[Nostalgia] Seni Rupa

nostalgia-seni-rupa

Mata saya memandang ke arah jendela yang berada di dinding mihrab. Mihrab adalah tempat imam berdiri ketika memimpin shalat berjama’ah di masjid atau mushalla. Kaca di jendela tersebut tidaklah tembus pandang. Selain tebal, kaca-kaca yang menyusunnya adalah kaca yang berwarna-berwarni.

Di bagian tengah, kaca-kaca tersebut membentuk tulisan lafzhul jalalah. Sementara yang menarik perhatian saya adalah susunan kaca warna-warni tersebut di keempat sudut jendela. Susunan tersebut sama dan serupa di setiap sudut, membentuk rangkaian yang simetris dengan gaya abstrak. Bentuk dan warna kaca tersebut membawa ingatan saya ke masa-masa SMA ketika mendapatkan pelajaran seni rupa.

Dari pelajaran seni rupa itulah, saya bertambah yakin kalau saya tidak pandai menggambar. Nilai hasil tugas saya selalu enam, kecuali tugas pertama. Di tugas pertama itu saya mendapatkan nilai delapan. Nilai tertinggi yang pernah saya raih dalam peklajaran Seni Rupa.

Tugas pertama saat itu adalah membagi sebuah bidang persegi panjang secara acak dan mengisi bagian-bagian tersebut dengan gambar apa saja. Peraturan atau ketentuannya cuma satu, bagian yang bersebelahan tidak boleh diisi dengan gambar yang sama.

Tugas di pelajaran tersebut yang masih saya ingat adalah menggambar kendi atau wadah lengkap dengan bayangannya, mencampur tiga warna primer kemudian dicampur lagi dengan warna hitam atau putih dan hasilnya dituangkan dalam kertas gambar, serta membuat gambar simetris. Untuk semua tugas tersebut saya hanya bisa mendapatkan nilai enam.

Mungkin, kalau saya bisa menggambar dengan baik, saya bisa membuat komik seperti Komik Jampang dan Eneng.

Terkait soal gambar, mungkin yang bisa saya lakukan adalah mengedit gambar dengan aplikasi di komputer. Itu pun bukan aplikasi canggih seperti photoshop. Saya baru bisa menggunakan aplikasi fireworks. Beberapa hasil editan gambar atau foto yang saya buat saya jadikan cover beberapa buku yang pernah saya terbitkan secara indie seperti yang bisa dilihat di sini.

Gambar Jam Gadang dengan latar belakang pelangi yang menjadi ilustrasi tulisan ini juga merupakan hasil editan saya. Tampilan lengkpanya bisa dilihat di link ini. Jika ada yang pernah mengunjungi jam gadang di Bukittinggi, pasti mengetahui bahwa latar belakang dari jam gadang bukanlah seperti gambar di atas.

Seni rupa, menjadi salah satu pelajaran yang tidak bisa saya kuasai semasa saya sekolah dulu. Mungkin saya lebih bisa menikmati seni kata seperti membuat puisi 😀


Tulisan Terkait Lainnya :