My Dearest Syaikhan : Video Untuk Nenek

syaikhan di masjid 2013-09-21
syaikhan di masjid

“Abi, aku punya tamiya!”

“Belinya mahal. Sekalian sama jalanannya, Bi.”

“Jalannya kenceng banget, Bi. Sampe lompat-lompat!”

Syaikhan, malam Sabtu kemarin, Abi menelponmu. Kamu mengucapkan kalimat-kalimat di atas dengan begitu semangat di ujung telepon sana. Kita tak bicara banyak karena kamu masih berada di luar rumah dan akan segera pulang. Sebagai penutup pembicaraan malam itu, Abi berjanji keesokan paginya akan ke rumahmu.

Sabtu, 21 September 2013

Syaikhan, sebelum ke rumahmu, Abi sempatkan mampir ke mini market untuk membeli beberapa makanan untukmu. Abi teringat ucapanmu di pertemuan kita sebelumnya yang menginginkan ek krim dan puding. Sebenarnya, di pertemuan sebelumnya Abi memang sengaja tidak membelikanmu makanan. Sebab Abi ingin mengajakmu membeli makanan bersama. Saat itu kamu setuju dan sudah bersiap-siap. Tapi rencana tersebut tak terlaksana. Untuk kali ini, Abi memutuskan untuk membeli makanan terlebih dahulu. Abi datang sambil membawa sari kelapa, puding, minuman rasa jeruk, ek krim, dan wafer. Kebanyakan berjumlah dua. Satu untukmu dan satu untuk Abi.

Ketika tiba, kamu mandi.

“Aku tungguin Abi lama banget.” Kamu protes. Namun kamu memakluminya ketika mengetahui bahwa Abi mampir dulu membeli makanan yang kamu sebut sebagai kado atau hadiah dari Abi.

Abi memintamu segera menghabiskan susumu sebelum sarapan. Kamu sengaja belum sarapan karena menunggu kedatangan Abi. Kemudian Abi menyuapimu.

Lalu kita memainkan “tabulate” bersama-sama.

“Abi, mau lihat aku main tamiya nggak?” Tanyamu beberapa waktu kemudian. Mungkin kamu bosan bermain “tabulate”.

“Mau.” Jawab Abi.

Kamu segera mengambil tamiyamu. Lalu meminta Abi mengganti baterenya yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Setelah Abi mengganti kedua betere dan menyatukan kembali badan tamiya, kamu menyalakannya dan meletakkanya di track. Mobil tamiyamu berjalan mengeliling track. Sekali. Dua kali. Lalu berhenti. Sepertinya tenaga baterenya tidak terisi dengan maksimal. Jika tamiya itu diangkat, rodanya akan berputar. Tetapi ketika diletakkan di track, rodanya akan berhenti.

Akhirnya kita sudahi permainan tamiya yang hanya sebentar itu. Abi tak sempat melihat bagaimana tamiya itu melompat keluar track seperti yang kamu ceritakan di telpon. Tak mengapa. Itu tak penting. Yang terpenting bagi Abi adalah bermain bersamamu. Bermain apa saja.

“Abi, main bola yuk!” Ajakmu kemudian yang langsung Abi iyakan.

Hari memang sudah siang dan matahari juga sudah terik. Untungnya ada ruang di garasi yang terlindung dari panas. Kamu berdiri di situ, sementara Abi di luar garasi. Ada tempat di bawah pohon yang terlindung juga dari panas matahari, tapi jika Abi bergerak untuk mengejar bola yang kamu tendang, Abi akan terkena panas. Dan itulah yang sering terjadi.

Meski tubuh dan wajah Abi banjir dengan keringat dan harus berkali-kali menyeka kedua mata yang terkena tetesan keringat, Abi bahagia karena bisa melihat dan mendengarmu tertawa saat menendang atau menangkap bola. Kamu senang, Abi juga senang.

Syaikhan, akhirnya kamu merasa cape dan mengakhiri permainan bola kita sekitar pukul setengah dua belas. Kamu duduk di sofa sambil menyalakan televisi dan meminta Abi membuka salah satu sari kelapa. Kamu memilih yang rasa leci. Dan ternyata pilihanmu lebih enak. Kita menghabiskan masing-masing satu gelas sari kelapa.

Tak lama kemudian, adzan zhuhur berkumandang. Abi mengajakmu ke masjid. Kamu memilih untuk pergi ke masjid perumahan baru daripada masjid yang biasa kita datangi sebelumnya.

Syaikhan, selepas shalat, Abi kembali menyuapimu makan siang sementara dirimu meminjam dan memainkan handphone abi. Kamu mainkan game main kata. Sekali. Lalu kami ingin menggambar dengan bertanya aplikasi yang biasa kamu gunakan untuk menggambar. Abi aktifkan aplikasi PicsArt. Lalu kamu asyik mencorat-coret baik di halaman kosong maupun di atas foto dirimu.

“Abi, ini buat apa?” Tanyamu sambi menunjukkan icon gambar kamera berwarna kuning.

“Itu untuk ganti-ganti warna foto.” Jawab Abi.

“Aku mau, Bi. Aku mau!”

Abi kemudian mengajarkanmu menggunakan aplikasi tersebut. Kamu terlihat senang. Kamu mencoba semua efek foto yang tersedia. Yang kamu paling suka adalah efek hantu dan kepala yang membesar. Kamu tertawa saat melihat kepalamu terlihat membesar.

“Abi, aku mau lihat video.” Pintamu kemudian.

Abi tunjukkan video ketika kita bermain bola bersama ketika Nenek datang untuk bertemu denganmu. Tak banyak videomu yang tersimpan di handphone Abi. Kamu pun bertanya. “Videoku mana lagi, Bi?”

“Abi udah pindahin ke laptop!” Jawab Abi.

“Abi, videoin aku lagi dong.” Tiba-tiba kamu meminta agar Abi merekam videomu. Padahal sebelum-sebelumnya agak susah memintamu agar bersedia difoto atau divideokan.

“Nanti kalau nenek tanya, nenek bisa lihat aku yang lagi main silat, Bi.” Jawabmu kemudian. Mungkin maksudmua agar nenek bisa melihat dirimu yang tumbuh besar dan sehat selalu. Jawaban yang membuat Abi terharu. Mungkinkah kamu merasakan kerinduan yang dirasakan oleh Nenek, Syaikhan?

Abi segera mengaktifkan video dan merekam dirimu yang sedang melakukan gerakan-gerakan “silat”.

Sekitar pukul dua siang, tiba waktunya Abi pulang. Kamu pun akan segera berangkat pergi.

“Abi, nanti kalau datang bawa kado lagi yah!” Pintamu.

“Syaikhan mau apa emangnya?”

“Sari kelapa, Bi. Yang rasa leci. Sama puding. Sama yang buat Abi.” Jawabmu.

Insya Allah, Abi akan membawakan pesananmu itu.



My Dearest Syaikhan Lainnya :