Lelaki, Rok Mini, dan Hak yang Terenggut

rokDengan wajah berhias senyum, lelaki itu segera turun dari sepeda motornya dan langsung menuju pintu rumah.”Assalaamu ‘alaikum!” Ucapnya sambil membuka pintu rumah.Selangkah dirinya memasuki rumah, terdengar jawaban salam, “Wa ‘alaikumus salaam.”

Beberapa detik kemudian, sesosok perempuan sudah berada di hadapan si lelaki.

“Kelihatan senang sekali, Bang! Ada berita gembira, yah?” Tanya perempuan itu.

Tanpa bisa menyembunyikan rasa gembira di wajahnya, lelaki itu menjawab pertanyaan dengan senyuman. “Ini, ada seseuatu buat Eneng! Tadi Abang mampir ke ITC dan beli ini. Nanti Eneng, pake yah!” Sambil menyerahkan sebuah bungkusan berwarna hitam.

“Apa ini, Bang?”

“Eneng lihat aja sendiri.”

Keduanya lalu melangkah beriringan ke dalam kamar.

“Rok mini?” Tanya perempuan itu setelah membuka isi bungkusan.

“Iya.”

“Kok Abang beliin rok mini buat Eneng?”

“Ya gak apa-apa, kan? Eneng kan istri Abang. Yang jadi masalah itu kalau Abang beli barang untuk perempuan lain. Iya, kan?”

“Iya sih, tapi….”

“Tapi apa?”

Perempuan itu diam sejenak.

“Abang habis liat perempuan yang pake rok mini yah?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, lelaki itu langsung terkejut. Otaknya berputar untuk mencari jawaban dan alasan aman. Tapi yang dipilihnya adalah kejujuran.

“Abang nggak mencari-cari, Neng. Tapi dikasih lihat, gratis!” Jawab lelaki itu sambil cengengesan.

“Maksud Abang?”

“Ada perempuan berok mini yang di depan mata Abang. Yang naik motot sendiri, yang dibonceng, Abang nggak bisa menghindar. Kalau memalingkan mata, bisa-bisa terjadi kecelakaan.”

“Abang suka yah sama perempuan yang pake rok mini?”

“Bukan masalah suka atau tidak, tapi…”

“Jawab aja suka atau tidak?” Tanya perempuan itu dengan nada sedikit tinggi.

“Yaaa…” Entah itu sebuah jawaban atau bukan, yang jelas, kalimat lelaki itu seperti menggantung.

Mendengar kalimat sang suami, perempuan itu tertawa kecil.

“Kok Eneng tertawa?” Tanya lelaki itu keheranan.

“Karena Eneng nggak salah pilih lelaki yang jadi suami Eneng. Jawaban Abang itu menjunjukkan bahwa Abang itu lelaki normal!”

Legalah hati lelaki itu setelah mendengar jawaban tersebut.

“Sebenarnya, Abang pengen protes sama perempuan-perempuan itu.”

“Kenapa?”

“Karena hak Abang sebagai lelaki sudah direnggut oleh mereka.”

“Maksudnya?”

“Kalau bicara teori, ada kewajiban pasti ada hak bukan?”

“Iya.”

“Nah, perempuan itu kan punya kewajiban untuk menutup aurat. Jadi di sisi lain, laki-laki punya hak untuk tidak melihat yang mini-mini itu kan?”

Perempuan itu berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali tanda memahami pemikiran lelaki di hadapannya.

“Tapi, Bang. Lelaki juga kan diperintahkan untuk menjaga pandangan, iya kan?”

“Nah itu juga yang Abang mau protes.”

“Lho?”

“Sebagai lelaki, gimana Abang mau tenang dalam menjalankan kewajiban itu jika selalu diganggu. Iya, kan?”

Sekali lagi perempuan itu terdiam.

“Terus kenapa Abang beliin Eneng rok mini dan minta Eneng pake?”

“Lho, kan tadi udah Abang jawab. Karena Abang suka perempuan yang pake rok mini, apalagi kalau Eneng yang pake,” jawab lelaki itu. “Tapi pakenya hanya di depan Abang aja. Bukan di hadapan orang lain. Biar nggak ada lelaki lain yang protes karena hak mereka Neng renggut. Kalau semua perempuan kaya begitu, kayanya nggak akan ada lelaki yang akan protes seperti Abang.”

Lelaki itu memandang sang istri yang sedang berkaca di depan cermin sambil memegang rok mini warna hitam. Ia berputar ke kiri dan ke kanan seperti ingin memastikan apa dirinya cocok atau tidak mengenakan rok sepert itu.

“Cepet dipake, Neng!” Pinta lelaki itu.

“Nanti aja, ah!”

“Lho, kok gitu?”

“Abang mandi dulu sana! Kalau sudah wangi baru boleh lihat.” Ucap perempuan itu sambil mendorong sang suami keluar kamar.


Tulisan Terkait Lainnya :