Surat Terbuka Untukmu [Iya, Untuk Kamu]

Hai, apa kabar?

Kuyakin, dirimu pasti terkejut setengah mati ketika membaca suratku ini. Sebab kita belum pernah berjumpa. Karena kita belum pernah berkata-kata saat bicara, baik ketika bertatap muka ataupun melalui jalinan suara. Lantaran kita berpijak di tanah yang letaknya sangat berjauhan. Kamu tidak mengetahui siapa diriku sebenarnya meskipun status kita di dunia maya sudah berteman. Tetapi aku mengetahui dirimu sedikit lebih banyak. Setidaknya melalui dunia maya. Sebab kamu sering berkata-kata di sana. Di sana pula aku bisa melihat wujudmu dalam bentuk foto yang kau jadikan picture profil dan kumpulan-kumpulan fotomu di dalam album yang kau buat.

Melalui surat ini, aku akan menyampaikan sesuatu yang mungkin akan membuatmu terkejut setengah mati lagi. Eh, mudah-mudahan nggak. Soalnya kalalu kamu udah terkejut setengah mati ketika menerima suratku ini, lalu terkejut setengah mati lagi setelah membaca apa yang kusampaikan di dalam surat ini, kamu jadi mati beneran dong. Jangan. Soalnya kamu cantik. Manis. Anggun.

Aku ingin menyampaikan tentang pikiran lelaki. Mungkin bukan lelaki secara keseluruhan. Hanya diriku. Atau mungkin para lelaki seperti diriku. Ketahuilah, aku sering sekali melihat dirimu mengupload foto terbarumu. Adakalanya foto tersebut kau jadikan picture profil di akunmu. Adakalanya beberapa foto kamu upload sekaligus untuk menambah koleksi albummu.

Bagiku, perempuan yang berpakaian tertutup terlihat lebih cantik. Lebih manis. Lebih anggun. Bukan berarti bahwa perempuan yang tidak berpakain tertutup itu tidak cantik, manis, atau anggun. Hanya saja, perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian seperti dirimu memiliki nilai lebih di mataku. Bukankah ketika dirimu datang ke toko pakaian dapat melihat perbedaan perlakuan antara pakaian yang berkwalitas tinggi dengan harga yang mahal dibandingkan dengan jenis pakaian yang lain?

Kau tahu apa yang ingin kulakukan ketika melihat fotomu dengan jilbab hitam berpadu dengan gamis bermotif bunga-bunga yang kau upload tiga hari yang lalu? Atau ketika melihat fotomu ketika menggunakan baju berlengan lebar dan panjang dengan rok berbahan seperti kaos dengan motif garis-garis yang kau upload di akhir perkan yang lalu? Aku ingin sekali memujimu. Aku ingin sekali berkomentar dengan mengetik kalimat “Wah, cantik sekali” atau “Manis!” atau “Wow… seksi!”

Tapi aku tak melakukannya. Aku berhasil untuk menahan hasrat untuk melakukan itu meskipun beberapa temanmu memberikan komentar yang bernada serupa. Bagi mereka, mungkin pujian tersebut tidak bermasalah. Mereka perempuan dan kamu juga perempuan. Tetapi aku adalah lelaki. Lelaki tidak sama dengan perempuan.

Kamu tahu apa yang menghalangiku mengetik sebuah kata atau kalimat komentar untuk memujimu? Karena dirimu sudah menikah. Kamu sudah bersuami. Aku khawatir, jika suatu saat suamimu melihat fotomu dan membaca komentarku, dia akan cemburu. Dia akan menginterogasimu tentang siapa diriku yang mungkin tidak bisa kau jawab secara lengkap. Aku khawatir jika kejadian itu akan mengganggu stabilitas rumah tanggamu.

Mungkin kamu akan menganggap apa yang menjadi kekhawatiranku itu berlebihan. Hanya saja, aku menyamakan posisi suamimu seperti diriku di saat aku sudah memiliki seorang perempuan yang telah menjadi milikku sepenuhnya. Aku akan cemburu jika mendapati peristiwa di atas terjadi di akun istriku. Aku adalah lelaki pencemburu. Mungkin berbeda dengan suamimu. Mungkin dirinya bukan pencemburu. Atau cemburunya tidak sebesar yang kupunya. Kamu yang lebih tahu tentang suamimu. Mungkinkah kamu pernah bertanya tentang hal itu kepada suamimu?

Sejujurnya, aku tidak pernah mencari-cari apakah ada banyak foto di album akunmu. Hanya saja ketika kamu baru saja melakukan upload foto terbaru dan langsung muncul di bagian awal halaman yang sedang kubuka, otomatis foto itu terlihat. Dan itu mengundangku untuk mengklik album untuk melihat foto-fotomu yang lain.

Kuyakin, jika ada lelaki yang meminta fotomu secara langsung dan terang-terangan kepadamu, pasti kamu akan menolaknya. Mungkin tak cukup sampai di situ. Kamu akan memarahinya. Karenanya, aku tak pernah meminta fotomu secara langsung. Cukuplah aku membuka album milikmu, memilih beberapa fotomu yang kunilai paling cantik, paling oke, paling manis di antara belasan atau puluhan foto yang tersedia. Lalu mendownload dan menyimpannya di laptop atau di handphoneku.

Untuk apa aku melakukan itu? Mungkin kamu akan bertanya-tanya. Kamu ingin tahu?

Aku akan memandang fotomu. Tidak setiap waktu. Mungkin hanya ketika setan-setan telah berhasil menyeret pikiran dan akalku ke dalam sebuah khayalan. Seperti semalam, sebelum tidurku. Aku memandang fotomu lekat-lekat. Lalu pikiranku dan khayalku mengajak sosok di foto itu untuk berkelana ke dalam sebuah fantasi. Fantasi yang liar. Hingga kemudian aku mencapai puncaknya. Lelah. Lalu tertidur.

Mungkin itu saja yang bisa kusampaikan kepadamu melalui surat ini. Apakah dirimu senang membacanya? Jika kamu merasa senang, kutunggu foto terbaru darimu.