Membeli Buku Sendiri di Toko Buku

Membeli buku sendiri di toko buku. Itu adalah impian saya selanjutnya. Saya ingin mewujudkannya dalam waktu dekat ini. Jika hitung-hitungan saya benar dan semuanya lancar, maka ramadhan ini buku tersebut bisa terbit. Terbit dari sebuah penerbit major.

Membukukan coretan-coretan yang saya buat sudah menjadi impian saya sejak beberapa tahun lalu. Semua bermula dari munculnya respon positif dari beberapa orang yang saya kenal melalui saling sapa di blog, saling berkunjung, dan saling memberikan komentar. Menurut mereka, ada tulisan-tulisan saya yang bagus dan layak dibukukan. Saya menganggap hal itu sebagai sebuah dukungan. Akhirnya saya bisa menerbitkan buku hasil corat-coretan saya tersebut melalui penerbit indie pada bulan Oktober 2011.

Di buku tersebut, saya menambahkan foto saya di sampul belakang. Ternyata, Syaikhan, anak saya menginginkan fotonya juga bisa ada di sampul buku tersebut bersama saya. Berikut penuturan keinginannya yang sempat saya rekam melalui kamera handphone.

Saya mulai berpikir bahwa, membeli buku sendiri di toko buku, adalah gabungan dari impian saya dan Syaikhan. Maka saya mencoba untuk mewujudkannya dengan mengumpulkan tulisan-tulisan yang mengisahkan kebersamaan saya dengan Syaikhan yang diwujudkan dalam bentuk sebuah surat. Sebuah surat dari seorang ayah untuk anaknya. Karena isinya adalah tentang Syaikhan dan saya, maka, jika buku tersebut nantinya, maka besar harapan saya foto kami berdua menjadi pengisi sampulnya. Begitu pikir saya. Itu harapan saya. Impian saya.

Akhir bulan Februari 2013, saya telah memiliki naskah setebal 200-an halaman yang berisi catatan kebesamaan saya dan Syaikhan. Mulai dari dirinya dalam kandungan, lahir, sakit, hingga keseharian kami berdua.

Cover Buku my deares syaikhan

Naskah tersebut kemudian saya kirim ke sebuah penerbit major via email. Konfirmasi via twitter menyatakan bahwa naskah sudah diterima dan saya akan diberi kabar jika ada perkembangan.

Hingga awal Ramadhan, saya belum mendapatkan kabar mengenai kepastian apakah naskah tersebut diterima atau tidak. Seandainya saja, naskah tersebut diterima dan proses selanjutnya tidak menemukan kendala, maka Ramadhan ini mungkin akan terbit.

Apa yang akan saya lakukan jika demikian yang terjadi?

Saya akan mengajak Syaikhan ke toko buku yang menjual buku tersebut. Lalu saya akan membeli buku tersebut sambil memperlihatkan foto kami berdua di sampulnya. Saya membayangkan Syaikhan yang begitu senang dan gembira melihat fotonya bersama saya di sampul buku tersebut.

Itulah impian saya di Ramadhan ini. Membeli buku sendiri di toko buku, bersama anak saya, Syaikhan.