Karena Semua Ada Ilmunya

ilustrasi : http://shutterstock.com/

Suatu ketika, saya berdiri di depan mesin fotokopi yang berada di lantai lima. Saya buka binder yang menjepit modul dengan tebal sekitar lima puluhan halaman yang berisi materi-materi pokok yang keesokan harinya akan saya sampaikan di tiga kelas yang diamanahkan kepada saya. Saya ambil halaman terakhir dari modul tersebut, kemudian meletakkannya di dalam mesin fotokopi. Saya tekan tombol berukuran paling besar dan berwarna hijau di mesin tersebut yang bertuliskan “start” di atasnya. Mesin fotokopi pun mulai bekerja.

Hasilnya, sungguh jauh dari memuaskan. Tidak seluruh halaman tercopy. Hanya tiga per empat halaman saja. Rupanya saya salah meletakkan posisi kertas yang akan dicopy. Kertas yang seharusnya diletakkan secara vertikal, saya letakkan secara horizontal. Untuk kali berikutnya, saya pastikan bahwa letak kertas sudah benar sebelum saya menekan tombol “start”. Alhamdulillah, hasilnya lebih baik.

Satu per persatu halaman modul saya copy. Karena tak terbiasa, saya menjadi tidak cekatan dalam melakukannya. Untuk mengambil satu halaman baru, membuka penutup mesin fotokopi, menukar halaman yang sudah dikopi, dan meletakkannya sesuai urutan halaman, itu semua sudah memakan waktu cukup lama bagi saya. Apalagi saya harus melakukan hal tersebut sekitar lima puluhan kali sesuai jumlah halaman di modul tersebut, ditambah lagi sambil berdiri. Capek dan pegal, itu yang saya rasakan. Namun alhamdulillah, akhirnya selesai juga.

Ternyata, pekerjaan para tukang fotokopi yang terlihat begitu sederhana, hanya menukar lembaran-lembaran kertas dan menekan tombol, bila dilakukan bukan oleh ahlinya, akan terasa cukup sulit dan melelahkan juga juga.

Kini, mesin fotokopi yang ada di lantai lima sudah lebih canggih. Ada fasilitas berupa slot yang memudahkan pengguna ketika akan meng-copy banyak halaman secara sekaligus. Sekian lembar dokumen cukup diletakkan di tempat yang disediakan, lalu tekan tombol “start”, maka mesin fotokopi akan bekerja. Meng-copy, menukar lembar yang akan di-copy, dan mengatur lembar hasil copy-an secara otomatis. Praktis. Cepat. Jadi, meng-copy dokumen dalam jumlah banyak bukan lagi masalah bagi saya.

Namun, hingga kini, saya masih belum bisa untuk meng-copy dokumen yang kedua sisinya terisi (bolak-balik). Apalagi meng-copy kedua sisi kartu identitas atau dokumen lain yang ukurannya kecil dengan pas.

Dahulu, ayah saya pernah mempunyai jarum dan benang sol. Suatu waktu saya mencoba menggunakan kedua benda tersebut untuk memperbaiki sepatu atau sendal saya yang rusak. Dengan susah payah, saya menusukkan jarum tersebut ke bagian sepatu atau sendal yang ingin saya perbaiki. Mengaitkan benang ke ujung jarum lalu menariknya keluar. Saya melakukannya di sepanjang sisi sepatu atau sandal saya yang rusak. Pelan tapi pasti, pekerjaan tersebut selesai. Tetapi hasilnya, sudah pasti jauh dari sempurna. Tidak seperti yang dihasilkan oleh tukang sol sepatu yang sering berkeliling.

Lagi-lagi, sebuah pekerjaan yang tampaknya sepele dan ringan, namun bila dikerjakan oleh bukan ahlinya pastilah hasilnya tidak sempurna, atau bahkan mungkin hancur berantakan. Lantas bagaimana dengan pekerjaan besar?

Wallahu a’lam.

*****

Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah saat-saat kehancuran”. Orang arab baduwi itu berkata : “Bagaimana amanah itu disia-siakan?” Beliau bersabda: “Apabila urusan disandarkan (diserahkan/dipercayakan) kepada selain ahlinya, maka tunggulah saat-saat kehancuran(HR. Bukhari dan Ahmad)


Postingan Terkait Lainnya :

Ikatlah Sebuah Ide Dengan Menuliskannya
Ikatlah Sebuah Ide Dengan Menuliskannya

Satu Guru Satu Ilmu, Jangan Ganggu!
Satu Guru Satu Ilmu, Jangan Ganggu!

Cari Tahu Dengan Hatimu : Sebuah Cerita Tentang Plagiat
Cari Tahu Dengan Hatimu : Sebuah Cerita Tentang Plagiat

Menjadi Lebih Baik Itu Lebih Baik Daripada Sekedar yang Terbaik
Menjadi Lebih Baik Itu Lebih Baik Daripada Sekedar yang Terbaik

Sebab Romantis Tak Selalu Berujung Manis
Sebab Romantis Tak Selalu Berujung Manis

repost