Sepucuk Surat Banal Untuk MFF

mff_birthday

Dear MFF,

Apa kabarmu? Masihkah kau mengingat perjumpaan kali pertama kita?

Jika kedua pertanyaan itu kau ajukan kepadaku, maka dengan senang hati aku akan menjawabnya.

Aku baik-baik saja. Aku masih berusaha untuk membersamaimu meski kuyakin hal itu tak bisa kulakukan sepanjang waktuku. Namun kau perlu tahu, ketika mendengar kabar baru darimu, ada percikan gairah yang membangkitkan semangat untuk mengikuti apa yang menjadi kehendakmu.

Untuk menjawab pertanyaan kedua, sepertinya aku harus memutar kembali rekaman memoriku. Kejadian itu mungkin terjadi lewat satu tahun yang lalu. Ah iya, aku ingat. Perjumpaan pertama kita terjadi ketika gelaran tantangan Prompt#20. Aku yang belum begitu mengetahui seluk-beluk flash fiction mencoba untuk memenuhi tantanganmu itu yang mengangkat tema tentang lelaki. Maka lahirlah sebuah flash fiction yang kuberi judul “Lelaki dan Perceraian di Hari Pernikahannya

Sejak sat itulah, aku berusaha untuk memenuhi tantangan serupa di prompt-prompt berikutnya. Tanpa melewatkan satu prompt pun hingga di prompt#73. Mungkin aku berhasil dari sisi kwantitas, namun masih jauh dari kata baik dari sisi kwalitas. Buktinya, dari sekian banyak prompt yang kuikuti hanya empat buah flash fiction yang mampu menggugah hatimu. Apakah kau masih mengingat judul-judul “Nalini”  , “Zam Minara”, “Mata yang Tak Pernah Terpejam”, dan “Khompatu 306”? Itu adalah flash fiction milikku yang mampu membuatmu jatuh hati.

Kini, untuk memeriahkan ulang tahunmu yang kedua, kau sedang mangadakan MFF Idol. Ajang unjuk gigi para pecinta flash fiction yang berada dalam naunganmu. Aku sempat mengikuti tes awal dan lulus. Namun langsung terjungkal di babak pertama. Sepertinya, kemampuanku memang masih jauh di bawah para member lain. Mungkin aku akan mencoba tahun depan jika memang masih ada kesempatan.

Sementara ini, aku mendekatimu hanya dengan mengikuti tantangan prompt dan senin berpuisi yang kau adakan di setiap minggu. Aku belum bisa mengikuti fiksi mini. Mungkin karena aku belum terbiasa menulis hanya satu atau dua kalimat sebagaimana aku tak terbiasa menulis status di facebook. Nggak apa-apa, kan? 😀

Satu hal yang pasti, sejak mengenalmu, aku merasakan adanya penambahan kemampuan untuk membuat flash fiction, terutama menambahkan twist di akhir cerita. Sebab jauh sebelum mengenalmu, bagian akhir dari flash fiction yang kubuat tanpa ada twist sama sekali. Datar. Biasa saja. Banal.

Banal. Aku juga baru mengetahui kosa kata itu darimu. Aku membaca kata tersebut di dalam komentar-komentar para admin atau dewan juri saat menilai sebuah flash fiction. Semula aku pikir, kata tersebut hanyalah sebuah kesalahan pengetikan. Namun karena semakin sering aku lihat dan baca, aku mengeceknya di Kamus Bahasa Indonesia. Kasar (tidak elok), biasa saja. Begitulah arti kata “banal” yang kutemukan. Begitu pula kiranya surat ini. Surat yang biasa-biasa saja untukmu.

Selamat ulang tahun! Semoga di usia dua tahunmu ini kau tetap berjaya dan semakin eksis. Begitu juga di tahun-tahun berikutnya. Semoga, kehadiranmu bisa mengangkat tinggi-tinggi pesona flash fiction yang masih dianggap sebelah mata oleh banyak orang.

Salam sukses!


Baca Juga Surat Lainnya :