Substitusi Nikmat

an-nahl-18

Sabtu, 17 Januari 2015

Koneksi internet di sebuah handphone diaktifkan. Beberapa saat kemudian handphone tersebut bergetar. Muncul notifikasi akan adanya pesan yang masuk dari Aplikasi WhatsApp. Beberapa pesan berupa kalimat serta gambar pun terlihat di layar. Dari sekian gambar yang terlihat terdapat sebuah MEME berupa petikan quote hasil kicauan di twitter dari akun @haikal_hassan.

Bila Anda digaji Rp. 10.000.000 oleh perusahaan, namun Anda bekerja seperti digaji Rp. 20.000.000, maka Allah akan membayar lebihnya dengan kesehatan, karir, keluarga sejahtera, anak yang cerdas, dan semisalnya.

Namun bila Anda bekerjanya seperti orang bergaji Rp. 5.000.000, maka Allah pun akan menuntut sisanya dengan penyakit, kesusahan, hutang, masalah, dan semisalnya.

Jadi bekerjalah maksimal. Ikhlaskanlah.Yakinlah dengan aturan-Nya. Lalu perhatikan yang akan Allah buat untuk kejayaanmu.

Rabu, 21 Januari 2015

Dalam kajian ba’da zhuhur di masjid kantor, sang penceramah sedikit menyinggung tentang substitusi meski tidak tersurat. Manurut beliau, nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala cabut dari dari dalam diri seseorang akan diganti dengan nikmat dalam bentuk dan rupa yang lain.

Beliau mengucapkan beberapa kalimat yang kira-kira seperti berikut ini :

Janganlah mata kita terlalu cepat silau ketika melihat orang lain mendapat sebuah kenikmatan. Sebab kita tidak tahu nikmat lain apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala cabut darinya –agar tak muncul rasa iri dan dengki.

Jangan pula diri terlalu cepat merasakan kecewa ketika ada sebuah nikmat yang tercabut dari diri kita. Sebab kita kadang tidak menyadari, nikmat lain apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan sebagai penggantinya –agar terhindar dari kufur akan nikmat yang diberi.

Namun nikmat terbesar yang tidak bisa diganti dengan apa pun adalah, kita mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Kamis, 22 Januari 2015

Susunan kalimat dengan pemilihan kata yang begitu indah mengusik kesadaran dan pemahaman tentang makna sebuah kebahagiaan. Susunan kalimat tersebut termaktub dalam bagian prolog buku “Lapis-lapis Keberkahan”.

Bahagia adalah kata paling menyihir dalam hidup manusia. Jiwa merinduinya. Akal mengharapinya. Raga mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia bayangan yang melipir jika dipikir, lari jika dicari, tak tentu jika diburu, melesat jika ditangkap, menghilang jika dihadang. Di nanar mata yang tak menjumpa bahagia, insan lain tampak lebih cerah. Di denging telingan yang menyimak bahagia, insan lain terdengar lebih ceria. Di gerisik hati yang tak merasa bahagia, insan lain berkilau cahaya.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :