Peniti : Kecil Bentuknya, Besar Manfaatnya

peniti

Pagi ini, saya mendengar salah seorang rekan saya menyebutkan suatu benda yang mungkin sudah lama saya tidak temui, peniti. Padahal benda kecil berbentuk unik ini dulunya sering sekali menemani keseharian saya. Dengan penasaran, akhirnya saya mendekati teman tersebut dan menemukan sebuah kotak penuh peniti.

Karena fungsi yang dimiliki peniti itulah, dahulu saya begitu dekat peniti. Saya pernah membawanya bermain, pergi ke sekolah, bahkan ke kantor. Bukan di dalam genggaman tangan atau pun di dalam saku, melainkan menempel di kemeja saya, menggantikan salah satu kancing kemeja yang copot dan hilang entah ke mana.

Di masa kecil, ketika ada kemeja saya yang kancingnya copot, maka ibu segera menggunakan sebuah peniti sebagai pengganti dari kancing yang copot tersebut. Dengan peniti, kemeja saya tetap terlihat rapi. Kala itu saya belum bisa menggunakan atau memasang peniti sendiri dengan baik. Jika saya sendiri yang memasang peniti, maka kepala dan sebagian besar peniti akan terlihat jelas menempel di kemeja saya. Padahal, penggunaan peniti yang baik adalah jika peniti tersebut tidak terlihat oleh pandangan mata. Karenanya, untuk urusan tersebut, saya serahkan kepada sang ahli, ibu saya.

Ternyata, benda kecil seperti peniti, bisa memberikan manfaat yang luar biasa besarnya. Bisa dibayangkan jika satu kancing kemeja terlepas, maka bagian tubuh yang seharusnya tertutup, akan terlihat oleh banyak orang. Namun, dengan rendah hati, peniti tak pernah menampakkan jati dirinya. Dia bersembunyi di balik kemeja dan sebisa mungkin tak terlihat. Tak pernah mau pamer.

Tak hanya memberi manfaat, peniti pun sering menjadi pengingat. Ketika peniti kecil itu diletakkan di sembarang tempat, maka ia bisa melukai tangan atau pun membuat ban kendaraan bocor. Maka jangan salahkan si peniti kecil, tapi salahkanlah manusianya yang tak menghargai hal-hal yang kecil.

Peniti ini juga mengingatkan saya akan cerita seorang teman tentang pengalamannya di bandara. Ketika itu, salah seorang kawannya melewati alat detektor logam, alat tersebut berbunyi, padahal tas dan benda lain yang diperkirakan mengandung unsur logam sudah dikeluarkan. Beberapa kali ia harus melewati alat tersebut dan setiap kali itu pula alat itu berbunyi.

Akhirnya, ia terpaksa membuka baju, kaos, serta celana panjangnya. Setelah itulah baru ditemukan penyebab alat detektor logam terus berbunyi. Ternyata, sebuah peniti menempel di celana pendeknya. Ternyata peniti kecil juga bisa membuat kehebohan dan kebingungan.

Bila peniti kecil sering kita anggap sepele, padahal manfaat dan bahayanya juga besar, bagaimanakah dengan dosa kecil yang sudah pasti kita miliki? Yang tentunya akan membuat kesulitan di alam kekal sana. Wallahu a’lam.

diikutkan dalam lomba :

The Unthinkable Things Around Us – Blog Contest

dan terpilih menjadi juara kedua