[Rasanya Ada Yang Beda #12] Sebelum Buya Mendadak Imam

shalat berjamaah

Jika ada yang belum tahu mengenai seri “Rasanya Ada Yang Beda”, maka saya akan berikan sedikit penjelasan pada coretan kali ini. Dalam rangka mengisi blog ini, adakalanya saya membuat coretan yang berseri dengan menyertakan angka di dalam judul. Contohnya adalah “Celoteh Syaikhan” yang sudah mencapai seri ke 105, “Panik”, “MEME KKDS”, serta “Rasanya Ada Yang Beda” yang sekarang memasuki seri ke-12.

“Rasanya Ada Yang Beda” sendiri adalah seri coretan saya yang bercerita tentang kejadian lucu yang saya alami atau hal konyol yang saya lakukan dalam keseharian. Di seri ke-12 ini, saya beri judul “Sebelum Buya Mendadak Imam”.

Jika ada yang rutin membaca blog saya, mungkin sudah membaca coretan yang berjudul “Buya” dan “Mendadak Imam”. Judul seri ini adalah gabungan dari kedua judul coretan tersebut karena¬† bercerita seputar pelaksanaan shalat berjama’ah. Saya tambahkan kata “Sebelum” karena peristiwanya terjadi sebelum kecua cerita tersebut yang tiba-tiba muncul kembali dalam ingatan saya beberapa waktu yang lalu.

Dan beginilah ceritanya…

Saya dan dua orang teman sudah berada di mushalla yang berada di lantai empat. Setelah melaksanakan shalat sunnah, iqamah pun dikumandangkan. Dua orang teman saya tersebut sepertinya sudah berkolusi untuk menunjuk saya sebagai imam shalat. Mau tak mau, saya pun mengikuti keinginan mereka.

Saya berdiri di atas sajadah paling depan. Sementara kedua teman saya sudah berdiri di belakang dan siap mengikuti seluruh gerakan shalat yang saya lakukan.

“Allaahu akbar”.

Saya ucapkan takbiratul ihram sebagai pertanda dimulainya pelaksanaan shalat. Selanjutnya saya membaca doa iftitah.

Selesai Doa Iftitah, saya mulai membaca surat Al-fatihah yang merupakan salah satu rukun shalat.

“Bismillaahir rahmaanir raahiim.”

Saya lafalkan ayat pertama surat Al-fatihah itu dengan keras.

Deg!

Saya tak langsung melanjutkan dengan ayat berikutnya. Hati dan pikiran saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah. Rasanya ada yang beda!

Barulah beberapa saat kemudian saya melanjutkan bacaan ayat berikutnya dari surat Al-fatihah. Hanya saja tidak dengan nada yang keras. Melainkan pelan. Sebab shalat yang saya laksanakan adalah shalat fardhu di siang hari, Mungkin Zhuhur atau Ashar, sebab di kedua waktu itu bacaan shalat dilakukan dengan pelan (sirr) dan bukan keras (jahr).


Baca Juga “Seri Rasanya Ada Yang Beda” Lainnya :