Meluruskan “Fitnah” Itu

tangSuatu hari, melalui obrolan via gtalk, seorang rekan saya mengirimkan sebuah alamat jurnal yang dimuat di blognya. Saya pun meluncur ke TKP. Isinya mungkin mendekati curhat mengenai kesibukannya dalam keseharian sebagai seorang Working Mother sehingga hanya punya waktu sedikit untuk menulis dan mengupdate blog.Di bagian akhir tulisannya, saya mendapati kalimat yang menyebut blog jampang ini. Berikut kutipan kalimatnya.

“Suka ngiri pada teman yang bisa posting rutin, ya paling nggak berapa hari sekali kek. Eh..eh..malah ada yang rutin setiap hari loh, bahkan sehari bisa 4 sampai dengan 5 postingan hoho. Notifikasi di gmailku sampai penuh oleh postingan dia, colek bang Jampang ah.”

Sebenarnya saya tidak pernah menulis atau membuat postingan sebanyak itu dalam satu hari. Paling banyak tiga buah tulisan dalam sehari. Itu pun hanya terjadi sejak pertengahan Agustus hingga pertengahan September kemarin karena saya mengikuti ajang tantangan 30 hari ngeblog non stop. Itu pun di blog yang berbeda. Sebelumnya dan sesudahnya, paling banyak dua kali sehari.

Biasanya saya memposting tulisan di pagi hari dan sore atau malam hari. Itu pun tidak semuanya adalah tulisan yang berasal dari ide baru, melainkan dari tulisan-tulisan lama yang tidak terangkut ke blog ini yang kemudian saya edit sedikit.

Jika ada yang membaca postingan saya beberapa waktu yang lalu dengan judul berbahasa inggris, sebenarnya tulisan tersebut adalah tulisan yang sudah saya ikut sertakan dalam ajang tantangan 30 hari ngeblog non stop. Agar tidak sama, judulnya saya ubah dan isinya saya modifikasi juga. Kadang-kadang saya menggabung beberapa tulisan ke dalam satu postingan semisal introduction, Just Write It, Dream, dan Winner. Postingan yang isinya juga cukup panjang yang berjudul Sepucuk Surat Untuk Calon Istriku dan Sepucuk Surat Untuk Istrikujuga merupakan gabungan dan modifikasi dari beberapa tulisan dengan tag samara yang bisa dilihat di halaman depan blog ini.

Sebenarnya, sebelum tulisan di blog tersebut muncul, ada juga ungkapan serupa yang mungkin lebih ke arah protes dari seorang kontak saya karena banyaknya notifikasi postingan terbaru yang masuk ke emailnya. Mungkin lebih dari lima notifikasi dalam sehari.

Kenapa bisa begitu?

Mungkin begini jawabannya. Seperti yang pernah saya singgung sedikit dalam tulisan “Cahaya dan Bayangan : Masa Hilang Yang Tak Akan Terulang”  bahwa ada sekitar seratusan lebih tulisan saya di blog ini yang masih disetting private. Ketika saya mengubah status beberapa postingan tersebut menjadi public, maka wordpress menganggapnya sebagai sebuah postingan baru. Tombol yang ada di sisi kanan halaman posting juga bertuliskan “Terbitkan” bukan “Perbarui”. Karena menganggap postingan tersebut adalah baru, maka wordress akan mengirim email notifikasi kepada rekan-rekan yang mem-follow blog saya via email (menu di sisi kiri blog). Seberapa banyak postingan yang saya ubah dari private menjadi public, maka sebanyak itu juga email notifikasi masuk.

Jadi, penyebabnya bukanlah karena saya bisa menghasilkan empat atau lima tulisan dan mempostingnya dalam sehari, melainkan karena saya mengubah status postingan dari private ke public.

Semoga postingan ini bisa memberikan penjelasan yang cukup sehingga tidak ada yang overestimated terhadap diri saya. genit


Tulisan Terkait Lainnya :