[Terima Kasih] Pak Satpam

Semua orang pasti pernah berinteraksi dengan seseorang yang bertugas sebagai satpam, baik itu di komplek perumahan, kantor, pusat perbelanjaan, dan sebagainya. Menurut wikipedia, satpam alias satuan pengamanan adalah satuan kelompok petugas yang dibentuk oleh instansi/proyek/badan usaha untuk melakukan keamanan fisik (physical security) dalam rangka penyelenggaraan keamanan swakarsa di lingkungan kerjanya. Maka wajarlah jika semua orang pernah berinteraksi dengan satpam.

Seperti disebutkan di atas, satpam itu adalah kependekan dari Satuan Pengamanan, namun ternyata ada singkatan lainnya. Jika anda pernah berkunjung ke Gramedia Depok (jika kondisinya belum berubah, ketika anda keluar dari tempat parkir dan melewati pos satpam, maka anda akan melihat kepanjangan satpam yang beda daripada yang lain. Di dalam pos satpam tersebut tertulis “Saat Aku Tidur Pasti Ada Maling”. Saya sempat tersenyum sendiri ketika membacanya.

Setiap pagi, sebelum saya bertemu dengan reka-rekan kerja di ruangan saya, bahkan sebelum masuk ke gedung kantor, saya sudah bertemu dengan Pak Satpam. Seorang lelaki dengan seragam satpam lengkap berdiri di perempatan jalan di lingkungan kantor tempat saya bekerja untuk mengatur lalu-lalang kendaraan di antara para pegawai yang berjalan kaki. Saya yang mengendarai sepeda motor biasanya lebih pede melewati perempatan tersebut jika sudah mendapat aba-aba dari Pak Satpam. Jika tidak ada Pak Satpam yang bertugas, mungkin saya harus ekstra hati-hati, karena bisa jadi ada kendaraan lain dari arah kiri perempatan yang melaju tapi tidak bisa saya lihat karena terhalang.

Di pintu masuk parkir sepeda motor, kembali saya bertemu dengan Pak Satpam. Kali ini, yang memberikan kartu parkir kepada pengendara motor. Untuk para satpam yang bertugas di di tempat parkir tersebut, saya mempunyai pengalaman berharga yang sudah pernah saya ceritakan di sini.

Jauh sebelum kejadian di postingan tersebut, saya juga pernah terhindar dari kehilangan handphone karena ditemukan oleh seorang satpam kantor. Suatu ketika saya tersadar bahwa handphone saya tidak ada di saku celana. Saya coba mencari di meja kerja dan di dalam tas, ternyata tidak ada juga. Panik. Jatuh di mana? Pikir saya.

Akhirnya saya minta salah seorang kawan saya untuk menelpon ke handphone saya. Ternyata masih aktif. Setelah tersambung, terdengar suara dari seberang sana. Suara itu milik satpam lantai enam. Rupanya handphone saya tertinggal di musholla lantai enam setelah seusai melaksanakan sholat.

Saya pun segera ke lantai enam, menuju meja satpam. Ketika melihat saya datang, satpam tersebut mengeluakan handphone saya dari dalam laci mejanya. Sesaat kemudian, handphone sudah berpindah tangan.

Alhamdulillah. Bapak satpam itu memiliki hati yang mulia, yang tak mau memiliki apa yang bukan haknya.

“Terima kasih, mungkin tadi jatuh waktu saya sholat” ucap saya seraya kembali ke ruang kerja yang masih tak karuan.

Lain lagi ketika saya datang ke bank. Sambutan hangat Pak Satpam langsung terdengar di telingan saya bersamaan dengan dibukakannya pintu masuk. Begitu pula ketika saya meninggalkan bank. Ucapan salam dan terima kasih mengiringi langkah saya keluar bank.

Suatu ketika saya sempat ditegur dan diajak bicara oleh seorang satpam sebuah bank.

“Dari kantor atau dari rumah, Mas?” Tanya Pak Satpam.

“Dari kantor, Pak”, jawab saya mantap.

“Kerja di mana?” tanyanya lanjut.

“Di daerah Gatot Subroto.”

“Sebagai apa?”

“Jadi PNS, Pak.”

“Enak dong jadi PNS, tidak tegang seperti saya.”

“Tegang gimana, Pak?” tanya saya penasaran.

“Ya, tegang, tidak tenang. Soalnya saya kerja sama siapa tapi yang gaji pihak lain.”

Rupanya, Pak Satpam itu berstatus sebagai karyawan kontrak. Perusahaan yang mengontraknya berbeda dengan perusahaan di mana mereka bekerja, istilah kerennya ‘outsourcing’. Mungkin ada sisi yang tidak mengenakkan sebagai karyawan kontrak dibandingkan dengan karyawan tetap. Maka tak heran, jika Pak Satpam itu merasa tidak tenang dengan sistem seperti itu. Sebagi PNS, mungkin saya merasa jauh lebih tenang daripada Pak Satpam dan orang-orang yang bekerja dengan status kontrak. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”