[FF] Tamanni

pilihan

Meski aku sudah membuka kedua mataku, hanya gulita yang kulihat.

“Hei!” teriakku setelah menyadari bahwa aku tak sendiri di tempat ini. “Apa ada yang bisa menyalakan lampu atau senter?”

Tak ada jawaban. Hanya gaduh yang menggema.

“Atau mungkin obor?” Sambungku sambil mencoba bangkit dengan meraba-raba tembok di belakangku.

“Untuk apa lampu, senter, atau obor?” sebuah suara dari sisi kananku balik bertanya. Suara laki-laki.

Pertanyaan yang aneh, pikirku. Namun hatiku merasa agak tenang karena ada orang yang menjawab pertanyaanku.

“Tentu saja untuk menerangi tempat gelap ini.”

“Gelap? Tempat ini justru penuh cahaya.”

“Maksudmu, hanya aku yang tak bisa melihat?” tanyaku heran.

Tak kudengar sebuah jawaban.

“Aku buta?” sambungku.

“Apa yang kau rasakan adalah jawaban atas pertanyaan yang baru saja kau ajukan.”

“Apa?” aku tak percaya dengan jawaban yang kudengar.

Kucoba menggerak-gerakkan kelopak mataku. Membuka dan memejamkannya berulang-ulang. Namun tak ada setitik cahaya pun yang kudapatkan.

“Mengapa kedua mataku buta? Padahal di kehidupan sebelumnya, aku bisa melihat dengan jelas!” aku protes.

“Hei, percuma kau protes! Bila kau pikir saat ini dirimu sedang bereinkarnasi dan berharap kehidupan sekarang akan lebih baik daripada sebelumnya, seperti yang kau inginkan, maka kau salah besar!” suara lelaki itu membentakku.

“Jadi di mana kita sekarang ini?”

“Ini tempat pembalasan!”

“Maksudmu?”

“Di sini, setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatan yang pernah mereka lakukan di kehidupan sebelumnya.Sebagian akan mendapatkan kesenangan atas perbuatan baik mereka. Sebagian lain akan mendapat siksa sebagai buah perbuatan jahat mereka.”

Jawaban laki-laki itu langsung membawa ingatanku ke masa laluku.

“Jadi kedua mataku buta sekarang ini adalah buah dari perbuatan jahatku?”

“Mungkin salah satunya.”

Tulang kakiku seperti tak bertenaga. Tak berdaya menahan beban tubuhku. Aku jatuh terduduk. Terbayang seberat apa siksaan yang akan kuterima.

Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah*,” kuberharap penuh penyesalan.

“Harapanmu hanya tamanni. Tak akan pernah terwujud!”

Duniaku gelap. Harapanku lenyap.

—o0o—

dalam kaidah bahasa arab ada dua jeni kalimat pengharapan.tarajji ==> harapan yang mungkin diwujudkan. di dalam ayat al-quran biasanya diawali dengan kata “la’alla” seperti : la’allakum tattaquun (agar kamu menjadi oang bertaqwa), la’allahum yarsyudun (agar mereka mendapat petunjuk) dan sebagainya. harapan tersebut masih bisa dan mungkin diwujudkan. insya Allah.sedangkan tamanni adalah kalimat pengharapan yang sia-sia karena mustahil diwujudkan. di al-quran biasanya diawali dengan kata “yaa layta”. contohnya “yaa laytanii kuntu turaabaa” (seandainya aku dulu berupa tanah). kalimat itu diucapkan oleh orang kafir ketika mendapat kenyataan bahwa mereka akan mendapat siksa di neraka karena tidak mau menerima agam Allah. mereka berharap menjadi tanah ketika di dunia, karena tanah tidak disiksa, sedang mereka disiksa. wallahu a’lam.

* akhir Surat An-naba ayat keempat puluh.


Baca Juga Flash Fiction Lainnya :