Lelaki dan Gombalan Kompilasi

perempuandanhandphoneSabtu sore, Sekitar pukul empat, lelaki itu tersenyum-senyum sendiri di dalam kamarnya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Yang pasti, taman hatinya sedang berbunga-bunga.Sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, diambilnya handphone yang tergeletak di sampingnya. Dengan lincahnya, jari-jari lelaki itu mulai mengetik dan mengirim pesan singkat kepada seseorang.

Setelah mengirim beberapa kali pesan singkat sebagai pendahuluan. Lelaki itu menyampaikan keinginan sebenarnya.

“Neng, tahu nggak kenapa Abang lebih suka buah apel daripada anggur?” SMS terkirim.

“Nggak tahu, Bang.” SMS balasan pun masuk beberapa saat kemudian.

“Karena Abang lebih suka ng-apel-in Eneng daripada ng-anggur-in Eneng!”

“Weksss! Jadi nanti malam Abang mau datang ke rumah? Kebetulan, bapak sama ibu pergi.”

“Oke. Nanti Abang akan datang.” Lelaki itu mengirimkan SMS penutup.

******

Selepas isya, lelaki itu sudah siap segalanya. Sepeda otor kesayangannya sudah berada di luar rumah. Jaket pun sudah dikenakannya. Sebelum memacu sepeda motornya, lelaki itu mengambil handphone dari dalam sakunya untuk menelpon perempuan yang akan dijumpainya beberapa saat lagi.

“Neng, Abang mau berangkat!”

“Naik apa, Bang?”

“Naik motor.”

“Hati-hati! Jangan ngebut, ya!”

“Lho, Abang niatnya malah mau ngebut, Neng.”

“Kok gitu, Bang?”

“Iya. Biar cepet sampe ke hatimu.”

“*&^^%^&%$^%^&%!”

Di bawah langit malam dengan purnama, lelaki itu melaju di atas sepeda motornya. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat seperti halnya aliran darah di tubuhnya. Mungkin karena lelaki itu akan bertemu langsung dengan seorang perempuan yang selama ini dikenal hanya melalui suara dan foto.

Sekitar setengah jam kemudian, lelaki itu sampai di rumah tujuan. Purnama yang tadi begitu indah dengan sinarnya, kini mulai tertutup awan. Langit mendung.

Kedatangan lelaki itu kemudian disambut dengan penuh gembira oleh sesosok perempuan yang keluar dari dalam rumah. Keduanya kemudian duduk di teras dan langsung asyik dengan berbagai topik pembicaraan meski awalnya masih malu-malu.

“Abang ini kenapa, sih? Dari tadi Neng perhatiin, sebentar-sebentar ngeliat ke luar terus. Malas yah ngeliat wajah Eneng ?” Protes si perempuan.

“Nggak koq. Abang cuma heran. Bulan yang tadi Abang lihat ketika berangkat sudah nggak ada.”

“Ketutup awan kali, Bang!”

“Bukan. Tapi bulannya sekarang pindah ke hadapan Abang.”

“*&%##$*#$@&!”

Tak lama kemudian, hujan pun turun. Keduanya kemudian masuk ke dalam rumah. Dengan hiburan televisi yang menyiarkan siaran langsung pertandingan sepak bola, keduanya kembali melanjutkan perbincangan.

“Eh, Neng. Kalau Abang jadi pemain bola, Abang maunya jadi penyerang.” Ucap lelaki itu sambil menyaksikan pertandingan.

“Emangnya kenapa, Bang?”

“Supaya Abang bisa menyarangkan bola cinta Abang di hati Eneng!”

“*&%##$*#$@&!”

Beberapa saat kemudian….

“Eh, gak jadi, Neng. Abang jadi penjaga gawang aja.”

“Kok berubah? Supaya nggak capek lari-lari yah?”

“Bukan. Tapi supaya Abang terlatih menjaga jala asmara di hati Eneng agar tidak terkoyak.”

“*&%##$*#$@&!”

Mungkin karena sudah tidak merasakan dingin. Lelaki itu membuka jaketnya.

“Abang ini dari tadi ngegombal mulu kerjaannya,” protes perempuan itu. “Itu apa, Bang?” Tanyanya ketika melihat lelaki di hadapannya mengeluarkan sebuah buku berwarna biru.

“Oh, ini buku pertama karya Abang.” Jawab lelaki itu dengan bangga.

“Jadi Abang ini penulis?” Tanya perempuan itu.

“Baru pemula kok.”

“Eh, katanya kalau penulis itu tidurnya sering larut malam alias begadang. Bener ya, Bang?”

“Mungkin penulis lain seperti itu. Kalau Abang justru inginnya tidur cepat.”

“Kenapa begitu?”

“Supaya Aku cepat bertemu Eneng di dalam mimpi Abang.”

“Yeeee…. ngegombal lagi.” Teriak perempuan itu sambil menyubit lengan si lelaki.

“Aduh!” Teriak lelaki itu.

“Eh, Eneng tahu nggak? Sebentar lagi Abang akan nerbitin dua buku sekaligus.”

“Iya Bang?” tanya perempuan seakan tidak percaya. “Buku apa?”

“Buku nikah kita.” Jawab si lelaki.

Keduanya lalu tertawa bersama-sama.

“Neng, Bapaknya sudah berangkat haji yah?” Tanya lelaki itu lagi.

“Kok tahu, Bang?” Ucap perempuan itu sambil berharap akan ada gombalan lagi yang keluar.

“Kan kemaren berangkat hajinya bareng Abang.”

Wajah perempuan itu langsung manyun.

Selanjutnya, tak ada lagi gombalan yang keluar dari mulut si lelaki itu. Yang ada hanyalah kisah perjalanan haji yang telah dilakukan lelaki itu dan pertemuannya dengan kedua orang tua si perempuan. Hingga di akhir pelaksanaan haji, sang bapak menikahkan anak perempuan terakhir di keluarga itu dengan dirinya.


Tulisan Terkait Lainnya :