Es Teh Manis : Cinta Yang Tak Pernah Habis

es teh manisJika ada cinta yang tak pernah luntur, tak seperti warna yang melekat di pakaian yang terkadang merusak warna pakaian lain, itulah cinta seorang ibu. Jika ada cinta yang tak pernah pudar, tak seperti kecantikan dan ketampanan manusia yang pasti terkikis sedikit demi sedikit karena perjalanan zaman, itulah cinta ibu. Jika ada cinta yang tak pernah lekang sepanjang masa, tak seperti pergantian musim yang kadang datang dan kadang menghilang, itulah cinta seorang ibu.

Kasih ibu
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali
Bagai sang surya, menyinari dunia.

Lirik lagu di atas adalah sebuah gambaran tentang bagaimana kasih sayang kepada anak yang tak pernah habis, yang tulus ikhlas dan tak pernah meminta pamrih balas. Rasanya, jika mau dibandingkan dengan kasih sayang anak, maka kasih sayang ibu adalah sepanjang jalan, sedangkan kasih sayang anak hanyalah sepanjang penggalan.

******

Tiba di rumah, selepas memasukkan motor dan memberi salam, saya dekati kedua orang tua saya dan mencium tangan keduanya. Setelah membuka jaket, kemeja, dan meletakkan tas di kamar, saya menuju kulkas.

“Ada teh manis tuh di kulkas!” ucap ibu sesaat sebelum saya membuka pintu kulkas.

Saya buka pintu kulkas dan melihat ada tiga gelas es teh manis di bagian freezer. Masing-masing untuk ketiga anak beliau, saya dan kedua adik saya yang belum pulang kerja. Segera saya teguk kesegaran es teh manis tersebut yang sarat akan perhatian dan kasih sayang seorang ibu.

Terkenang saya akan peristiwa sepuluh tahun silam, saat saya baru bekerja. Kembali ke rumah, saya lalui dengan naik kendaraan umum. Jalan-jalan di Jakarta pada waktu jam pulang kantor sudah pasti macet. Kendaraan umum, apalagi bis, tentu saja tidak bisa leluasa sebagaimana motor. Mau tidak mau saya harus ‘menikmati’ suasana tersebut. Tiba di rumah sudah masuk waktu maghrib. Sambil melepas lelah, saya menuju meja makan. Di situ telah tersedia segelas es teh manis pelepas dahaga yang telah ibu siapkan sebelumnya dengan membeli es batu di warung dekat rumah.

Beberapa waktu kemudian, setelah di rumah ada sebuah kulkas, apa yang ibu lakukan tidak pernah berubah. Meski di dalam kulkas ada beberapa botol yang berisi air putih dingin yang rasanya cukup bagi saya untuk mengusir rasa haus di tenggorokan, tetap saja akan terselip segelas es teh manis untuk saya.

Kini, ketika saya terdampar di rumah orang tua saya, es teh manis itu tetap saya dapati di dalam kulkas bila saya tiba di rumah dari pulang kerja. Tak hanya satu, melainkan tiga gelas es teh manis dari cinta seorang ibu yang tak pernah habis.

Tak hanya berupa es teh manis, kasih sayang ibu pun terwujud dalam aneka rupa dan bentuk. Beberapa waktu lalu, mesin cuci di rumah rusak. Langsung terbersit keinginan di dalam hati saya untuk membelikan mesin cuci baru, menggantikan mesin cuci lama yang sudah menemani keluarga sekitar sepuluh tahun. Keinginan untuk membeli handphone baru pun saya kalahkan.

Tetapi ketika saya tanyakan kepada ibu apakah mesin cuci perlu diganti dengan yang baru, ibu saya menjawab tidak perlu. Mesin cucinya sudah bisa digunakan lagi setelah diperbaiki oleh adik saya. Ibu malah meminta saya membeli handphone saja, sekaligus untuk hiburan bagi Syaikhan.

Tak cukup mengalah soal mesin cuci, ibu masih mengalah demi kepentingan saya. Suatu ketika, saya pernah berucap bahwa saya tidak akan menikah lagi sebelum saya memberangkatkan ibu dan ayah ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Tapi jawaban ibu justru membuat hati saya menangis.

“Jangan pikirin, Mama. Kumpulin aja uang buat nikah lagi dan punya rumah. Mama sih gampang. Kalau emang Mama bisa berangkat haji pasti bisa berangkat. Kalau gak jadi berangkat juga gak apa-apa.”

Sungguh, shalat Maghrib yang saya lakukan setelah menikmati es teh manis buatan ibu sore itu adalah shalat Maghrib yang saya hampir menangis. Bahkan ketika melaksanakan shalat sunnah ba’diyah dan perjalanan pulang kembali ke rumah, mata saya masih basah.

********

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiraa. Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.


Tulisan Terkait Lainnya :