Banda Aceh : Sejarah yang Gagah Perkasa, Alam yang Indah Memesona, dan Kuliner yang Menggugah Selera

Sebelum saya menginjakkan kaki pertama kali ke Banda Aceh, telinga dan mata saya telah lebih dahulu mendengar dan membaca catatan sejarah Aceh. Ada dua kisah yang masih tersimpan di dalam memori ingatan saya. Kisah perjuangan Cut Nyak Dien dan ketegasan Sultan Iskandar Muda.

Di tahun 2012, saya bisa mengunjungi Banda Aceh. Dua kali. Pertama, di bulan September. Saya datang melalui Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda. Saya berada di Banda Aceh selama kurang lebih lima hari. Berikutnya di bulan Oktober, saya masuk melalui jalur darat menyusuri jalan panjang yang mulus dan lancar dari Meulaboh. Kedatangan kedua di Banda Aceh hanya untuk bermalam saja karena esok harinya saya kembali ke Jakarta.

Ada sebuah kejadian unik atau mungkin kebetulan — yang sebenarnya tidak ada, sebab semuanya terjadi atas kehendak dan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang saya alami di dua kali kedatangan saya ke Banda Aceh, yaitu saya menginap di hotel yang sama dan kamar yang sama. Hotel Grand Nangroe kamar 2025.

air kobokan

10 September 2012

Saya tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda menjelang sore hari. Saya dan beberapa teman langsung menuju hotel tempat menginap. Jalan yang kami lalui lancar. Tak ada kemacetan.

Selepas beristirahat, di malam harinya, kami keluar untuk makan sambil menikmati suasana malam pertama kami di Banda Aceh. Kami memilih sebuah warung makan yang letaknya tak jauh dari hotel.

Ada satu keunikan yang membedakan warung makan di Banda Aceh dengan warung makan di daerah lain. Jika di warung makan di daerah lain, termos plastik berisi ari yang ada di atas meja makan diperuntukkan diminum, maka di Banda Aceh, air di dalam termos plastik tersebut digunakan untuk cuci tangan. Jadi jangan sampai anda terkecoh dan salah minum.

11 September 2012

Museum Tsunami

Museum Tsunami terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Kira-kira 500 meter  dari Masjid Raya Baiturrahman. Bangunan yang kini menjadi ikon sejarah tersebut di bangun untuk mengenang peristiwa tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 yang menelan korban lebih kurang 240,000 jiwa. Museum ini dibangun dengan beberapa alasan dan tujuan, yaitu :

  1. Untuk mengenang para korban bencana Tsunami serta simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana Tsunami
  2. Sebagai objek sejarah dan pusat pendidikan dan penelitian tentang bencana Tsunami.
  3. Sebagai pengingat bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia dan pusat evakuasi jika bencana tsunami datang lagi
  4. Sebagai warisan kepada generasi mendatang di Aceh dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi tsunami.

Bangunan yang unik dan megah. Begitu yang terlintas di dalam pikiran saya ketika melihat Museum Tsunami dari luar. Tak hanya ingin melihat dari luar, saya dan teman-teman akhirnya masuk untuk melihat isi museum.

Akses masuk ke dalam museum berupa lorong yang cukup panjang dan dinding yang cukup tinggi. Lorong Tsunami. Kedua dinding yang mengapit lorong tersebut dialiri air yang turun dari atas dinding ke bawah. Suara gemericik air, pencahayaan yang remang-remang, serta alunan ayat-ayat al-quran yang diperdengarkan membuat diri saya merinding. Takut. Mungkin Situasi dan Kondisi yang diilustrasikan di dalam lorong tersebut adalah situasi dan kondisi yang dialami para korban ketika bencana Tsunami terjadi. Tentunya dengan tingkat ketakutan yang jauh lebih tinggi.

Setelah melewati lorong, saya memasuki sebuah ruangan yang berisi cukup banyak monitor yang menampilkan foto-foto korban dan lokasi bencana Tsunami dalam bentuk slide. Rungan tersebut diberi nama  Ruang Kenangan (Memorial Hall).

Ruang selanjutnya yang saya masuki adalah Ruang Sumur Doa (Chamber of Blessing), yaitu ruangan berbetuk silinder dengan cahaya remang-reman dan dinding bertuliskan ribuan nama para korban tsunami. Alunan ayat Al-quran senantiasa terdengar di dalamnya. Ruangan ini diibaratkan sebagai kuburan massal para korban. Pengunjung diharapkan memanjatkan doa untuk para korban. Di ujung cerobong, terdapat tulisan kaligrafi Allah. Sebuah gambaran filosifi bahwa setiap manusia akan kembali kepada penciptanya.

Keluar dari Ruang Sumur Doa, saya melewati sebuah Lorong Cerobong (Romp Cerobong) yang desain yang berkelok-kelok dan tidak rata sehingga saya sempat merasakan pusing.

Lorong Cerobong ini akan berujung pada sebuah jembatan yang disebut Jembatan Harapan (Space of Hope). Melalui jembatan ini, saya bisa melihat  bendera dan batu-batu berbentuk bulat bertuliskan nama negara yang ikut membantu Aceh setelah bencana Tsunami.

Sebenarnya, tak jauh dari Museum Tsunami, terdapat sebuah tempat yang mengingatkan saya akan cerita ketegasan Sultan Iskandar Muda  dalam menegakkah syariat Islam. tempat itu adalah komplek pemakaman yang dikenal dengan Kerkhof Peutjoet. Di dalamnya terdapat makam Meurah Pupok, anak dari Sultan Iskandar Muda. Meurah Pupok dihukum mati oleh sang Ayah karena kedapatan berzina dengan istri perwira kerajaan.

Kerkhof Peutjoet (sumber)

“Gadoh aneuk meupat jrat, Gadoh hukom ngon adat pat tamita?”

Begitulah kalimat yang diucapkan oleh Sultan Iskandar Muda ketika menjatuhi hukuman kepada sang anak. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna, “Gilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita mencarinya?”

Karena ketidaktahuan akan informasi mengenai lokasi komplek pemakaman tersebut, kami tadi tidak sempat melihatnya dari dekat.

Kapal Apung PLTD

Dari Museum Tsunami, kami berangkat menuju lokasi PLTD Apung 1. PLTD Apung 1 merupakan kapal generator listrik milik PLN di Banda Aceh. Lokasi di mana PLTD Apung 1 kini berada memberikan gambaran mengenai betapa dahsyatnya bencana Tsunami yang melanda Aceh. Bayangkan, kapal dengan bobot seberat 2.600 ton yang semula berada di laut bisa terseret ke daratan sejauh lima kilo meter. Kapal ini menabrak dua buah rumah ketika terseret je darat dan menewaskan semua penghuninya. Kini, lokasi PLTD Apung 1 menjadi lokasi wisata yang banyak dikunjungi. Saya salah satunya.

Di areal PLTD Apung 1 terdapat pula sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang para korban Tsunami yang tinggal di sekitar lokasi. Di setiap sisi monumen tertulis nama-nama para korban. Sementara di atasnya terdapat replika kapal yang tergulung oleh ombak yang luar biasa dahsyatnya. Di antara kapal dan gulungan ombak terdapat replika jam yang menjelaskan waktu terjadinya bencana Tsunami, yaitu Minggu, 26 Desember 2004 Pukul 07 : 55. Monumen Tsunami tersebut di keliling bangunan seperti dinding dengan ornamen gelombang laut dan gambaran peristiwa yang terjadi saat Tsunami melanda.

Masjid Raya Baiturrahman

Tujuan kami selanjutnya adalah Masjid Raya Baiturrahman sekaligus untuk melaksanakan shalat. Masjid Baiturrahman ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Seorang sultan yang berhasil membawa kesultanan Aceh pada masa kejayaan dan kemakmurannya. Masjid ini mulanya hanya memiliki satu kubah. Pada saat agresi Belanda di tahun 1873, masjid ini dibakar, lalu dibangun kembali pada 1881. Pada 1935 masjid dipugar dengan menambah dua kubah. Di tahun 1979 masjid ini dipugar kembali dengan menambah dua kubah dan dua menara di utara dan selatannya.

Pada tahun 1991 M, dimasa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas, meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan. perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama didepan Masjid.

Arsitektur masjid ini sangat indah. Terdapat sebuah kolam besar di halaman depannya. Ketika banyak bangunan di sekitarnya hancur diterjang Tsunami, masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini tetap kokoh bediri. Masjid ini menjadi tempat berlindung bagi masyarakat kala itu.

Tak hanya terlihat megah dan indah di luar, kondisi di dalam masjid pun demikian.

Selepas melaksanakan shalat, saya melihat banyak kelompok anak-anak yang sedang belajar, tersebar di beberapa sudut masjid.

Mi Kocok Si Doel

Keluar dari masjid, perut kami mulai berteriak minta diisi. Kami kemudian berjalan menuju sebuah tempat makan yang berlokasi di Jl. Diponegoro. Tak jauh letaknya dari Masjid Raya Baiturrahman. Tempat tersebut adalah Mie Kocok Si Doel. Harganya terjangkau dan rasanya mantap.

12 September 2012

Mie Aceh

Saya dan teman-teman keluarkeluar dari hotel di malam hari untuk makan malam. Rumah makan yang kami tuju adalah rumah makan yang menyediakan menu Mi Aceh. Kami mendapatkan rekomendasi lokasi rumah makan yang cukup terkenal karena kemantapan rasa menu yang disajikannya meksipun letaknya cukup jauh dari keramaian.

Di lokasi, hanya ada bangunan warung tersebut. Tak ada lagi warung di sebelah kiri, kanan, atau di seberangnya. Lokasinya di pinggir jalan raya yang menghubungkan Banda Aceh dengan Meulaboh. Namun warung tersebut cukup terkenal dan banyak dikunjungi orang. Maka ke sanalah kami menuju.

mi aceh - siap santap
mi aceh – siap santap

 

13 September 2012

Di hari terakhir di Banda Aceh, kami habiskan dengan kembali berkeliling ke beberapa tempat.

Kapal di Atas Rumah Lampulo

Selain membawa kapal PLTD Apung 1 ke daratan, kedahsyatan Tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 juga menyeret kapal lain yang ukurannya jauh lebih kecil ke daratan untuk kemudian ‘menetap’ di atap salah satu rumah penduduk  di kawasan Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam.

Kondisi saat saya mengunjungi lokasi kapal di atas rumah tersebut sudah disangga dengan besi untuk menahan bobot kapal agar tidak jatuh ke bawah.Di bawah kapal terdapat monumen “Situs Tsunami Kapal di Atas Rumah” serta informasi berupa artikel dan foto mengenai kapal tersebut.

Di samping lokasi, terdapat sebuah kios yang menjual berbagai macam cindera mata khas Aceh seperti kaos, baju batik, dan asessoris lainnya. Pemilik kios tersebut merupakan salah satu korban Tsunami yang selamat. Dari pemilik kios tersebut kami sempat mendengarkan pengalamannya yang sangat mengerikan ketika bencana terjadi. Gelombang laut datang menerjang daerah di mana beliau tinggal. Dan gelombang itu tak datang hanya sekali. Sungguh, saya tidak bisa membayangkan apa yang saat itu terjadi.

Makam Syiah Kuala

makam syiah kuala
makam syiah kuala

Lokasi selajutnya yang kami datangi adalah makam Syiah Kuala. Lokasi Makam Syiah Kuala tidak begitu jauh jaraknya dari pusat kota, di kawasan Kreung Aceh.

Makam Syiah Kuala ini adalah tempat dimakamkannya salah satu ulama besar di Banda Aceh. Nama asli Syiah Kuala adalah Syeikh Abdur Rauf bin Ali Alfansuri. Beliau berjasa dalam penyebaran dan dakwah Islam di Aceh pada tahun 1591. Beliau wafat di usia 105 tahun.

Dengan sebab sangat dikaguminya pribadi ulama besar ini, nama beliau digunakan sebagai nama salah satu perguruan tinggi di Kota Banda Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Pelabuhan Feri Ulee Lheue

Perjalanan berikutnya membawa kami tiba di Pelabuhan Feri Ulee Lheue. Kami tidak masuk ke dalam. Kami hanya melihat-lihat dan berhenti sejenak di depan pintu masuk pelabuhan. Ada pemandangan berupa laut luas bisa dinikmati dari lokasi tersebut.

Rumah Cut Nyak Dien

Lokasi berikut yang kami datangi adalah situs sejarah berupa Rumah Cut Nyak Dien. Rumah tersebut terletak di lokasi asli tempat tinggal Cut Nyak Dhien semasa hidupnya. Namun bangunan yang berdiri sekarang bukanlah asli. Hanya berupa replika saja. Sebab rumah aslinya telah dibakar oleh Belanda pada tahun 1896. Situs sejarah ini terletak di Jalan Cut Nyak Dhien, desa Lampisang, kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Datang ke tempat ini, kami di sambut oleh seorang ibu yang menjadi pemandu berkeliling ke seluruh ruangan di dalam rumah. Beberapa foto bersejarah terpajang di dinding rumah. Ada pula kamar yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai kamar Cut Nyak Dien. Di ruangan lain, saya bisa melihat koleksi senjata tradisional seperti pedang dan rencong.

Bagian bangunan yang paling menarik adalah sumur. Sumur tersebut ditinggikan sehingga hanya bisa mengambil air dari lantai atas rumah. Peninggian lubang sumur tersebut, menurut pemandu, bertujuan agar pihak Belanda tidak bisa meracuni air sumur tersebut.

Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk adalah tujuan terakhir perjalanan kami hari itu. Pantai ini berlokasi di wilayah barat Aceh. Pasir putih yang bersih dan lembut, air laut berwarna biru kehijauan, serta deburan ombak yang bersahabat, adalah pemandangan indah yang bisa dinikmati dari pantai. Suasana bertambah asyik ketika kami ditemani kelapa muda yang begitu segar.

Sop Sumsum Kutaraja

Perjalan kami di hari itu diakhiri dengan menyantap Sop Sumsum Kutaraja yang menggugah selera. Lokasi warung makan ini terletak di Luengbata (Simpang Surabaya), Banda Aceh.

referensi :
Museum Tsunami Aceh Merupakan Lokasi Wisata
Masjid Raya Baiturrahman, Kebanggaan Aceh yang Melintas Sejarah
Tragedi Sultan Iskandar Muda Menghukum Pancung Putra Mahkota

 


Tulisan Terkait Lainnya :