Cakwe dan Fuyunghai

cakwe dan fuyunghai
cakwe dan fuyunghai (edit hasil googling)

 

Trimester pertama sudah dilewati Minyu dengan susah payah. Makannya sedikit dan sering muntah. Berat badannya pun turun.

Kini, di trimester kedua, kondisi Minyu sudah lebih baik. Nafsu makannya ada sedikit peningkatan. Rasa mual dan muntah masih dialami namun sudah banyak berkurang.

Mual dan muntah biasanya masih datang dan dirasakan Minyu selepas berkumur-kumur atau sikat gigi. Supaya makanan yang sudah masuk tidak keluar lagi, Minyu gosok gigi tidak selepas makan agar ada jeda cukup lama dan makanan sudah mulai dicerna.

Soal berat badan, jika alat timbang badan di rumah tidak bermasalah, ada penambahan berat meski tidak banyak. Mudah-mudahan di hari-hari berikutnya, kondisi Minyu akan terus membaik. Demikian pula janin yang berada di dalam kandungannya.

Di awal-awal masa kehamilan, Minyu meminta beberapa jenis makanan secara khusus. Entah itu disebut ngidam atau bukan, sebab permintaannya tidak terlalu memaksa. Jika tidak bisa dipenuhi sekarang, bisa nanti saja. Jika tidak bisa dibelikan hari ini, Minyu langsung mengatakan bahwa belinya bisa besok atau lusa. Makanan yang diminta itu berupa siomay, singkong, dan sea food.

Di awal trimester ini, Minyu tidak lagi meminta ketiga jenis makanan di atas. Namun ada dua jenis makanan lain yang Minyu minta dibelikan secara khusus. Kedua jenis makanan itu adalah Cakwe dan Fuyunghai .

Minyu meminta saya membelikannya Cakwe di awal-awal puasa. Alhamdulillah, tak sulit mencari jenis makanan ini. Sekali cari, langsung dapat. Sebab saya sering melihat tukang Cakwe berjualan di pinggir jalan yang sering saya lalui.

Setelah berbuka, Minyu pun mencicipi Cakwe yang saya beli.

“Cakwenya asin!” lapor Minyu.

Ternyata, Cakwenya memang asin. Rasa asinnya bertambah bila dicocol dengan kuahnya :D.

Beberapa hari berikutnya, adik saya datang membawa Cakwe. Rasanya beda. Lebih enak. Setelah saya tanya, adik saya membeli Cakwe tersebut di Benhil. Tak jauh dari rumahnya. Beda tempat, beda harga, beda rasa. Sayangnya Minyu tak sempat mencicipi Cakwe tersebut. Mungkin belum rezekinya.

Beberapa hari yang lalu, Minyu menginginkan Fuyunghai dan meminta saya membelikannya. Untuk jenis makanan yang kedua ini, saya pikir, sepertinya agak sulit dicari di sekitar rumah.

Keesokan harinya, dalam perjalanan pulang kerja, saya lemparkan pandangan ke sisi kiri kanan jalan untuk mencari warung makan yang menyediakan chineese food. Hasilnya, nihil. Tak satu pun warung yang menjajakan chineese food. Akhirnya, saya pulang dengan tangan hampa.

Di sore berikutnya, kembali saya melakukan pencarian Fuyunghai. Kali ini saya pulang dengan jalur yang berbeda dengan yabg biasa saya tempuh. Ternyata hasilnya sama dengan sore sebelumnya.

Tujuan saya sore itu, selain mencari Fuyunghai, juga ke apotik untuk membeli vitamin.

Di saat mengkonfirmasi Minyu mengenail nama dan jumlah vitamin yang harus saya beli itulah saya teringat dengan sebuah warung makan Chineese Food yang lokasinya akan saya lewati saat menuju apotik. Padahal, di sore sebelumnya saya juga melewati warung makan tersebut 😀

Akhirnya, pencarian di sore kedua membuahkan hasil. Saya pulang ke rumah dengan membawa Fuyunghai pesanan Minyu.

Selepas berbuka, saya tanyakan mengenai enak atau tidaknya Fuyunghai tersebut di lidah Minyu.

“Enak!” jawabnya.

Alhamdulillah. Kali ini, saya tidak mengecewakannya.

 


Tulisan Terkait Lainnya :