Sufyan, Pemuda Dengan Kejujuran

simbi.bimasislam.com
simbi.bimasislam.com

Ini adalah cerita beberapa tahun silam ketika saya masih tinggal di Depok. Ketika setiap harinya saya melewati Lenteng Agung, baik berangkat ke kantor atau pulang ke rumah. Ketika saya sering berhenti dan mampir di salah satu masjid atau mushalla untuk melaksanakan shalat maghrib.

Di suatu Jum’at sore, saya memacu sepeda motor saya lebih cepat menyusuri jalan di Lenteng Agung untuk mengejar waktu Sholat Maghrib. Alhamdulillah, saya masih bisa melaksanakan shalat sholat Maghrib berjama’ah di salah satu musholla di daerah Lenteng Agung.

Mushalla tersebut memang sering saya singgahi jika kebetulan saya tiba di tempat tersebut berdekatan dengan waktu maghrib. Jika jalan macet, saya akan berhenti di masjid atau mushalla sebelmnya. sebaliknya, jika jalanan lancar, saya akan melaksanakan shalat maghrib di masjid atau mushalla setelahnya.

Selesai melaksanakan sholat, saya ingin buang air kecil. Saya segera menuju toilet mushalla. Sebelum masuk, saya mengeluarkan mushaf Al-quran kecil dari saku dan meletakkannya di atas pagar tembok. Setelah hajat saya tertuntaskan, saya segera menuju sepeda motor, menyalakannya, dan memacunya kembali untuk segera tiba rumah.

Keesokan harinya, setelah selesai solat shubuh, baru saya menyadari bahwa al-quran kecil yang biasa saya baca itu tertinggal di musholla.

Senin sore, seperti jum’at sore sebelumnya, saya memacu sepeda motor menyusuri jalan di Lenteng Agung untuk mengejar waktu Sholat Maghrib. Alhamdulillah, saya masih bisa mendapatkan jama’ah sholat Maghrib di musholla yang sama seperti Jum’at kemarin. Hanya saja saya menjadi masbuq, tertinggal dua rakaat.

Selesai shalat, saya mendekati sekumpulan anak yang sedang berkumpul di luar musholla. Kepada mereka saya menanyakan apakah mereka sholat Maghrib di sini pada hari Jum’at kemarin. Sebagian menjawab ya dan lainnya tidak. Lantas saya menanyakan apakah mereka melihat sebuah al-quran kecil. Ternyata tak ada seorang pun di antara mereka yang melihat al-quran kecil milik saya yang tertinggal.

Ketika saya sedang bertanya kepada sekumpulan anak itu, seorang pemuda datang mendekat. Pemuda dengan peci hitam di kepalanya yang merupakan salah satu jama’ah sholat maghrib itu mungkin ingin mengetahui apa yang sedang saya bicarakan dengan anak-anak tersebut, lalu salah seorang anak berkata kepada pemuda itu bahwa al-quran saya tertinggal di musholla.

“Quran kecil, ya?” Tanya pemuda itu. “Ada… Ada,” sambungnya.

Saya gembira sekali mendengar jawaban pemuda tersebut.

“Ahad kemarin saya melihat quran kecil di bufet musholla. Saya pikir punya teman yang tertinggal waktu pertemuan kemarin. Warna coklat kan? Di belakangnya ada nomor telepon?” tanya pemuda itu yang belakangan saya ketahui namanya adalah Sofyan setelah kami berkenalan.

“Iya,” jawab saya singkat.

Akhirnya kami menuju rumah Sufyan untuk mengambil quran saya yang dia simpan di rumahnya.

“Insya Allah, kalau ada barang yang ketinggalan dan kebetulan remaja musholla melihat, akan disimpan dan dikembalikan bila ada yang mencari. Kemarin ada jama’ah yang ketinggalan handphone, saya simpan aja di rumah. Paginya siempunya telepon. Saya persilahkan aja dia untuk mengambil ke rumah saya,” ceritanya sambil kami melangkah menyusuri jalan setapak yang agak gelap karena kurangnya penerangan.

Sesampainya kami di rumah Sufyan, saya dipersilahkan untuk menunggu. Tak lama kemudian, Sufyan keluar dengan membawa al-quran kecil berwarna coklat di tangannya dan segera menyerahkannya kepada saya.

“Terima kasih, mas,” ucap saya.

“Kapan-kapan mampir, kalo shalat. Kan deket dengan musholla,” ajaknya.

“Insya Allah,” jawab saya.

Sepertinya saya tidak bisa memenuhi ajakannya itu. Kini, saya sudah tidak pernah lagi melaksanakan shalat maghrib di mushalla itu.


Tulisan Terkait Lainnya :