Yang Tak Kasatmata, Belum Tentu Tak Ada

http://www.deviantart.com

Sejatinya, malam itu adalah malam di mana langit akan dihiasi purnama. Purnama yang bisa jadi terbesar karena sang dewi malam tersebut berada pada jarak terdekatnya dengan bumi. Tapi apa daya, mata manusia yang lemah tak kuasa menembus pekatnya awan kelabu yang tak lama lagi meneteskan titik-titik hujan. Langit malam itu mendung.

Namun demikian, semua orang tahu, setiap malam tanggal lima belas di bulan kalender hijriyah, mendung atau cerah langit kala itu, purnama akan selalu ada. Terlihat atau pun tak nampak. Begitulah ukuran statistik yang berlaku sejak kehidupan dunia ini bermula.

Karenanya, jika malam itu Jakarta diselimuti mendung, di daerah lain, mungkin akan dipayungi langit yang cerah. Jika di Jakarta, angkasa malam itu tak menampakkan hiasan berupa purnama dan kerlip bintang, di belahan bumi lain, bisa jadi angkasanya begitu indah dipandang mata dengan hadirnya purnama dan bintang-bintang.

Kiranya, begitu pula kehidupan dan manusia. Jika yang ditemui di dunia ini berupa masalah, kesengsaraan, kesedihan, atau pun kekecewaan, itu bukan berarti solusi, kebahagiaan, kegembiraan, atau pun kesenangan tidak ada. Hanya saja kita belum menemukannya atau mungkin belum menyadarinya. Ada tirai yang belum terbuka.

Jika yang kita temukan adalah orang-orang yang berbuat kejahatan, bukan berarti tak ada orang yang berbuat kebaikan. Bisa saja kita belum bertatap muka dengannya atau kita yang menutup mata atas kehadirannya. Masih ada tembok yang menjulang.

Jika kita mengenal seseorang yang selalu membuat kita marah dan kesal, bukan berarti tak ada kebaikan yang ada dalam dirinya. Adakalanya kita yang tak pernah memikirkan dan merenungkannya. Ada hijab yang menjadi penghalang.

Jika kita merasa bahwa diri ini selalu ditimpa musibah dan kemalangan, bukan berarti anugerah dan kenikmatan tak pernah singgah di dalam diri. Bisa saja, karena tak ada rasa syukur yang mengiringi.

Jika kita merasa bahwa dunia ini sajalah tempat kita hidup, sehingga segala cara ditempuh agar kebahagiaan diraih, bukan berarti akhirat tidak ada. Pastinya, kita yang melupakannya. Karena iman di dada jauh dari sempurna.


Tulisan Terkait Lainnya :