Antara Detergent dan Perselingkuhan

cleaning-iconBelanja mingguan atau bulanan adalah hal yang mulai saya lakukan lagi sejak beberapa bulan lalu setelah cukup lama tidak saya lakukan. Saya melakukannya bersama Minyu. Tidak rutin di setiap tanggal tertentu, tergantung kapan habisnya  persediaan barang-barang kebutuhan sehari-hari di rumah.

Salah satu barang yang biasa kami beli adalah detergent. Sejak awal, kami setia membeli satu jenis detergent dengan merek tertentu. Ada dua alasan yang menyebabkan kami menjatuhkan pilihan kepada detergent tersebut yang selanjutnya saya tulis dengan detergent merek A. Harga yang lebih murah dibandingkan detergent merek lain dan berhadiah piring cantik. Biasanya kami membeli dua kantong. Dua buah piring pun kami bawa pulang sebagai hadiah.

Namun di kali terakhir belanja, kami tergoda dengan detergent merek lain. Sebut saja merek B. Alasannya, karena harganya lebih murah dan tetap mendapatkan hadiah sebuah piring cantik. Akhirnya kami membeli satu kantong detergent merek A dan satu kantong detergent merek B. Dua buah piring tetap kami bawa pulang sebagai hadiah.

Di rumah, setelah beberapa kali digunakan, detergent merek A pun habis. Kemudian saya menggunakan detergent merek A untuk mencuci di mesin cuci.

Dari penggunaan dua detergent tersebut, saya mendapatkan kesimpulan  bahwa detergent A menghasilkan busa yang lebih banyak, lebih harum, panas di tangan, dengan harga sedikit lebih mahal. Sementara detergent B menghasilkan busa lebih sedikit, kurang harum, tidak panas di tangan, dengan harga sedikit lebih murah.

Saya menyampaikan kesimpulan tersebut kepada Minyu.

“Ya, masing-masing ada kekurangan dan kelebihannya,” komentar Minyu. “Kalau gitu nanti beli yang merek A aja,” usul Minyu.

Kekurangan dan kelebihan. Sepertinya kedua hal tersebut selalu dimiliki oleh setiap barang atau benda. Bahkan manusia. Bahkan orang yang sekarang selalu berada di sisi. Pasangan hidup.

Ketika seorang lelaki telah memilih dan menerima seorang perempuan, atau seorang perempuan telah memilih dan menerima seorang lelaki sebagai pendamping hidup, maka yang dipilih dan diterima ada sebuah paket yang berisi kelebihan dan kekurangan. Tak bisa hanya menerima kelebihannya saja dengan tangan terbuka namun menolak segala kekurangannya. Tak bisa dipisah. Karena itu, keduanya saling menambahkan kelebihan masing-masing dan melengkapi segala kekurangan masing-masing sehingga keduanya menjadi sosok pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya.

Tentu saja, memilih dan menerima pasangan hidup tidaklah semudah memilih detergent seperti di awal coretan ini. Begitu pula dalam hal mempertahankan keutuhan hidup berpasangan.

Soal detergent, jika tidak cocok dengan yang sudah dibeli, bisa langsung dibuang dan bisa langsung diganti dengan detergent yang berbeda. Atau jika sayang dengan uang yang sudah dikeluarkan untuk membelinya, detergent tersebut bisa diberikan kepada orang lain atau dihabiskan dengan penuh keterpaksaan, sambil mengeluh, dan marah-marah. Tentu saja, detergent tidak bisa membalas dan melawan. Ia hanya benda mati.

Tetapi seseorang yang menjadi pasangan hidup bukanlah benda mati yang tanpa rasa. Secara sadar, dirinya pasti mengakui akan kekurangan yang dimilikinya. Mungkin akan lebih baik jika kekurangan tersebut disampaikan langsung lalu dikomunikasikan dengan baik-baik untuk mencari solusi yang terbaik untuk semuanya.

Marah? Itu mungkin reaksi yang wajar. Tapi itu tidak lebih menyakitkan dibanding mendiamkannya dan kemudian main belakang dengan orang ketiga. Apapun kekurangan pasangan, tak layak di bayar dengan sebuah perselingkuhan*.

*Kalimat terakhir adalah sebuah quote dari Asma Nadia dalam sebuah tayangan televisi yang saya ambil dari status salah seorang kontak saya di facebook.


Tulisan Terkait Lainnya :