Antrilah… Bersabarlah…!!!

antrianGerimis sedang menyapa bumi di senja itu. Saya sendiri merasakan langsung sapaannya sebelum tiba dan berteduh di sebuah klinik kesehatan yang memang menjadi tempat yang saya tuju. Untuk suatu keperluan.

Maghrib pun menjelang. Setelah mendaftar di loket, saya segera melaksanakan sholat. Selesai sholat, saya duduk-duduk di ruang tunggu menanti giliran. Pasien yang datang saat itu cukup banyak. Mungkin karena klinik kesehatan ini adalah untuk umum, maka pasien yang datang pun bermacam-macam. Dari anak-anak hingga orang tua, dari yang mengalami keluhan ringan hingga mengecek kehamilan. Bahkan saya melihat ada seorang pasien yang membawa hasil rontgen di tangannya.

Menit demi menit berjalan, namun saya belum juga terlepas dari antrian. Selentingan saya mendengar bahwa bisa saja saya meminta agar didahulukan, dengan memberikan sedikit pelicin kepada petugas di bagian pendaftaran. Tapi saya memilih tidak melakukannya.

Adzan isya berkumandang dari kejauhan. Saya dan para pasein lain masih tetap menunggu panggilan. Akhirnya saya putuskan untuk sholat isya terlebih dahulu di mushalla yang berada di dalam klinik. Giliran saya mungkin masih lama.

Setelah sholat isya, kembali saya menunggu. Pasien memang sudah agak berkurang, tapi ternyata masih ada beberapa pasien yang baru datang. Mungkin mereka sudah mendaftar sejak tadi dan baru datang untuk menghindari antrian.

Di sisi sebelah kiri saya, duduk seorang kakek, sendirian. saya melihatnya begitu sabar menanti giliran. Sejak saya tiba, beliau sudah ada di situ. Sementara di depan beliau duduk sepasang suami-istri. Sama seperti kakek, mereka menunggu giliran. Bedanya, si suami terlihat tidak tenang. Sesekali ia bangun dan bertanya kepada petugas kapan giliran mereka. Dari raut mukanya terlihat sedikit kekecewaan.

Di sisi kanan ruangan,  terlihat sepasang suami-istri yang juga sedang menanti tibanya giliran mereka. Terdengar pembicaraan diantara keduanya tentang apa yang mereka alami di tempat ini.

“Untung tadi kita enggak jadi nyogok, ya Mas. Kalau hal itu kita lakukan, berapa banyak orang yang akan kesal atau marah karena melihat kita datang belakangan tapi dipanggil duluan,” begitu ucap sang istri.

“Iya. Mas enggak mau mendidik hal-hal yang tidak benar kepada si dede,” timpal sang suami.

“Untungnya tadi kita uang lebih yang kita punya sudah kita berikan kepada yang membutuhkan, itukan jauh lebih baik.”

“Betul,” jawab sang suami sambil mengusap perut sang istri yang sedang hamil tersebut. Senyuman menghiasi wajah keduanya.

“Kita tidak menzholimi orang lain, apa kita dapat pahala?” tanya sang istri.

“Masalah pahala itu hak Allah, yang jelas kita sudah bisa mencegah diri kita untuk tidak berbuat zhalim kepada orang lain,” jawab sang suami.

Tak lama kemudian, nomor urut mereka dipanggil. Keduanya melangkah masuk ke ruang periksa.

Semoga keduanya tetap istiqomah. Saya juga. Amin.


Tulisan Terkait Lainnya :