Dosa : Tak Selamanya Tentang Besar dan Kecil

arah anginTak selamanya dosa hanya terkait dengan ukuran besar dan kecil. Perbuatan yang mengakibatkan sebuah dosa, dapat juga terkait dengan beberapa hal lain.

Siapa pelakunya

Jika seorang awam yang tak dikenal banyak orang melakukan sebuah perbuatan dosa, kemungkinan untuk dilirik orang lain tidak begitu besar. Mungkin juga akan ada ruang pemakluman yang besar terhadap si pelaku. Namun akan beda halnya jika perbuatan dosa itu dilakukan oleh seseorang yang berpredikat sebagai tokoh masyarakat atau public figure. Kesalahan tersebut akan menjadi berita besar. Ruang pemakluman pun nyaris tak ada.

Perbuatan salah seorang artis misalnya, bisa menjadi sorotan masyarakat luas dan bukan hal yang mustahil perbuatan salah tersebut kemudian ditiru oleh para fans yang menyukai atau mencintai idolanya tersebut.

Perbuatan salah seorang guru, misalnya, besar kemungkinan menjadi hal yang akan ditiru oleh murid-muridnya. Sementara jika dilakukan oleh orang yang memiliki wawasan yang luas, bisa dipastikan tidak akan memiliki ruang pemakluman yang besar.

Jika sebuah perbuatan salah yang dilakukan oleh seseorang kemudian ditiru oleh banyak orang lain, maka sebuah dosa kecil tidak lagi menjadi dosa kecil. Sebab akan terus bertambah dan menumpuk hingga menggunung selagi masih ada yang meniru melakukannya.

Sebagai contoh perbandingan, entah pas atau tidak, hukuman bagi pelaku zina antara pelaku yang belum menikah dengan yang sudah menikah adalah berbeda. Jika pelaku belum menikah, maka hukumannya adalah dicambuk atau didera sebanyak seratus kali. Sedangkan jika pelaku sudah menikah, maka hukumannya adalah rajam.

Kapan dan di mana terjadinya

Di waktu tertentu dan tempat tertentu, pahala dari sebuah perbuatan baik akan dilipatgandakan. Hal ini juga berlaku pada dosa dari sebuah kejahatan yang dilakukan di waktu dan tepat yang sama. Hanya saja, jika balasan pahala dilipatgandakan baik secara kuantitas maupun kualitas. Sedangkan balasan dosa dilipatgandakan dari sisi kualitas saja, yaitu berupa azab atau siksa yang lebih berat.

Perbuatan baik yang dilakukan di bulan Ramadhan dan empat bulan yang dihormati (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) akan dilipatgandakan balasannya. Demikian pula jika perbuatan buruk yang dilakukan di bulan-bulan tersebut, maka dosanya juga dilipatgandakan.

Dalam Mathalib Uli An-Nuha (2: 385) disebutkan, “Kebaikan dan kejelekan berlipat-lipat dilihat dari tempat mulia di mana amalan tersebut dilakukan seperti di Makkah, Madinah, Baitul Maqdis dan masjid lainnya. Juga dilihat dari waktu yang mulia seperti hari Jumat dan bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, pen.). Adapun berlipatnya pahala, hal itu tidaklah diperselisihkan. Sedangkan berlipatnya dosa, kebanyakan ulama menyatakan hal itu ada. Pendapat ini mengikuti pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud. Para ulama peneliti menyatakan bahwa pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud dalam masalah berlipatnya dosa, yang dimaksud adalah berlipatnya dalam kayfiyah (kualitas), bukan dari kammiyah (kuantitas).”

Siapa yang menjadi objeknya

Menolak permintaan perbuatan baik dari seorang kawan, dampaknya tidaklah sebesar jika menolak permintaan perbuatan baik dari orang tua. Sebagaimana ucapan “ah” kepada teman sepermainan bisa menjadi hal yang biasa, namun menjadi perbuatan yang terlarang jika diucapkan kepada kedua orang tua.

Wallaahu a’lam.


Tulisan Terkait Lainnya :