga saya duduk di bangku kuliah.

—o0o—

ucaplah alhamdulillah, syukur kita kepada Allah

ucaplah alhamdulillah, syukur kita kepada Allah
shalawat ke atas nabi, Muhammad ya Rasulallah
shalawat ke atas nabi, ya Rasulallah
tanda syukur itulah taat
setiap tempat setiap waktu
syukur itu dapat dilihat
pada sikap dan tingkah laku

marilah bersama kita bersyukur
kepada Allah kita bersyukur

Alunan nasyid berjudul ‘Syukur’ yang dilantunkan group nasyid Raihan adalah salah satu nasyid dari album nasyid yang sering saya dengarkan. Bila mendengarnya dengan seksama, mungkin akan mengingatkan kita tentang apa yang sudah berada dalam genggaman tangan kita saat ini. Sebuah kenyataan bahwa semua atau sebagian dari apa yang pernah kita cita-citakan dan impikan kini sudah menjadi kenyataan.

Beberapa orang di antara kita mungkin sudah pernah mengenyam pendidikan sampai pada tingkat perguruan tinggi dan mengalungi gelar kesarjanaan. Ucapkanlah hamdalah karena ni’mat itu tak semua orang bisa meraihnya. Mengingat banyak teman-teman atau saudara-saudara kita yang mempunyai cita-cita yang sama, tapi mereka harus mendapati kenyataan berupa biaya pendidikan yang begitu tinggi yang tak kuasa ditanggung mereka dan keluarga. Akhirnya putus sekolah menjadi pilihan yang dipaksakan.

Alhamdulillah, saya dan anda, hingga saat ini masih bisa melakukan aktifitas pekerjaan di kantor, sekolah, rumah, atau entah di mana. Seharusnyalah syukur kita panjatkan kepada Allah, karena ni’mat ini masih dapat kita rasakan. Di belahan bumi lain, masih banyak para lulusan universitas yang masih sibuk mencari lowongan pekerjaan dan memasukkan lamaran ke berbagai tempat namun masih juga belum mendapat panggilan. Bahkan sebagian lain harus merasakan selesainya masa kontrak setelah bekerja selama beberapa tahun.

Bagi yang sudah menemukan belahan jiwa yang menemani perjalanan hidup, bersyukurlah. Karena masih banyak rekan-rekan kita yang masih berada dalam masa pencarian dan penantian.

Bagi yang sudah dikaruniakan buah hati, bersyukurlah. Karena masih banyak pasangan yang belum mendapatkan hasil dari apa yang mereka usahakan dan inginkan.

Bagi yang masih menyendiri alias jomblo, bersyukurlah. Karena keadaan itu jauh lebih baik daripada jatuh ke dalam jerat-jerat cinta sebelum masa halalnya.

Alhamdulillah, hari ini kita masih bisa menikmati sarapan dan makan siang yang ni’mat, sehingga kita melahapnya hingga habis. Mungkin di tempat lain, banyak saudara-saudara kita yang sarapan dan makan siangnya dilakukan bersamaan karena rezeki yang Allah berikan kepada mereka tidak sebanyak yang Allah berikan kepada kita.

Alhamdulillah, hingga detik ini kita masih dilimpahkan kesehatan. Semua panca indra kita masih berfungsi dengan sempurna. Karena banyak di antara saudara-saudara kita yang kini terbaring di rumah sakit dan harus menjalani perawatan yang tidak sebentar.

syukur itu sifat mulia
hindar dari tamak dan loba
rasa cukup apa yang ada
hati tenang hidup sejahtera

mari amalkan rasa bersyukur
hidup bahagia, aman dan makmur

syukur, syukur, syukur ya Allah
syukur alhamdulillah

Cukupkah bersyukur dengan hanya mengucap hamdalah? Tidak. Mengucap hamdalah hanya sebuah titik awal tanda syukur. Selanjutnya, masih banyak cara untuk mewujudkannya.

syukur itu banyak caranya
taat beribadah tekun berusaha
saling membantu berkasih sayang
murah senyuman tulus sedekah

marilah kita beramal bersama
rasa bersyukur kita suguhkan

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Kalimat pertanyaan tersebut berkali-kali diulang oleh Allah dalam surat Ar-Rahman. Kenapa Allah melakukan hal itu? Sebuah jawaban dapat kita temukan dalam surat lain di mana Allah berfirman “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS. Saba’ : 13)

Lantas,termasuk golongan manakah kita? Yang banyak atau yang sedikit?


Tulisan Terkait Lainnya :